Guru, Penjaga Akal Sehat Bangsa di Tengah Tantangan Zaman
Oleh :Daudsyah Munthe
Ketua Forum Pengawalan Pemahaman Pancasila
Medan (Warta.In) – Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum penting bagi kita untuk kembali merenungkan posisi guru dalam kehidupan berbangsa. Di tengah derasnya arus teknologi, menguatnya budaya instan, serta mengendornya kepedulian sosial, guru tetap berdiri sebagai benteng terakhir yang menjaga akal sehat dan karakter generasi muda Indonesia. Meski tantangan semakin kompleks, tanggung jawab moral dan ideologis seorang guru tidak pernah bergeser: membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian Pancasila.
Dalam realitas hari ini, kita menyaksikan gejala kekeringan nilai di tengah masyarakat. Media sosial memproduksi informasi tanpa batas, namun tak selalu sejalan dengan kebijaksanaan. Generasi muda mudah terpapar paham-paham yang mereduksi nilai kemanusiaan dan mengikis rasa kebangsaan. Di sinilah guru hadir bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai penuntun—sosok yang mengembalikan anak didik pada jati dirinya sebagai warga bangsa yang bermartabat.
Forum Pengawalan Pemahaman Pancasila memandang bahwa keberadaan guru semakin strategis dalam memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipelajari, tetapi dihidupi. Pancasila tidak akan pernah relevan jika hanya menjadi hafalan. Ia harus menjadi napas dalam tindakan, laku sehari-hari, dan sikap mental. Guru adalah teladan pertama yang mampu menjembatani nilai-nilai itu melalui pembiasaan, kedisiplinan, keteladanan, serta komunikasi yang membangun.
Namun, mari kita jujur: penghormatan terhadap guru masih belum sepadan. Banyak guru yang mengabdikan hidupnya di pelosok, jauh dari sorotan media, dengan fasilitas minim dan kesejahteraan yang belum memadai. Mereka bekerja dalam diam, sering kali menanggung beban administratif yang justru menjauhkan mereka dari ruang belajar yang sesungguhnya. Kita tidak boleh terus membiarkan guru berjalan sendiri tanpa dukungan maksimal dari negara, masyarakat, dan lingkungan sekolah.
Hari Guru Nasional 2025 seharusnya menjadi panggilan bagi semua pihak untuk kembali menata ekosistem pendidikan. Pemerintah perlu memperbaiki kebijakan yang meringankan tugas guru; sekolah wajib menciptakan kultur yang memuliakan profesi pendidik; dan orang tua harus menjadi mitra sejati, bukan sekadar penonton. Pendidikan adalah kerja kolektif, bukan kerja satu profesi saja.
Guru adalah pilar terdepan yang memastikan bahwa Indonesia tidak kehilangan arah. Mereka membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral, berperikemanusiaan, dan berjiwa gotong royong. Dalam konteks bangsa yang multikultural, peran guru sangat menentukan dalam menjaga harmoni serta mencegah tumbuhnya intoleransi dan disintegrasi.
Pada akhirnya, refleksi Hari Guru Nasional bukan sekadar mengucapkan terima kasih, tetapi mengajak kita untuk memastikan bahwa masa depan guru menjadi lebih baik. Karena bila hari ini kita memuliakan guru, esok anak-anak kita akan tumbuh menjadi manusia Indonesia yang bermartabat.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Semoga para guru terus menjadi cahaya yang tak pernah padam di tengah perjalanan bangsa.(su16)





























