25 C
Jakarta
Selasa, Oktober 19, 2021

Aktivis 98 Ingatkan Presiden Jokowi, Tuntaskan Amanah Reformasi

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus menjalankan reformasi seperti menghilangkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), menolak perpanjangan jabatan presiden, pemilu tetap dilaksanakan 2024, menyelesaikan masalah agraria dan agenda reformasi lainnya.

Demikian dikatakan Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda dalam pertemuan aktivis 98 di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat (17/9).

“Jokowi harus menangkap dan mengadili obligor BLBI, mengganti menteri tidak bekerja serius dan tidak peka pada kondisi rakyat sedang susah karena pandemi” ungkap Anto.

Aktivis 98 dari Bandung Rudi Suhendra menilai Jokowi memiliki kepemimpinan yang baik tetapi tidak didukung anggota kabinet mumpuni, harus mengganti menteri menteri yang merupakan kepanjangtanganan oligarki orde baru.

“Anggota kabinet seperti Erick Thohir mempunyai geng tersendiri, adanya impor merugikan rakyat kecil, birokrasi ngaco,” ungkap pria yang akrab dipanggil Bihom.

Sedangkan Sekjen PPJNA 98 Abdul Salam Nur Ahmad mengatakan, pertemuan aktivis 98 merupakan refleksi reformasi dan mengingatkan Jokowi dalam menjalankan amanah reformasi.

“Kabinet Jokowi harus memperjuangkan kepentingan rakyat, program program pro rakyat kecil, diantaranya menyelesaikan persoalan tenaga kerja,” jelas Abdul Salam.

Ia juga merasa heran, di pemerintahan Jokowi nepotisme dianggap sesuatu yang biasa.

“Nepotisme dianggap biasa. Di semua partai ada budaya nepotisme. Padahal menghilangkan nepotisme merupakan amanat reformasi,” ungkapnya.

Tokoh aktivis pergerakan Jakarta Bob mengatakan “Saya yakin Jokowi masih komitmen akan perjuangan reformasi dan pro rakyat kecil. Kita sebagai pelaku sejarah reformasi harus terus mengingatkannya jangan sampai lupa, ungkapnya.

Aktivis 98 Bandung Priston Sagala mengatakan, pemerintahan Jokowi belum menjalankan amanat reformasi.

“Tuntutan reformasi tidak berjalan. Potret pemerintah Jokowi seperti di bawah bayang-bayang Orde Baru. jokowi kayak tersandera. Ada pemilik modal di tubuh Jokowi. Di atas Jokowi ada yang lebih kuat,” papar Priston.

Priston menilai Revolusi Mental, Nawa Cita hanya lauk Pauk retorika pemerintahan Jokowi.

“Rakyat di bawah masih kesulitan menerima pelayanan kesehatan, dalam kondisi sulit ekonomi, sampai susah makan ” pungkasnya.

Pertemuan aktivis 98 di Tugu Proklamasi Jakarta sebagai penyatuan spirit perjuangan para pahlawan pendiri bangsa dan spirit perjuangan reformasi, akan dilanjutkan di Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. Para aktivis 98 berencana akan bertemu dengan Presiden Jokowi setelah pertemuan di Bogor. (SN/Redaksi).

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img