Pemerintah,Tuban||warta.in — Di Bancar, suara mesin pencucian pasir tak pernah benar-benar berhenti. Ia meraung siang dan malam, seperti tak mengenal hukum waktu.(11/2/26)
Namun yang lebih menggetarkan dari deru itu adalah kabar bahwa sorotan publik dianggap ancaman.
Jika sebuah usaha berdiri di atas izin yang sah, mengapa cahaya pemberitaan terasa menyilaukan?
Nama Santoso dan Aseng beredar dalam percakapan warga sebagai pihak yang dikaitkan dengan aktivitas tersebut. Tidak ada penjelasan terbuka yang benar-benar meredakan tanya. Yang ada justru ruang hening—dan dalam keheningan itulah kecurigaan tumbuh liar.

Isu paling keras yang mengemuka adalah adanya resistensi terhadap peliputan. Jika benar ada upaya membatasi informasi, ini bukan lagi soal tambang. Ini soal keberanian menghadapi transparansi.
Tambang bukan aktivitas samar.
Ia berisik.
Ia meninggalkan jejak.
Ia mengubah bentang alam.
Maka ketika media datang dengan pertanyaan, respons yang seharusnya muncul adalah data dan dokumen—bukan alergi terhadap sorotan.
Publik kini menembakkan pertanyaan yang tak lagi halus:
Apakah seluruh izin operasional telah dipenuhi?
Apakah analisis dampak lingkungan berjalan sesuai ketentuan?
Apakah kewajiban pajak dan retribusi dipenuhi?
Mengapa klarifikasi resmi belum menjawab keresahan warga?
Dalam negara hukum, usaha yang bersih tak pernah takut diperiksa. Justru pemeriksaan adalah cara paling cepat membungkam fitnah.
Namun ketika klarifikasi tak kunjung tegas, ketika transparansi tak segera dibuka, publik menilai ada yang sedang dipertahankan—entah reputasi, entah kepentingan.
Yang pasti, satu pelajaran keras tak bisa dihindari:
di era keterbukaan, membungkam informasi tidak pernah menyelesaikan persoalan. Ia hanya mengubah bisik-bisik menjadi ledakan pertanyaan.
Bancar hari ini bukan sekadar tentang pasir yang dicuci.
Ia tentang seberapa kuat hukum berdiri ketika diuji sorotan.
Karena semakin lama publik dibiarkan tanpa jawaban, semakin tajam kecurigaan mengeras. Dan ketika kepercayaan retak, yang runtuh bukan hanya nama—tetapi wibawa.(bersambung)





























