32.8 C
Jakarta
Jumat, Agustus 29, 2025

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Imunisasi Campak Massal Dinkes P2KB Sumenep, Dapat Dukungan Penuh DPRD Jatim

  • Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur mendukung penuh langkah-langkah penanggulangan kasus campak yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Sumenep.

    Saat ini Kabupaten Sumenep, tengah menghadapi kejadian luar biasa (KLB) terkait kasus campak setelah 12 anak dinyatakan meninggal dunia.

    “Saya mendukung penuh atas keputusan Dinkes Sumenep untuk melakukan imunisasi massal guna pencegahan campak agar korban campak tidak bertambah, bahkan semoga rantai penyebaran campak juga terhenti di lingkungan masyarakat,” ungkap anggota komisi E DPRD Jatim, Indriani ,Rabu lalu.

    Anggota DPRD Jawa Timur asal Sumenep ini, menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mencegah penyebaran campak. Dan yang utama Dinkes Jatim harus segera tungun tangan.

    “Ini warning agar semua elemen turun tangan, termasuk Dinkes Jatim. Saya pun berharap semua lapisan masyarakat Sumenep juga ikut membantu upaya pencegahan campak di sekitar lingkungannya. Jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan lingkungan, makan makanan sehat dan bergizi, serta menerapkan pola hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas
    Kesehatan P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, sangat mengapresiasi atas dukungan tersebut dan pihaknya berjanji akan berupaya secara maksimal,

    “Terima kasih atas supportnya ,kami Dinkes terus melakukan upaya penanggulan melalui imunisasi massal yang melibatkan seluruh puskesmas serta dukungan lintas sektor,” ujar Ellya, Kamis (21/08/25).

    “Kami juga telah melakukan kajian epidemiologi terkait kasus ini dan mengeluarkan surat edaran ke desa-desa untuk penanganan isolasi bagi penderita campak,” Imbuhnya.

    Menurut Ellya, pihaknya telah melakukan microplanning di puskesmas-puskesmas sebagai bagian dari pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI), atau imunisasi ulang massal untuk anak-anak usia 9 bulan hingga 59 bulan di seluruh wilayah Sumenep.

    “Sejumlah puskesmas di Sumenep telah menyiapkan tenaga medis dan fasilitas pendukung untuk mendukung program imunisasi massal, Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat campak, tetapi juga untuk menghentikan rantai penularan di masyarakat,” snya.

    Untuk diketahui ,sejak Januari hingga pekan pertama Agustus 2025, Dinkes P2KB Sumenep mencatat ada 1.944 kasus campak di wilayah tersebut.
    Dan ternyata kasus campak paling banyak terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Kondisi ini menekankan urgensi pelaksanaan imunisasi massal serta langkah-langkah pencegahan lainnya.(hrs)

Berita Terkait