25 C
Jakarta
Rabu, Januari 19, 2022

Kerusakan Hutan Parapat, WALHI. Diduga Korporasi Besar dan Mafia Lokal Terlibat

Simalungun,

Banjir Bandang yang melanda Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, pada Kamis (13/05/2021) lalu menjadi polemik di tengah – tengah masyarakat dan pemerhati lingkungan Sumatera Utara. Khususnya kota Parapat dan sekitarnya.

Meskipun tidak ada menelan korban jiwa, banjir bandang yang terjadi saat perayaan hari besar umat Islam ( Idul Fitri 1442 H ), membawa air bah dan menerjang pemukiman warga dengan membawa material kayu, batu dan lumpur.

Saat itu lokasi terparah terdampak banjir bandang tersebut adalah kawasan Lingkungan Anggarajim, Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang digenangi air hingga 1 meter dan merusak rumah warga serta Huta Sualan, Nagori Sibaganding yang terkena longsor dan sempat menutupi badan jalan lintas Sumatera Utara.

Musibah banjir ini pun disebut – sebut tidak terlepas dari kerusakan fungsi hutan yang gundul akibat maraknya perambahan hutan di seputar kawasan Danau Toba.

Disinyalir sumber banjir tersebut datangnya dari arah perbukitan kawasan register 1, 2 dan 18 yang mulai gundul ditebangi oleh para perambah hutan yang hanya mementingkan bisnis ilegalnya tanpa memikirkan kelangsungan kehidupan manusia yang akan datang.

Selain curah hujan menjadi penyebab banjir, yang yang lebih dominan lagi disebabkan marak dan bebasnya pembalakan liar/ilegal logging yang dilakukan para mafia dan korporasi besar yang berada di kawasan Danau Toba.

Hal ini pun menjadi preseden buruk bagi pembanguan kawasan Destinasi Wisata Dunia, seperti yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Badan Otorita Danau Toba ( BODT) sebagai pelaksana pariwisata di kawasan Danau Toba dan sekitarnya.

Menanggapi permasalahan kerusakan hutan dan lingkungan hidup yang berakibat banjir bandang, Wahana Lingkungan hidup (Walhi) Sumatera Utara telah melakukan investigasi di lapangan terkait penyebab banjir yang melanda Kota Parapat, Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara Doni Latuperisa melalui Deputi Bidang Advokasi Roy yang dikonfirmasi, Senin 17/05/2021 via pesan WhatsApp (WA) mengatakan, sedang melakukan investigasi terkait hal ini ( banjir bandang Parapat dan kerusakan hutan ).

” Saat banjir kemarin ketepatan hari libur, jadi saat ini kita sedang lakukan investigasi untuk pengumpulan data dan bukti – bukti “. Tutur Roy.

Roy menambahkan, kerusakan ini apakah disebabkan korporasi besar atau mafia lokal yang bercokol di kawasan hutan dan perbukitan Danau Toba. Sebab saat ini ada Korporasi besar yang menguasai kawasan hutan Danau Toba. Sebut Roy tanpa merinci siapa Korporasi tersebut.

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img
error: Content is protected !!