30.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 16, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

ROTUA WENDEILYNA SIMARMATA SAMBUT POSITIF SURAT PASTORAL EPHORUS S HKBP HIMBAU TIDAK MEROKOK

Samosir, Diawal Tahun 2026, Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan MST menerbitkan Surat Pastoral yang dirasakan cukup menyentak kepada seluruh Pelayan HKBP dan keluarganya yaitu Himbauan Tidak Merokok Bagi Pelayan HKBP dan keluarganya. Penekanan yang sangat tajam tercantum pada angka 3 yang berbunyi : Belanja atau biaya hidup bagi pelayan penuh waktu yang bersumber dari persembahan umat adalah berkat Tuhan. Oleh karena itu, berkat tersebut patut digunakan untuk hal hal yang menopang dan membangun kehidupan, bukan untuk sesuatu yang nyata nyata merusak kesehatan yang sejatinya adalah karunia Tuhan

Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata Msi CMed yang biasa disapa Wendy, yang bertugas sebagai Mediator Non Hakim di beberapa Pengadilan Negeri di wilayah hukum Sumatera Utara, menyambut  positif Surat Pastoral Ephorus tersebut. Saya terdaftar sebagai jemaat HKBP Pangururan Gereja Bolon. Memang dalam kesehari harian, saya sering melihat Pendeta dan Parhalado Gereja HKBP di Distrik VII Samosir ini yang merokok. Umumnya jemaat akan sungkan untuk menegur. Pendeta Ressot atau Parhalado suatu daerah menganggap dirinya adalah sebagai Penguasa, seakan akan mempunyai hak prerogatif di gereja yang dipimpinnya, sehingga jika ada jemaat yang menyampaikan kritik akan di stigma nya sebagai jemaat yang telah melakukan dosa. Hal ini menyebabkan jemaat enggan untuk memberikan pendapatnya seperti halnya tentang bahaya merokok ini. Diciptakan kesan bahwa Pendeta tidak pernah salah. Seperti halnya ketika otonomi daerah mulai diberlakukan, muncul raja raja kecil di daerah. Istilah ada negara dalam negara. Hal semacam itu pun terjadi di lingkungan HKBP. Saya respek dengan Ephorus ini yang berani bersikap melalui Surat Pastoral ini. Apalagi mengingatkan bahwa Belanja atau biaya hidup bagi pelayan penuh waktu yang bersumber dari persembahan umat. Tentunya Pelayan HKBP pun tidak boleh bersikap arogan dan pandang enteng ke jemaat nya karena dari jemaat lah yang membiayai kehidupannya

 dr Monang Simarmata Spesialis Mata, yang tinggal di Jakarta Selatan memberikan pencerahan mengenai bahaya merokok, sebagai berikut :

Untuk buat suatu kesimpulan untung ruginya kebiasaan merokok, harus dengan data statistik, tidak per kasus, harus melibatkan sample banyak, baik national atau international. Sudah merupakan kesimpulan para ahli, bahwa kebiasaan merokok lebih banyak mudaratnya dari pada untungnya. Juga sudah pernah disurvey, bahwa persentasi orang yang terserang kanker paru, lebih tinggi persentasinya pada orang yang merokok, dibanding yang tidak merokok. Juga survey terhadap Usia Harapan Hidup (Life Expentancy Rate), orang yang merokok lebih pendek usianya dibanding yang tdk merokok. Ini hasi survey yang melibatkan sample banyak. Melibatkan ribuan sample umur 60 tahun yang diikuti sampai jangka 20 tahun. Hasilnya adalah; Kelompok A tidak merokok, sedangkan kelompok B merokok. Jumlah kelompok, sama antara A & B. Hasil survey setelah 20 tahun (sample sudah umur 80 tahun), ternyata persentasi kelompok A yang masih hidup, lebih banyak dari kelompok B yang masih hidup. Artinya kelompok B pun, ada yg sampai 80 tahun, tapi dari segi persentasi, lebih sedikit jumlahnya yang dapat hidup sampai umur 80 dibanding  kelompok A. Memang umur ada ditangan Tuhan, tapi manusia yg berencana. Man proposes God Disposes. Semoga berguna untuk menyadarkan saudaraku utk ambil keputusan terhadap penggembalaan Ephorus HKBP. Itulah fakta ilmiahnya. Horas (red)

Berita Terkait