25.6 C
Jakarta
Kamis, Oktober 21, 2021

FORUM BATAK INTELEKTUAL (FBI) KAUM INTELEKTUAL ATAU KAUM BEROTOT?

Warta.in – Danau Toba.
Ada fenomena baru yang terjadi dalam komunitas etnis batak pada beberapa tahun terakhir ini yaitu munculnya Organisasi Masyarakat (Ormas) baru yang bernuansa etnis batak atau kedaerahan seperti, (i) Pemuda Batak Bersatu (PBB); (ii) Komite Masyarakat Danau Toba Toba (KMDT); (iii) Forum Batak Intelektual (FBI); (iv) Gema Batak Nusantara (GBN); (v) Batak Bersatu Sedunia (BBS); (vi) Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI); (vii) Horas Bangso Batak (HBB); Ormas yang relatif masih sangat baru adalah PBB, KMDT dan FBI, dan mungkin masih banyak lagi.

Apakah komunitas komunitas diatas sudah sah sebagai Ormas atau hanya sekedar wadah perkumpulan atau komunitas,  saya sendiri tidak mengetahui pasti. Jika sudah menjadi ormas artinya pendiriannya memenuhi persyaratan sebagaimana diatur Perpu No. 2 Tahun 2017.

MENGAPA MEMBENTUK KOMUNITAS/ORMAS?

Merujuk pada pengertian komunitas McMillan dan Chavis (1986) bahwa komunitas merupakan kumpulan dari para anggotanya yang memiliki rasa saling memiliki, terikat diantara satu dan lainnya dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama. Dari pengertian ini dapat dipahami alasan orang membentuk komunitas salah satunya adalah adanya rasa saling memiliki untuk tujuan yang sama. Dari beberapa Ormas (komunitas) yang disebutkan diatas, hasil pengataman dan kiritikan yang ingin saya sampaikan hanya pada ormas PBB, KMDT dan FBI.

PEMUDA BATAK BERSATU (PBB)

Ormas ini salah satu ormas yang sangat fenomenal 3 tahun terakhir. Padahal para pendirinya kebanyakan bukan orang kaya raya atau politikus ulung. Sebut saja Ketua Umumnya bung Lambok F. Sihombing, S.Pd. Sebelumnya  hanya orang biasa. Beliau menjadi sangat populer setelah masyarakat merasakan kiprah ormas PBB. Ormas PBB menjadi perbincangan di berbagai media sosial, media cetak atau online. PBB kelihatannya focus pada kegiatan sosial berbagi rasa sesuai dengan motto nya SATU JIWA SATU RASA. Slogan tersebut tidak hanya indah diucapkan namun juga indah dalam pelaksanaannya. Betapa tidak, saat pandemi covid19, PBB hadir sebagai garda terdepan seperti pahlawan bagi anggota masyarakat yang mengalami musibah meskipun bukan atau belum terdaftar sebagai anggota. Itu terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia yang ada PBB nya. Perbuatan baik itu sesuai dengan latarbelakang pendiriannya yang diawali sebagai keprihatinan yang dialami banyak orang batak di perantauan khususnya Jabodetabek. Ah…pokoknya PBB sampai saat ini krenlah semoga kedepan tetap konsisten dengan perjuangannya dibawah kepemimpinan bung Lambok F. Sihombing.

KOMITE MASYARAKAT DANAU TOBA (KMDT)

KMDT yang dikomandoi oleh St. Edison Manurung, usianya kurang dari 2 tahun, namun kiprahnya sudah luar biasa. Dilihat dari namanya, KMDT kelihatannya focus pada upaya bagaimana berkontribusi dalam percepatan pembangunan di Kawasan danau toba. KMDT pun sukses mengadakan puluhan seminar atau webinar yang menghadirkan Para Pemimpin di negeri ini untuk terlibat dalam menuangkan pemikiran membangun Kawasan Danau toba. Bung St. Edison Manurung sukses melibatkan para pejabat (Ketua MPR, Menteri, Dirjen, Gubernur, Kapolda Pangdam, Bupati, walikota, Para Kapolres  dikawasan danau toba. Bahkan sukses juga melibatkan para pimpinan gereja-geraja yang ada di sumatera utara (Katolik, HKBP,HKI, GKPS, GBKP dll) untuk urung rembuk. Dari kisah sukses itu, Ketua Umumnya St. Edison Manurung pun menjadi sangat terkenal. Semoga KMDT konsisten dengan perjuangannya seperti saat ini meskipun masih seperti layaknya Event Organizer (EO). Dari puluhan seminar, workshop atau webinar yang diadakan tentu sudah menghasilkan ratusan pemikiran brilian yang siap diimplementasikan.

