29.8 C
Jakarta
Jumat, Januari 16, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

MENGENANG MANGGA ALBINUS SIMARMATA/VOORZITER KETUM 1 PUNGUAN SIMARMATA se INDONESIA

Samosir, Dikutip dari buku Torsa Torsa Ompu Simataraja, Tarombo Ompu Simataraja, Torsa Torsa Paradaton (Tahun 2006) karya OH Simarmata SH Ketua Umum ke 3 Pengurus Pusat Punguan Simarmata & Boruna se Indonesia, bahwa Mangga Albinus Simarmata gelar Voorziter memulai impiannya di tahun 1972 agar terbentuk Punguan marga Simarmata se Indonesia dan dibangunnya Tugu Pemersatu marga Simarmata. Dimulai dengan cara berdiskusi dengan tokoh tokoh Simarmata di Jakarta dan juga mengirimkan surat antara lain kepada St T Kusman Simarmata, yang waktu itu sebagai Ketua Pelaksana Punguan Simarmata & Boruna di Kota Medan dan sekitarnya (Periode 1972-1973). Punguan Simarmata ini sudah ada sejak tahun 1961

Pada Minggu 28/1/1973 bertempat di Jl Purwo No 6 Medan diresmikanlah Punguan Simarmata & Boruna se Indonesia merangkap Panitia Pembangunan Tugu Ompu Simataraja, sebagai Ketua Umum adalah Mangga Albinus Simarmata gelar Voorziter

Pada tahun 1972-1975, bapak saya OH Simarmata SH bertugas sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan, kami tinggal di Jl Sei Babalan Medan. Opung saya itu perawakannya kecil, kurus, kulitnya gelap, pendiam, tinggalnya di Binjai. Kalau datang kerumah, duduk mencatat catat. Begitu juga waktu bapak saya tugas sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli (1975-1981), jika datang ke rumah, opung Voorziter itu jarang bicara ke kami cucu cucunya, yang terekam di memori saya hanyalah beliau selalu mencatat. Tidak tahu apa yang dicatatnya. Jika sudah selesai mencatat, opung akan berbicara dengan bapak saya, lalu pulang. Barulah sekarang saya paham, apa yang dicatat opung saya itu setiap kali datang ke rumah. Ternyata sebagai Ketua Umum Pertama Punguan Simarmata & Boruna se Indonesia (1973-1986) merangkap Ketua Panitia Pembangunan Tugu Pemersatu Marga Simarmata, banyak hal yang harus diurusnya sehingga harus dicatat baru didiskusikannya

Walaupun tidak berpendidikan tinggi, hanya sebatas bisa membaca dan menulis, karena lahir dari keluarga yang hidup miskin di Alngit Kenegerian Lumban Suhi suhi, tidaklah membuat opung Voorziter kecil hati. Impian besarnya agar ada Punguan Simarmata se Indonesia telah terwujud. Harapannya agar ada Tugu pemersatu marga Simarmata, kini sudah ada di Desa Simarmata Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, ungkap Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi, CMed yang biasa disapa Wendy

Tak ada warisan tanah dari opung Voorzitter di kampung Alngit ini, hanya ada 4 sawah yang merupakan warisan dari Opung Badoat Simarmata (kakeknya Opung Voorziter), namun opung Voorziter mewariskan jiwa kepemimpinan dan senang berorganisasi ke kami kami keturunannya. Dan yang terutama kami harus menempuh pendidikan tinggi. Untuk menyelesaikan pendidikan bapak saya di Fakultas Hukum USU, opung Voorziter rela berkorban dengan menjual rumahnya yang ada di Lumban Bona Bona Alngit kepada tulangnya marga Sihotang di Janji Marapot.

Cucu cucu Opung Voorziter berjumlah 17 orang. Ada 3 yang bergelar Doktor (S3) ada 2 yang bergelar Master (S2), anak perempuan namboru saya Mora Sitohang, dokter super specialis syaraf otak. Bahkan ponakan saya pahompu panggoaran Ir Reiner Parlindungan Simarmata MSc, lulusan S2 dari Belanda dan kini tinggal di Belanda. Ponakan saya yang lain, Samuel Simarmata SH LLM lulusan S2 dari Inggris. Rupanya inilah dampak dari punya kakek yang suka menulis mencatat, sedikit berbicara, namun menggunakan daya pikir secara optimal, telah menurunkan generasi berikutnya yang juga memaksimalkan otaknya. Saya bangga menjadi cucu Ketua Umum Pertama Punguan Simarmata se Indonesia dan juga yang menjadi pemakasa pembangunan Tugu Pemesatu marga Simarmata dan sudah terbangun Tugu Simarmata di Desa Simarmata. Saya berharap pada Musyawarah Besar Punguan Simarmata yang akan dilaksanakan pertengahan tahun ini agar terpilih Ketua Umum punguan Simarmata yang juga visioner seperti opung saya Voorziter, mampu mempersatukan semua keturunan Simarmata se Indonesia, mampu berkarya untuk sesama, demikian Wendy mengakhiri percakapan ini (red)

Berita Terkait