26.7 C
Jakarta
Rabu, Februari 11, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Dari Mitos ke Pemaknaan Baru, Film Pendek Bau Nyale Perkuat Storytelling Pariwisata NTB

Warta.in
Mataram,NTB – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menghadiri acara Bau Nyale Short Movie Screening yang digelar di Kuta Mandalika, Jumat (6/2) malam. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Bau Nyale 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dekranasda mengapresiasi film pendek yang dinilainya mampu menghadirkan perspektif baru mengenai Legenda Putri Mandalika.

“Yang saya tahu kan sekilasan seprti yang disampaikan mitos-mitos itu, bahwa (Putri Mandalika, red) loncat dan bertransformasi menjadi nyale. Jadi banyak pembelajaran, terima kasih sekali”, ujar Sinta.

Ia menilai film pendek tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman sejarah dan budaya lokal, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam legenda Bau Nyale.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, menyampaikan apresiasi kepada para sineas muda dan budayawan yang terlibat dalam produksi film tersebut.

“Dan tentu dengan adanya film ini pengetahuan kita, wawasan kita semakin lebih mendalam kepala ada yang terjadi, yang terdahulu, yang telah memberikan banyak kebajikan. Banyak cerita baik yang tentunya akan menjadi modal untuk generasi penerus mendatang”, ungkapnya.

Menurut Aulia, film pendek ini juga berpotensi menjadi materi storytelling yang kuat untuk memperkaya narasi pariwisata, khususnya di kawasan Mandalika, sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan.

Salah satu narasumber film, Lalu Agus Faturrahman, menjelaskan bahwa Legenda Bau Nyale sejatinya menggambarkan kecantikan, kebijaksanaan, dan kecerdasan berpikir Putri Mandalika. Ia menegaskan bahwa dalam versi sejarah yang ia pahami, Sang Putri tidak menceburkan diri ke laut, melainkan menghilang setelah menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan, termasuk pengetahuan astronomi dan keagrariaan, kepada para pangeran yang melamarnya.

“Kemunculan narasi Mandalika menjelma menjadi nyale diduga kuat merupakan hasil konstruksi sastra modern, yang mulai berkembang sekitar tahun 1983, ketika kisah Mandalika pertama kali diangkat sebagai event pariwisata. Pada masa itu, seorang seniman di NTB menciptakan interpretasi baru dari cerita yang hidup di masyarakat. Untuk memperkuat aspek dramatik dalam pertunjukan, khususnya dalam bentuk teater kolosal, dimunculkan adegan Mandalika menceburkan diri ke laut”, jelasnya.

Film pendek ini menyampaikan pesan moral tentang kebijaksanaan seorang pemimpin perempuan yang memilih jalan kelembutan, kearifan, dan pengorbanan dalam menyelesaikan konflik. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus diwariskan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda di masa depan.
(sr/dkintb)

Berita Terkait