FORUM BATAK INTELEKTUAL (FBI)

FBI juga salah satu ormas yang lumayan populer, baru didirikan pada bulan Juli 2020 lalu, namun sudah memiliki Cabang dibeberapa daerah. Berdasarkan penjelasan Ketua Umumnya, bung Leo Situmorang melalui berbagai media, bahwa yang melatarbelakangi pendirian FBI adalah keprihatinan terhadap permasalahan hukum yang sering dialami orang-orang batak. Fokus perjuangan FBI dibidang hukum mungkin erat kaitannya dengan latarbelakang profesi Bung Leo Situmorang dkk yang kebanyakan berprofesi sebagai penegak hukum (pengacara). Dilihat dari latarbelakang keprihatinan itu jelas mulia sekali pendirian FBI.

Dilihat dari penyematan kata  “intelektual”  pada nama ormas ini, pikiran kebanyakan masyarakat pasti menduga duga bahwa osmas FBI adalah perkumpulan para ilmuan, atau akdemisi atau para peneliti atau para intelektual. Betapa tidak, kata Intelektual kan artinya cerdas; berakal; dan atau  berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Namun begitu melihat uniformnya “loreng” warna coklat kemerahan,dipadu warna hijau, putih dan hitam layaknya uniform tentara. Maka pikiran yang awalnya menduga perkumpulan orang cerdas menjadi memudar seketika atau setidaknya kontraktif dengan kata “intelektual”. Disebut kontraktif karena pakaian loreng identik dengan kegagahan atau kekuatan fisik bukan kekukatan akal, tapi bukan berarti semua yang gagah dan kuat secara fisik tidak berakal ya bukan.

FBI DAN FAKTA DILAPANGAN

Masyarakat Sumatera utara terkejut menyaksikan berita tentang peristiwa Pengrusakan terhadap usaha permainan “IKAN-IKAN” di Kabupaten Karo, yang dilakukan oleh sebuah ormas yang bernama FBI. Saat pengrusakan terjadi, beberapa diantara pelaku menggunakan atribut FBI. Tindakan main hakim sendiri itu tentu merupakan perbuatan melawan hukum. Ormas atau individu tidak berkewenangn melakukan perbuatan main hakim sendiri. Negara ini negara hukum. Apalagi pimpinan dan pengurus pusatnya kebanyakan  adalah praktisi hukum. Dengan Tindakan ini, kata INTELEKTUAL yang disematkan pada osmas FBI menjadi patut dipertanyakan karena perbuatan tersebut tidak mencerminkan komunitas para kaum intelektual.

Meskipun permainan “IKAN IKAN”, faktanya merupakan perjudian yang sangat dibenci masyarakat dan dilarang hukum, namun cara FBI Kab Karo menertibkannya dengan malakukan pengrusakan tetaplah tidak dibenarkan. Upaya yang tepat dilakukan FBI adalah melaporkan kegiatan perjudian tersebut kepada pihak yang berwajib (Kepolisian) agar segera ditindak. Jika FBI Tanah Karo benar telah mengingatkan dan melaporkan kepada kepolisian namun belum juga ditindak, maka upaya lain yang bisa dilakukan adalah menyampaikan aspirasi (demo) ke Polres Karo. Jika itu dilakukan maka percaya deh pasti ditindaklanjuti. Zaman digital sekarang ini sangat mudah membuat segala sesuatu jadi viral, apalagi untuk tujuan kebaikan dan aparatpun akan cepat menindaklanjuti karena pimpinan di Pusat akan mengetahuinya. Akibat Tindakan FBI Kab Karo tersebut, patut dipertanyakan sebenarnya FBI kumpulan orang cerdas dan berakal atau kumpulan orang berotot? Kejadian ini, akan sulit dilupakan oleh masyarakat khususnya yang berdomisili di daerah Jobodetabek dengan perbuatan perbuatan yang sama yang sering dilakukan dimasa lalu  oleh ormas FBR atau FPI. Saya berharap Pimpinan FBI Pusat dapat segera menertibkan anggotanya yang melakukan tindakan pengrusakan di Kab Karo, dan bila perlu dievaluasi, sehingga FBI dapat diterima dihati masyarakat khususnya suku Batak sesuai latarbelakang pendiriannya yaitu keprihatinan dalam penegakan hukum.
Oleh : DR. Pirma Simbolon (Akademisi STIE) Jayakarta

(Feri/tim)

 

Danau Toba News
Melayani dengan tulus
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img