URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img
30.4 C
Jakarta
Selasa, Juni 28, 2022

URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dedi Hasba: Tolak Calon Pemimipin Kota Sukabumi Berfaham Radikal dan Pendukung Oligarki

Sukabumi, warta.in || Pemilu kepala daerah serentak dilaksanakan 2024, atau hanya tinggal 24 bulan. Memasuki era masa kepemimpinan baru sebagain besar warga masyarakat Kota Sukabumi menginginkan wajah baru untuk membangun masa depan Kota Sukabumi. Kota Sukabumi membutuhkan udara segar setelah dua periode masa kekuasaan rezim yang ada.

Pemerhati Sosial Politik Sukabumi Dedi Hasba

Hai tersebut diungkapkan salah seorang pemerhati sosial politik asal Sukabumi Dedi Hasba saat dimintai komentar Warta In di kediamanya Jalan Pemuda Citamiang Sukabumi, Rabu 18/05/2022.

Menurutnya, Dua periode kebelakang adalh cermin yang terlihat jelas oleh warga Kota Sukabumi.

“Berbagai sepak terjang yang dilakukan rezim selama ini, tentu masyarakat lebih merasakan baik buruknya. Hal lumrah Tentu masyarakat mendambakan figur baru yang lebih baik. Persoalanya tentu menjadi PR besar bagi partai politik yang menjadi pengusung di mesin demokrasi saat ini,” ujar Dedi.

Ketika diminta komentar terkait figur ideal bakal calon walikota mendatang, Dedi berpendapat masyarakat hari ini boleh dibilang sudah “cerdas.” Namun perlu dibangun kesadaran pemikirannya untuk tidak memilih calon pemimpin yang berapiliasi terhadap faham pemikiran radikalisme dan intoleran serta mendukung oligarki.

“Kita perluas pemahaman radikalisme dan intoleran seperti penataan pedagang dan PKL, penataan tata kota yang tidak menyatu dengan konsep alam berdampak bencana longsor dan banjir,” katanya.

Terkait faham oligarki, Dedi mengungkapkan memenitingkan segelintir kelompok yang berkuasa atau pemodal besar dan mengorbankan kelompok besar bermodal kecil ini juga terjadi di kota Sukabumi.

“Apa pembangunan konsep BOT Pasar Pelita bukan praktek oligarki? Tujuh tahun masa pembangunan Pasar Pelita dan saat ini sudah selesai, kiosnya tidak dihuni oleh pedagang yang tergusur sebelumnya. Persoalanya ketidak mampuan membeli kios yang terlapau mahal dan dipertahankan untuk harga mahal itulah salah satu bentuk praktek oligarki ,” ungkapnya.

Hingga saat ini belum muncul kandidat kuat bakal calon Walikota Sukabumi mendatang. Beberapa parati politik peserta pemilu yang berkuasa di Gedung DPRD Kota Sukabumi nampaknya mengalami krisis figur. Namun begitu, nampak pula kader partai yang memiliki hasrat namun terkesan masih malu malu kucing.

Kondisi ini tentu saja menguntungkan penguasa daerah saat ini. Dengan segala kelemahan dan kegagalan Walikota Sukabumi Achmad Fahmi selama ini nampaknya bukan lagi persoalan besar bagi gerbongnya.

Mendapat angin segar akibat terjadinya krisis figur di sejumlah partai, membuat Fahmi usungan PKS ini semakin genit melirik beberapa pejabat eselon dua untuk mendampinginya di periode mendatang.
Beberapa nama muncul kepermukaan diantaranya Sekda Kota Sukabumi Dida Sembada dan Asda 2 Bidang Pemerintahan Beny Haeranai yang juga sebaga PLT Asda 1.

Sementara Wakil Walikota Sukabumi saat ini Andri Setiawan Hamami yang diusung Partai Demokrat masih belum bersikap. Bahkan selama mendamping Fahmi, Andri cenderung apatis benar adanya bak ban serep belaka. ( Red )

Warta Baru
Warta Terkait