30.1 C
Jakarta
Minggu, April 11, 2021

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Pertama)

Empat Pemahaman Sepuluh Kesadaran SUFI.

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK ) – Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat ( BIMA); dan Guru Besar Paguron Olahraga Pernafasan dan Beladiri Tenaga Dalam BIMA

(Tulisan ini Terdiri dari Tujuh Bagian)

Bismillahirrahmanirrahiim

Setelah melalui perenungan-perenungan mendalam, melalui separuh abad proses kehidupan ; mengalami manis, asam, asin dan pahitnya kehidupan, saya pikir perlu menulis, terkait pemahaman hakikat kehidupan manusia, yang pada dasarnya menghendaki kebahagiaan hidup di dunia, dan bisa masuk syurga di akhirat kelak.

Tasawuf adalah jalan kesucian Rohani dan Jiwa manusia sehingga mampu mendapatkan Ridho Allah Swt., dan setiap Muslim yang menjalani Tasawuf mendapatkan predikat sebagai seorang Sufi. Definisi Tasawuf yang paling tepat tentunya akan selalu dinisbatkan kepada Hujatul Islam Imam Al-Ghazali r.a, dan beliau mendalilkan dalam kitabnya Al-Ihya Ulumudin, bahwa Tasawuf dibagi menjadi empat bagian; Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Sebagai Sufi, Imam Al-Ghazali di akhir hayatnya mendapatkan Karomah, mengetahui hari kematiannya, sehingga sebelum di cabut nyawa beliau mengumpulkan dan menasehati dulu keluarganya, dan kemudian meninggal di tempat tidurnya dengan tenang, setelah mandi bersih dan memakai wewangian terlebih dahulu, Allahu Akbar. Dan di Indonesia, perlu di ingat seorang ulama besar, Buya Hamka r.a, menulis sebuah buku yang sangat baik untuk di baca dengan judul Tasawuf Modern, dengan referensi kedua tokoh Muslim inilah, menjadi inspirasi bagi penulis untuk membuat sebuah tulisan yang lebih simple, dan mudah difahami sebagai pijakan bagi muslim yang suka akan ilmu dan jalan Tasawuf, dan tulisan ini, penulis beri judul ; KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN.

Tulisan ini, adalah barometer, prinsip menjalani hidup bagi diri penulis pribadi, agar tidak lupa diri dalam menghabiskan sisa usia, dan In Shaa Allah tulisan ini akan sangat bermanfa’at, menjadi pencerahan, bagi siapapun yang membacanya. Dan jika para pembaca merasakan manfa’at dari tulisan ini, maka sampaikanlah kepada orang lain, agar lebih besar lagi manfa’atnya.

Tentu cita-cita kehidupan yang sempurna sesuai judul tulisan di atas, sangat tidak mudah untuk di capai, dan perlu perjuangan yang tidak ringan. Saya coba elaborasi berdasarkan petunjuk dienullah (agama Allah) Islam dan ilmanillah (ilmu Allah), yang merasuk ke dalam perenungan-perenungan mendalam, dan merupakan hikmah besar manakala takdir Allah Swt., menentukan saya harus masuk jeruji besi selama tiga bulan.

Perlu di ketahui oleh para pembaca, saya kena fitnah di tuduh melanggar UU ITE, dan di tahan Jaksa, selama tiga bulan masa sidang di pengadilan. Alhamdullillah akhirnya saya mendapatkan Vonis Bebas dari Hakim. Padahal Jaksa menuntut hukuman dua tahun penjara.

Alhamdullillah saya bisa termasuk golongan Nabi Yusuf a.s yang di penjara karena fitnah, dan juga takdir menentukan hidup saya, harus mengikuti jejak senior saya di ITB, siapa lagi kalau bukan Ir. Soekarno, yang dalam perjuangan kemerdekaan NKRI keluar masuk penjara. Tentunya dengan vonis bebas dari hakim ini, saya yakini merupakan Karomah yang diberikan Allah Swt.

Perlu di ketahui keajaiban untuk para nabi yang diberikan Allah Swt., adalah Mu’zizat, sementara keajaiban bagi manusia biasa dinamakan Karomah. Di dalam Al-Qur’an Surat An-Naml, di ceritakan salah seorang manusia shaleh pengikut nabi Sulaeman a.s diberikan Karomah ilmu Laduni, manakala nabi Sulaeman a.s bertanya kepada para pengikutnya, siapa yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis secepat-cepatnya, sehingga bisa di tempatkan tepat di samping singgasananya ? kemudian orang shaleh tersebut angkat bicara bahwa dia bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis, sebelum nabi Sulaiman a.s berkedip, mengalahkan kemampuan Jin Ifrit yg bicara lebih dulu, bahwa dia mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum nabi Sulaiman berdiri. Dari hikayat inilah bisa di tarik kesimpulan, bahwa manusia biasapun bisa diberikan keajaiban oleh Allah Swt., yang dinamakan Karomah. Mu’zizat dan Karomah ibarat Emas dan Perak yang sama-sama merupakan logam mulia, hanya saja berbeda kualitas.

