32.3 C
Jakarta
Minggu, April 19, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*Bertautnya Nilai intelektualitas dan Spiritualitas*

*Bertautnya Nilai intelektualitas dan Spiritualitas Dalam Dialog Refli Harun Bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu*

Warta.in, – Ulasan Refli Harun tentang “Kitab MA HA IS MA YA” yang disampaikan Sri Eko Sriyanto Galgendu dalam bentuk do’a dan syair bahasa Bhumi memiliki apresiasi yang luar biasa dalam konteks memahami lantunan do’a yang penuh nuansa spiritual dari sudut pandang intelektual. Sehingga kedekatannya relatif bisa lebih mendekat — merapat — antara oleh bathin dan olah pikir yang perlu dan patut dihayati, dimengerti dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, agar intelektualitas tidak mengabaikan spiritualitas yang mampu membimbing setiap manusia tegak lurus dan tegar berpegang pada etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai pengemban amanah Illahi Rabbi, sehingga manusia tetap utuh dan tangguh menjadi khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi.

Tercerainya intelektual dari spiritual sebagai potensi yang bersifat ilahiah bagi manusia, telah menimbulkan kesesatan dalam dunia yang terang, sehingga perbuatan buruk — yang diperbudak oleh nafsu serakah, tamak dan rakus telah mengakibatkan kerusakan di bumi, tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga non-fisik. Hukum sebagai bagian dari percikan spiritual sudah lebih parah nilainya hingga bisa diperjual-belikan seperti barang di pasar loak. Karena itu, atas dasar kesadaran dan kemauan serta kemampuan yang luar biasa, Refli Harun mau dan mampu memasuki wilayah spiritual dengan baik dan sungguh sangat mengagumkan sebagai seorang pengamat dan ahli politik tata negara serta aktivis yang berbasis intelektual memberi perhatian yang sangat luar biasa terhadap nilai-nilai spiritual yang patut untuk dimiliki oleh semua orang agar dapat menjaga dan merawat etika, moral dan akhlak mulia kemanusiaan sebagai anugrah Tuhan.

Pendekatan Refli Harun dengan lebih banyak mengajukan pertanyaan terhadap Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara jejas menunjukkan sikap ugahari sekaligus membuktikan bahwa muatan nilai-nilai spiritual untuk dapat menata kehidupan yang lebih baik, jelas telah mendapat tempat dalam kancah politik dan ketatanegaraan yang selama ini disuntuki oleh kaum intelektual dan akademisi kampus.

Setidaknya dengan terbukanya sekat wayah spiritual dengan sekat intelektual melalui podcast yang dikelola Refli Harun, bisa semakin memaksimalkan wilayah pergerakan kebangkitan serta kesadaran dan pemahaman spiritual yang sangat penting untuk menjadi semacam terapi psikologis bagi para tokoh, pejabat publik utamanya untuk para pengambil kebijakan dan keputusan di republik ini guna melempangkan jalan luruh dari arah dan tujuan bangsa dan negara mewujudkan kemerdekaan dalam arti luas — lahir dan bathin — yang adil dan sejahtera.

Apresiasi Refli Harun terhadap keberadaan penggagas, penggerak sekaligus pelaku spiritual di Indonesia seperti sosok Sri Eko Sriyanto Galgendu — yang sudah nyaris 30 tahun menggulati spiritual sejal awal berkiprah bersama Gus Dur dan Sri Susuhunan Paku Buwono XII melalui GMRi (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) menandai langkah baru yang sungguh sangat menggembirakan untuk memposisikan kecerdasan spiritual dapat membimbing dengan baik dari kecerdasan intelektual yang selama manusia yang selama ini membuat keblinger, lantaran abai pada nilai-nilai spiritual yang dianggap sakral, yaitu etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Jadi jelas, hasil podcast Refli Harun dengan menampilkan percikan pandangan serta pendapat Sri Eko Sriyanto Galgendu merupakan fenomena baru yang menandai terpautnya intelektualitas dengan spiritualitas bagi manusia yang selama ini terabaikan. (TIM HD/Red)

(Banten, 19 April 2026. Jacob Ereste)

Berita Terkait