URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img
29.6 C
Jakarta
Jumat, Agustus 19, 2022

URUS PERIJINAN

KLIK GAMBARspot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jalan Buruk Membuat Harga Hasil Tani Warga Nagrak Kabupaten Sukabumi Ambruk Oleh Tengkulak

Sukabumi, Warta.in || Belasan tahun warga Desa Babakan Panjang, Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi tak pernah merasakan mulusnya jalan. Ruas jalan desa maupun kabupaten di wilayah itu terisolir dari dana APBD.

Selain kondisi jalan yang buruk, juga tidak ada angkutan umum dari pusat Ibu Kota Kecamatan Nagrak menuju ke di desa tersebut.

Mayoritas pelajar dari tiga kedusunan meliputi Cikawung, Nyangegeng dan Pasir Jeungjing tiap hari berjalan kaki menuju sekolah dengan jarak tempuh 5 kilo meter lebih.

Ojek menjadi alat transfortasi utama warga disana. Hanya sebagain kecil warga memiliki motor pribadi.

Dengan kondisi jalan bak sungai kering, pengendara motor harus ekstra hati hati, melintasi tikungan dan tanjakan agar sampai tujuan.

Endang (70) warga Kp. Legok Pawenang mengatakan tak pernah melihat ada proyek perbaikan jalan di wilayahnya.

“Dengan kondisi jalan seperti ini perjalanan terhambat. Terlebih musim hujan, jalan licin berbatu melintasi bukit banyak yang celaka,” kata Endang yang ber
jalan kaki sejauh 6 km saat menuju gerai vaksin di Balai Desa Babakan Panjang, Jumat 29/07/2022.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Babakan Panjang Saepuloh yang baru menjabat empat bulan sebagai Kades memiliki tugas berat untuk membenahi infrastruktur di wilayah.

Menurutnya buruknya akses lalulintas diwilayahnya membuat desa Babakan Panjang terisolir.

“Kondisi ini dimanfaatkan para tengkulak hasil bumi untuk menghargai hasil panen sekehendaknya dengan alasan ongkos mahal,” katanya.

Umunya di desa ini warganya bertani ke sawah dan kebun. Namun mereka sulit menjual sendiri ke pasar. Warga mendapat bayaran setelah tengkulak pulang menjual dari pasar sesuai bon yang dibuat sendiri oleh tengkulak.

“Warga petani tak pernah mendapat harga yang sebenarnya. Mereka menerima bon hasil penjualan tengkulak dipotong biaya angkut. Jadi tak pernah tahu harga sesungguhnya di pasar. Ini harus dihentikan untuk kesejahteraan warga,” ujar Saepuloh.

Kades yang baru dilantik empat bulan lalu ini meminta eksekutif dan legislatif lebih memberi perhatian.

“Desa kami banyak potensi alam yang bisa dikembangkan sebagai sumber pendapatan daerah. Namun perlu dibangun akses transportasi untuk memudahkan mobilisasi. Selain itu infrastruktur lainya termasuk irigasi harus jadi perhatian,” kata Saepuloh.

Kondisi memprihatinkan lainya di wilyah ini menurut penuturan warga lainya adalah sering dijadikan lumbung suara para petarung di pemilu legislatif. Ironisnya meski banyak menelurkan anggota DPRD, namun mereka hanya mendapatkan janji janji tanpa bukti. (Red)

Warta Baru
Warta Terkait