Alhamdullillah Karomah ini bisa terlihat dari kejadian terhadap diri saya ketika masuk tahanan tgl 18 Agustus 2020, sehari setelah hari Proklamasi Kemerdekaan NKRI, dan vonis bebasnya terjadi pada hari Jum’at, tgl 10 November 2020, yang merupakan hari pahlawan.

Bagi orang-orang beriman itu bukan kebetulan, jelas sekali keajaiban diberikan Allah Swt., kepada diri saya, hari-hari yang di berikan adalah hari-hari yang sangat baik, hal ini sebagai isyarat bahwa, saya di penjara dalam kerangka memperjuangkan Kebenaran Hakiki.

Allahu Akbar.

Melengkapi Karomah selama saya di dalam penjara, alhamdullillah seorang napi non muslim satu sel, yang bernama Nik – Warga Negara Malaysia, masuk Islam, Nik mendapat Taufik serta Hidayah Allah Swt., katanya tersentuh hatinya tatkala mendengar adzan subuh yang saya lantunkan di dalam sel, serta semakin menyentuh mendengarkan asmaul husna, yang saya lantunkan setiap setelah melaksanakan shalat subuh.

Nik kemudian meminta saya membimbing untuk masuk agama Islam, dan Nik saya bimbing untuk mengucapkan dua kalimah syahadat serta belajar shalat, setiap hari Nik ta’at beribadah melaksanakan Shalat lima waktu, menangis dan bersyukur di dalam sujud-sujudnya, bayangkan bagi saudara-saudara muslim yg bebas di luar penjara, tapi belum melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, bagaimana Allah Swt., menilainya ? di banding dengan Nik yang berada di penjara, dan dia sangat bersyukur mendapat Taufik dan Hidayah dari Allah Swt., bisa masuk Islam dan melaksanakan shalat lima waktu.

Selama di penjara kaum bromocorah satu sel, alhamdullillah sangat menghormati saya, sangat jauh berbeda perlakuannya terhadap orang-orang terhormat lainnya yang masuk penjara, mereka sangat melecehkan, dan membuat penderitaan berat bagi mereka, pantas saja banyak yang jadi sakit, mati bahkan bunuh diri di dalam penjara, karena yang biasanya hidup terhormat menjadi sangat menderita dilecehkan oleh kaum Bromocorah.

Saya lihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana pantat mereka mengentuti hidung orang yang dia tidak suka, sambil tertawa-tawa. Orang yang dilecehkan oleh bromocorah tidak bisa apa-apa, karena melawan kebiadaban mereka, tentunya akan fatal dan lebih menderita lagi.

Sementara saya sendiri sangat menyadari dengan kondisi yang ada untuk menghadapinya, berbekal ilmu pernafasan yang saya miliki, penjara menjadi sarana saya berlatih keras, dan saya anggap gua hiro bagi diri saya, untuk lebih memperdalam dienullah dan ilmanillah. Dan alhamdullillah di dalam sel saya bisa hidup ibarat bunga teratai, walau hidup di dalam comberan terlihat indah dengan bunganya yang mekar, dan harum mewangi bagi sekelilingnya, dan saya selalu mengingat hikayat Nabi Yusuf a.s bagaimana menghadapi hidup di penjara, serta saya selalu berdo’a kepada Allah Swt. agar di beri kekuatan seperti Nabi Yusuf a.s.

Alhamdullillah, di dalam sel, fisik saya sangat sehat karena latihan ilmanillah ilmu pernafasan-nya jauh lebih banyak ketimbang ketika saya hidup bebas di luar sel, dan di dalam sel saya tetap istiqamah menjalankan shaum sunah nabi Daud a.s, yaitu sehari shaum dan sehari tidak shaum yang sudah menjadi kebiasaan hidup saya. Dan teman-teman satu sel kaum bromocorahpun pada suka dengan apa-apa yang mereka lihat, dan meniru-niru gerakan latihan saya dengan canda dan tertawa. Kemudian mereka suka dengan cerita dan ceramah yang saya sampaikan, sehingga mereka sangat menghormati saya, senang berma’mum shalat berjama’ah bersama saya dan tentunya tidak ada satupun yang berani melecehkan saya.

