31.3 C
Jakarta
Selasa, April 13, 2021

Emil, Terbitkan Buku Ranting Yang Menolak Patah

Warta.in, Gowa – Akbar. G atau yang lebih akrab di sapa Emil, Founder Taman Baca Nurul Jihad Parangbebbu Desa Tabbinjai, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan kembali menerbitkan buku barunya yang berjudul “Ranting Yang Menolak Patah”. Kamis (25/03/2021)

Emil mengaku bahwa judul tersebut diambil untuk mengingatkan kepada semua orang bahwa hidup adalah perjuangan, pengorbanan, dan konsekuensi. Buku terbitan Guepedia ini dikerjakannya dalam kurun waktu 2 bulan yakni Januari sampai dengan Februari 2021.

“Buku ini awalnya adalah coretan untuk sekedar melepas penat dan mengusir rasa bosan yang kerap kali datang bertamu. Tulisan-tulisan kecil ini berisi kondisi ekonomi, sosial budaya, hukum, agama dan asmara sebagai pelengkapnya,”sebut pemuda yang hobbi bermain bola volly ini.

Menurutnya hidup ini adalah perjuangan, pengorbanan dan konsekuensi. Banyak berguguran dalam perjalanan, mati sebelum usai kisah dilengkapi. Demikian kata-kata dalam kepala, di dinding tembok kota yang angkuh, di langit yang tinggi, pada selangkangan perempuan, atau di pasar-pasar tradisional, semua berserakan dan pupus. Aku mencoba memunguti segala, menjahitnya kembali utuh, menyimpul dalam lembar-lembar kertas, membukukannya, sempurna.

“Ranting Yang Menolak Patah adalah buku kumpulan puisi dan catatan kecil yang bercerita tentang luapan dan letupan-letupan perasaan penulis perihal kondisi asmara. Tapi tak hanya sampai disitu, penulis juga menghimpun kondisi sosial ekonomi, politik, budaya, dan tentunya nuansa spiritual dihadirkan sebagai pelengkap,” tulis Emil.

Lewat antologi puisi ini, Emil mencoba menjelaskan bahwa kita adalah ranting. Dahan yang senantiasa rela membopong daun dan buah. Tiap-tiap kita adalah ranting yang patah, sementara tak segala yang patah adalah kalah. Kita adalah ranting patah, sementara tak semua yang patah ialah tak berguna. Ranting yang patah adalah keping dahan yang akan selalu memupuk tanah bila ia jatuh, menghias kamar, dan menemani manusia memasak demi tegap leher ditiap waktu.

“Karena itulah, kita yang menjadi ranting menolak untuk patah lalu tercerai berai agar selalu mengedepankan asas kebermanfaatan,” ucap dia.

Emil pun berharap dengan adanya buku ini, bisa menjadi pemantik semangat bagi pemuda lainnya untuk menulis.

“Menulis itu adalah kegiatan yang menyenangkan. Rasa sedih, gundah gulana bahkan derita yang tak tertanggungkan akan sedikit reda jika pena berbicara. Selain itu, menulis juga bisa menjadi sarana pembelajaran bagi mereka yang sukar berkata-kata dengan lisannya,” kuncinya.

Sajak-Sajak Tanpa Bait Terakhir (2020), Negeri Ngeri Para Penipu (2021), dan Ranting yang Menolak Patah (2021) merupakan catatan dari pemuda Tabbinjai ini yang telah berhasil dibukukan.

Latest news

Related news