Karya seni itu seperti lampu. Dapat dibayangkan, bagaimana dunia ini dengan berbagai warnanya, dapat terlihat jika tidak ada lampu. Lampu yang menerangi tempat-tempat gelap, lampu yang membuat sesuatu bisa dilihat.
Sebagaimana halnya lampu, lampu itu sangat beragam. Pertama, kadar terangnya berbeda-beda. Jadi, tidak semua lampu seni bisa menerangi dunia dan kehidupan secara benderang. Ada lampu yang memang terang, ada lampu yang daya terangnya rendah.
Kadar rendah-terang menyebabkan sesuatu menjadi remang-remang dan seperti nampak atau tidak. Sementara itu, kadar tinggi-terang menyebabkan mata bisa silau dan membuat penglihatan menjadi kabur. Demikianlah, kontra-diksi karya seni.
Kedua, sebagaimana layaknya lampu, warna lampu berbeda-beda. Ada yang putih bersih, ada yang merah, biru, kuning, hijau, ungu, dan sebagainya. Hal warna bisa membedakan posisi, status, dan fungsi kenapa karya seni dihadirkan. Hal warna kadang menjadi ideologis. Hal warna menjadikan lampu berbeda-beda maksud kehadirannya.
Ketiga, seperti lampu, bentuk dan fokus sorotannya berbeda-beda. Ada yang lebih pas untuk pertunjukan, ada yang untuk keperluan komersial, ada yang lebih normatif untuk rumah, kantor, dan berbagai ruang lainnya yang dipakai sehari-hari.
Ketika hidup diterangi oleh karya seni, atau ketika dunia bisa dilihat dan diperlihatkan oleh seniman dalam karyanya, maka akan ada yang gembira, akan ada yang suka, akan ada yang bingung, akan ada yang mungkin marah dan sangat tidak suka.
Karya seni itu sesuatu yang bersifat wacana dan ideologis. Sebagai wacana dan bahkan sesuatu yang ideologis, seniman dan karyanya sering tidak mampu menghindari jebakan kuasa konstruksi sosial, jebakan konstruksi politik dan ekonomi.
Sebagai akibatnya, sangat jarang seniman mampu mengekspresikan karyanya sebagai suatu ekspresi kemurnian. Ini pula yang menyebabkan kadar terang karya seni ada yang benderang, ada yang seperti tidak menerangi apapun. Padahal, semakin murni ekspresi seni, semakin memiliki daya yang terang berderang.
Seperti halnya lampu, sumber energi yang menghidupkannya pun beda-beda. Ada yang mengandalkan energi listrik (maaf kalau penamaannya tidak pas), ada yang dari batere, dan berbagai sumber energi eksternal lainnya.
Bentuk lampu berbeda-beda. Ada yang normatif dan buatan pabrik. Karya seni juga begitu, ada yang dibuat pabrikan. Karya seni menjadi semacam karajinan yang bisa didapatkan dan diperjualbelikan di mana saja dan kapan saja.
Namun, ada lampu yang berhasil dibuat menjadi berbagai karya yang indah yang penggunaannya menjadi khusus dan spesifik. Tidak tertutup kemungkinan bahwa bentuk lampu yang indah tersebut karena dorongan estetik si pembuat lampu. Ada kolaborasi yang harmoni dan serasi antara lampu normatif dan lampu spesifik.
Dalam konteks dan situasi tersebut, karya seni yang agung dan adiluhung tentu saja jika mampu mengonsolidasikan sumber energi dari dalam diri manusia itu sendiri. Energi lampu tidak berasal dari energi listrik atau batere, tapi energi yang disebut sebagai hati nurani.
Karya seni yang adiluhung berbeda dengan lampu-lampu normatif, karena dalam proses penciptaannya, terdapat dorongan-dorongan dari energi murni tersebut, berdasarkan energi hati nurani, yang menhidupkan karya seni menjadi dan memberikan terang yang murni, otentik, dan orisinal.
Karena besarnya penggunaan energi listrik, bateri dan semakin masalnya pabrik-pabrik lampu, karya seni yang otentik menjadi kalah bersinar. Bukan berarti lampu karya seni dominan sekarang tidak mampu menerangi dunia, tetapi banyak yang diterangi hanya hal-hal penampakan saja.
Karya seni seperti itu, tidak mampu menerangi hal-hal yang tidak tampak. Lampu seni seperti itu hanya untuk penampilan, untuk gaya-gaya, untuk memanipulasi ketidakmampuan membuat karya seni yang otentik.
Bahkan sebagian hanya sekedar menjalani suatu proyek seperti runitinas pabrik. Sudah saatnya, para seniman kembali kerja keras, dengan mengandalkan sepenuhnya energi hati nuraninya untuk memproduksi lampu-lampu seni yang otentik dan orisinal sehingga mampu menerangi dunia yang semakin tersuruk dalam kegelapan.
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM

