Alhamdullillah, kejadian-kejadian selama di penjara ini saya yakini, In Shaa Allah adalah Karomah pemberian Allah Swt kepada diri saya. Tentu saja kejadian ini, tidak di kehendaki dan tidak pernah saya duga sebelumnya, akan terjadi kepada diri saya. Semua manusia tau, tidak ada kesengsaraan yang lebih pahit di dalam kehidupan, daripada di penjara, apalagi dipenjara karena fitnah bukan hukuman kejahatan murni. Namun pada akhirnya alhamdullillah tidak di duga juga, saya bisa merasakan, betapa tidak ada kebahagiaan yang melebihi apapun, ketika saya mendapatkan kembali kebebasan, dengan bisa memperlihatkan dan menunjukkan kepada semua orang akan kebenaran, dari apa-apa yang saya perjuangkan hingga saya masuk penjara. Dan di balik semua ini, yakin ada hikmah yang besar, yang merupakan Karomah dari Allah Swt. Karomah adalah tanda-tanda besar kasih sayang Allah Swt., kepada seorang hambanya, untuk lebih menguatkan iman dari seorang hamba tersebut.

Allahu Akbar

Hikmah besar dari penjara ini, menghasilkan perenungan-perenungan mendalam, dan sekarang saya sajikan dalam bentuk tulisan. Mudah2an Barakah, dan bermanfa’at sebagai pencerahan bagi kehidupan siapapun yang membacanya. Aamiin YRA.

PEMAHAMAN SUFI AKHIRUL ZAMAN YANG PERTAMA ; Kebanyakan Manusia Tertipu oleh Fatamorgana Kehidupan

Manakala seorang musafir yang kehausan dalam terik di padang pasir, di hadapannya dia melihat sebuah danau, betapa senangnya dia melihat air danau tersebut, kemudian dia berlari menghampiri, dan apa hendak di kata setelah mencapai tempat yang dia kejar, ternyata bukan danau yang dia capai, tapi persis sama seperti tempat sebelumnya, hanya padang pasir lagi, itulah tipuan fatamorgana, sejauh mata memandang yg terlihat oleh musafir tersebut adalah danau-danau, namun jika di kejar, dan di kejar lagi, maka musafir tersebut bukannya mendapatkan air, dia akan tertipu dan tertipu lagi, yang dia dapatkan adalah padang pasir dan padang pasir lagi, hingga musafir tersebut habis tenaga dan mati kehausan, akibat tertipu oleh fatamorgana.

Fatamorgana ini terjadi dalam setiap kehidupan manusia, mereka selalu mengejar dan mengejar keinginan-keinginannya, mereka selalu haus dan manakala keinginannya tercapai, manusia tidak puas dengan apa yang dia capai, dan pasti mengejar lagi sesuatu yang dia belum miliki. Sebagai gambaran, seorang pejalan kaki, ingin punya sepeda, dan ketika punya sepeda, hanya sebentar saja dia merasa bahagia, lama kelamaan dia merasa bosan dengan sepedahnya, tidak bahagia lagi karena dia melihat motor, dan dia ingin punya motor, setelah punya motor, sama halnya ketika dia punya sepeda, kembali bosan dan ingin punya mobil, dan mobil pun tidak puas pingin punya mobil bagus, setelah tercapai punya mobil bagus, berkembang lagi pingin punya helikopter. Kemudian gambaran manusia lainnya, yang cuma tinggal di rumah kontrakan, dia pasti pingin punya rumah sendiri walau sederhana, setelah tercapai memiliki rumah sederhana ingin punya rumah bagus, setelah punya rumah bagus, dia tetap tidak puas, berkeinginan mempunyai rumah mewah. Demikianlah kehidupan manusia, seribu satu keinginan yang dia ingin capai, seorang pedagang dan pebisnis ingin untung dan tidak mau rugi, seorang keturunan ningrat ingin terpuji dan tidak mau dicela, seorang olahragawan dan politisi ingin menang dan tidak mau kalah, dan semua manusia pasti ingin senang dan tidak mau susah. Coba introspeksi, apa keinginan anda sa’at ini ? semua manusia pasti punya keinginan, dan semua manusia akan terjebak dengan keinginan-keinginannya, ibarat mengejar fatamorgana.

Dalam Al-Qur’an Surat Al Hadid, ayat 20, di jelaskan : Wamal Hayatu Dunya illa Mata’ul Ghurur : Dan sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya tipu daya belaka. ( ibarat fatamorgana )

Latest news

Related news