URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img
24.9 C
Jakarta
Jumat, Oktober 7, 2022

URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Fenomena Arteria Dahlan: “Rek diedankeun wae kitu ?”

Oleh: Dr.H.Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd (Koordinator Presidium KAHMI Daerah Sukabumi)

SUKABUMI – Indonesia sangat beragam, penuh variasi, dan itulah yang membuatnya indah dan memesona. Kebhinnekaan suku, budaya, ras, dan golongan adalah kekayaan yang harus dirawat, dikembangkan, dikolaborasikan sehingga tetap terjaga dan menjadi warisan nilai tinggi untuk anak cucu di kemuadian hari. Hal ini menjadikan bangsa ini sudah seharusnya untuk belajar menerima perbedaan itu dengan sangat-sangat bijak, hati-hati dan penuh pertimbangan yang matang.

Belajar menerima perbedaan itu membutuhkan waktu cukup lama. Kemunculan sikap diskrimanatif, rasis, atau kesewanang-wenangan adalah musuh bersama dalam proses belajar tersebut. Apalagi ketika berdalih atas nama undang-undang atau aturan (regulasi), jangan sampai terjadi ada pihak yang merasa tindakannya benar, padahal penuh dengan kontroversi dan melukai pihak tertentu.

Bangsa ini memang dibangun dari keragaman seperti yang dijelaskan di atas. Sepatutmya kita perlu bersyukur, bahwa bangsa ini menjadi bangsa yang sangat mampu menerima perbedaan dan keragaman, dan lebih baik berdamai serta menahan ego kesukuan masing-masing, demi untuk menjaga keutuhan Negara ini. Para pendiri bangsa ini sudah dengan sangat bijak mengajarkan itu pada kita.

Maka sudah seharusnya jika kita menolak pemikiran, sikap, perilaku dan tindakan yang akan berpotensi mengoyak persatuan yang didasari oleh kebhinnekaan ini. Apalagi jika mengandung unsur kebencian, dugaan dan prasangka buruk terhadap keberadaan suku, agama, ras, termasuk juga bahasa. Tindakan Politisi PDI Perjuangan Arteria Dahlan (17/1/2022) yang meminta kepada Jaksa Agung untuk memberhentikan Kajati yang telah menggunakan bahasa sunda, ternyata menyisakan banyak kepedihan, keprihatinan sekaligus kegaduhan yang panjang.

Terjadilah beberapa bentuk reaksi akibat pernyataan tersebut. Telah banyak tokoh yang berkomentar dan memberikan pendapat. Dari mulai pejabat public sampai dengan masyarakat komunitas sunda itu sendiri. Gubernur Jawa Barat, M. Ridwan Kamil menghimbau agar Arteria Dahlan meminta maaf kepada seluruh warga sunda se-Nusantara. Menurutnya, pernyataan Anggota DPR RI ini sungguh berlebihan. Deddy Mulyadi, selaku tokoh Sunda yang juga Anggota DPR RI menilai bahwa selama penggunaan bahasa daerah, seperti Sunda disampaikan dalam forum rapat bias dipahami maka hal itu adalah hal yang lumrah. Tidaklah mungkin menjadikan alasan penggunaan bahasa daerah saat rapat menjadi indikator untuk memecat pejabat, seperti jabatan Kajati menjadi dasar pemecatan dari jabatannya tersebut.

Di damping itu, gerakan munculnya Twibone, meme dan ilustrasi di media social yang bernada satir untuk mengemukaan kecintaan kepada penggunaan bahasa Sunda, banyak muncul diberbagai platform media social. Bahkan tidak sedikit masyarakat, menumpahkan ketersinggungannya dengan menjadi Arteria Dahlan sebagai Musuh urang Sunda. Beberapa tuntutan pun malah mengarah pada keinginan agar DPP PDIP mencopot Arteria Dahlan dari Anggota DPR RI. Bahkan ada pernyataan, jika Arteria Dahlan tidak mau minta maaf dan mundur dari jabatannya di dewan, ancamannya adalah partainya akan hilang dari tanah Sunda. Ada ajakan agar warga Sunda bangkit melawan dan jangan diam

Semua bentuk ekspresi ini tentu harus dilihat dengan kepala dingin. Mengapa ini terjadi? Tentu tidak aka nada asap kalau tidak ada api. Ada sebab ada akibat. Ada aksi, pasti ada reaksi. Yang pasti kita semua sangat menyayangkan atas lahirnya pernyataan tersebut. Yang paling disayangkan adalah sikap Arteria Dahlan sendiri yang ternyata cenerung “keukeuh” tidak mau minta maaf. Malah mempersilahkan kepada pihak yang tidak sepakat dengan pernyataannya untuk melaporkannya ke MKD (Majelis Kehormatan Dewan).

Sebagai bagian dari komunitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Daerah Sukabumi, kami sangat menyayangkan sikap arogan dari Saudara Arteria Dahlan sebagai Politisi yang paham hukum (dan juga etika, harusnya) yang sepertinya lebih mengedepankan ego ketimbang mempertimbangkan rasa. Walau, kami pun yakin, suatu saat nanti, entah karena desakan dari pimpinan partainya, atau desakan pihak lain…….ujung-ujungnya akan minta maaf juga. Kalau inipun tidak terjadi, berarti saya sudah terlalu tinggi ekspektasinya.

Nah, tinggal semua ada pada warga Sunda sendiri.
“Bade kumaha salajengna. Rek diedankeun wae kitu?”

Cag…
(Aab Abdul Malik)

Warta Baru
Warta Terkait