Samosir, Sekalipun kami telah tinggal di perantauan dan tidak ada keturunan Opung Tongam Sitanggang Silo yang tinggal permanen Huta Lumban Silo, namun dengan masih adanya rumah batak peninggalan opung Tongam Sitanggang Silo yang berdiri kokoh di tengah tengah huta memperlihatkan bukti nyata bahwa ada pemilik Huta Lumban Silo.
Pada 16 Juni 1990, kami keturunan Opung Tongam Sitanggang Silo melaksanakan upacara adat tertinggi bagi suku Batak Samosir yaitu ulaon MANGOKAL HOLI PANAKOK SARING SARING OPUNG TONGAM SITANGGANG SILO, OPUNG BORU SIHOTANG SORGANIMUSU, OPUNG SINDAK SITANGGANG SILO, OPUNG BORU NAINGGOLAN
Acara berlangsung selama hampir seminggu dan memotong kerbau. Kami masih menyimpan catatan kehadiran Bonaniari kami yaitu marga Naibaho Siagian pinompar opung Galege yang menuliskan membawa beras. Juga dihadiri oleh Parbonaan kami yaitu marga Sihotang Sorganimusu pinompar Opung Apamunjung tercatat membawa 46 ulos
Acara Mangokal Holi Panakok Saring Saring Opung Tongam Sitanggang Silo ini dihadiri langsung oleh pihak tulangnya marga Naibaho Siagian yang datang membawa beras dan juga membawa ulos dan pihak mertuanya marga Sihotang Sorganimusu yang datang membawa ulos.
Tambak / tugu yang kami bangun berada di Gumba (sekarang masuk Desa Parsaoran 1) terletak diatas tanah peninggalan Opung Tongam Sitanggang. Masih ada lagi di beberapa tempat tanah peninggalan Opung Tongam Sitanggang tersebut, namun kami memilih di Gumba karena posisinya di tepi jalan raya Simanindo sehingga akan memudahkan keturunannya untuk berjiarah di waktu yang akan datang, ujar Sudung Sitanggang yang didampingi Jonny Sitanggang, Darwin Sitanggang yang merupakan keturunan langsung dari Opung Tongam Sitanggang
Dari penelusuran saya tentang acara Mangokal Holi, dikemukakan bahwa Menggali tulang-belulang atau mengangkat tulang-belulang orang yang meninggal setelah puluhan tahun dalam masyarakat Batak adalah upacara yang sakral. Kegiatan ini adalah salah satu upacara adat tertinggi dan paling sakral yang melambangkan penghormatan, silsilah, dan status sosial sebuah keluarga. Masyarakat Batak percaya bahwa dengan menempatkan tulang belulang di tempat yang lebih tinggi dan bersih, arwah leluhur akan menjadi Simotung (penjaga) yang memberikan berkah bagi keturunannya yang masih hidup. Upacara menggali tulang- belulang ini harus dihadiri oleh teman semarga (dongan tubu), pihak pemberi istri (hula-hula) dan pihak penerima istri (boru) yang disebut dengan Dalihan Na Tolu. Di saat menggali kuburan harus ada perwakilan dari masing-masing unsur tersebut.
Pihak pemberi istri (hula-hula) berperan sebagai penampung tulang-belulang (panampin). Mereka harus mempersiapkan sehelai ulos Batak sebagai tempat tulang-belulang. Setelah diangkat, tulang-belulang lalu dibersihkan dan dimasukkan ke dalam peti kecil.
Pengangkatan tulang-belulang ini dilakukan untuk memindahkannya ke tugu yang sudah dipersiapkan, menggabungkannya dengan saudara, orang tua, kakek nenek, bahkan buyutnya yang satu keturunan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan kembali keluarga yang selama ini terpisah makamnya.
-
-
- Pengangkatan tulang-belulang diadakan dengan mengadakan pesta besar dan memotong kerbau disertai dengan gendang (ogung sabangunan). Lamanya acara sangat tergantung kepada keadaan penyelenggara acara (hasuhuton). Biasanya, pengangkatan tulang- belulang dilakukan bersamaan dengan memestakan tugu yang baru.
Pesta mengangkat tulang-belulang dalam masyarakat Batak merupakan marwah bagi keturunannya. Pesta ini merupakan acara besar yang menggambarkan bahwa keturunannya dapat bekerja sama, satu hati, keluarga yang mampu, dan orang yang menghormati leluhurnya (red)




- Pengangkatan tulang-belulang diadakan dengan mengadakan pesta besar dan memotong kerbau disertai dengan gendang (ogung sabangunan). Lamanya acara sangat tergantung kepada keadaan penyelenggara acara (hasuhuton). Biasanya, pengangkatan tulang- belulang dilakukan bersamaan dengan memestakan tugu yang baru.
-































