33.4 C
Jakarta
Jumat, Juli 30, 2021

Haul Sultan Hasanuddin ke-351, LKG Laksanakan Tahlilan dan Zikir Bersama

Warta.in, Gowa – Lembaga Kerajaan Gowa (LKG) melaksanakan kegiatan dalam rangka memperingati Haul ke-351 tahun mangkatnya Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke 16

Haul ke-351 Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke-XVI LKG menggelar acara tahlilan pada malam harinya.

Acara tahlilan dan zikir dilakukan oleh Kelompok zikir kerajaan gowa Mokkinga ri taenga dan kelompok zikir Katangka menggunakan tasbih kerajaan yang pernah di bawa ke Afrika di Pelataran Makam sultan Hasanuddin.

Tahlilan, zikir dan doa bersama dihadiri langsung oleh Yang Mulia Krgta. Tukkajannangang juga ikut serta, Andi Muhammad Abduh Ashari Arief Krg Narang, Andi Achmad Yusuf Krg Nompo (sekaligus wakil ketua Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Selatan), Andi Odda, Andi Yusuf, Andi Ully.

“Tahlilan dan zikir bersama ini untuk mengenang perjuangan Sultan Hasanuddin Raja Gowa-16 dan Andi Maddusila Idjo Karaeng Katangka Raja Gowa ke-37,” kata Andi Achmad Yusuf Krg Nompo, sekaligus wakil ketua Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Selatan kepada media Minggu, 13 Juni 2021.

Keesokan harinya dilanjutkan kirab dengan membawa 9 (sembilan) bendera Bate Salapang dengan tabur bunga yang dipimpin oleh Andi Bau Malik Karaengta Tukkajannangngan beserta Gallarrang dari Batesalapang dan Bate anak Karaeng juga dihadiri oleh ketua PSKN, Andi Mapparessa Krg. Turikale Maros dan Ketua Majelis Ulama Kabupaten Gowa, H. Abubakar Paka.

Acara dihelat di kompleks Makam Sultan Hasanuddin, Jl. Pallantikang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, pada Sabtu, 12 Juni 2021.

Kegiatan prosesi haul Sultan Hasanuddin Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape pada peringatan ke-351 tahun ini sejak mangkatnya Raja Gowa ke-XVI ini pada tanggal 12 Juni 1670.

Juga ditampilkan parade kirab dari pasukan kerajaan dengan menurunkan semua panji Kerajaan Gowa dalam mengawal serta mengiringi foto Sultan Hasanuddin ke kompleks makam.

Ke empat pemimpin pasukan parade kirab atau “Pangngulu Bundu” tersebut terdiri dari keluarga besar Kerajaan Gowa yaitu Keturunan Raja Gowa ke 34 yang diwakili oleh Andi Yusuf Bau Sawa, Gallarrang Tombolo yang diwakili oleh Ahmad Yusuf Karaeng Nompo, Anrongguru Bontonompo yang diwakili oleh Citra Mahardhika Daeng Se’re, dan Karaeng Borisallo yang diwakili oleh Hendra Mappasomba.

Ketua panitia pelaksanaan Haul Sultan Hasanuddin ke-351, Andi Bau Malik Barammamase Karaengta Tukkajannangang mengungkapkan bahwa acara berjalan dengan baik dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Menurutnya, kegiatan ini baru pertama kali dilakukan setelah tahun lalu tertunda karena Kabupaten Gowa saat itu masih berada dalam Zona bahaya Covid-19.

Hal ini juga diungkapkan salah satu pemimpin pasukan parade kirab atau “Pangngulu Bundu” tersebut terdiri dari keluarga besar Kerajaan Gowa yaitu Keturunan Raja Gowa, Gallarrang Tombolo yang diwakili oleh Ahmad Yusuf Karaeng Nompo.

“Dewan adat kerajaan gowa menginformasikan bahwa terpilih empat orang panglima pasukan yang dipercaya memimpin pasukan kerajaan untuk mengawal Foto Sultan Hasanuddin dalam rangkaian prosesi Haul,” jelas Ahmad Yusuf Karaeng Nompo.

Diketahui, salah satu syarat utama yang menyebabkan Sultan Hasanuddin dapat menaiki tahta Kerajaan Gowa yang Agung adalah karena beliau memang mendapat amanah sebagai pewaris Pemerintahan Kerajaan Gowa dari Ayahandanya Sultan Muhammad Said. Titah Baginda adalah aturan yang harus dijalankan.

“Di dalam bahasa Makassar kita mengenal kata-kata adat yang berlaku di kerajaan sebagai berikut”Makkanama’ Nu mammio” yang artinya “Aku berkata/bertitah dan kalian hanya mengiyakan” disini jelas bahwa kata-kata Raja harus dijujnjung tinggi dan ditaati,” terang Ahmad Yusuf Karaeng Nompo kepada media. Minggu, 13 Juni 2021.

Dan rakyat Gowa, kata Ahmad Yusuf Karaeng Nompo pada saat itu sangat menerima dan siap mentaatinya. Hal itu dapat dilihat dari jawaban rakyatnya”Akkanamaki Nakimammio” artinya bersabdalah tuanku dan kami rakyatmu siap mengiyakan/ melaksanakan.

“Ini adalah tatanan adat yang sangat luar biasa ‘Issengi Kalennu Nanuisseng Empoannu’,” sambungnya.

“Bahkan sebagian pengamat sistem pemerintahan dunia mengakui bahwa sebelum eropa mengenal demokrasi, kerajaan gowa lebih dulu menganut sistem pemerintahan demokrasi terpimpin,” imbuh Acmad Yusuf Karaeng Nompo.

Lebih lanjut Achmad Yusuf Karaeng Nompo menjelaskan, dilihat dari situs peradaban masa lampau Kerajaan Gowa ini bukan Kerajaan yang dibesar-besarkan pada kertas kekinian, tetapi sebuah kerajaan megah dan besar, benteng eks Kerajaan Gowa bukan cuma satu, keteraturan pemerintahannya ketaatan rakyatnya menjadikan gowa sebagai kerajaan yang memiliki angkatan perang baik darat maupun maritim yang cukup disegani.

“Gowa menghadirkan sumberdaya manusia sampai saat ini masih menjadi buah bibir ke seantero jagad,” pungkas keluarga besar Kerajaan Gowa, Keturunan Raja Gowa, Gallarrang Tombolo yang diwakili oleh Ahmad Yusuf Karaeng Nompo.

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img
error: Content is protected !!