WARTA.IN

27.6 C
Jakarta
Jumat, Mei 14, 2021
BerandaArtikelKRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Kelima)

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Kelima)

4 (Empat) Pemahaman dan 10 (Sepuluh) Kesadaran SUFI; In Shaa Allah untuk Kebaikan Dunia yang Membuka Pintu Syurga Akherat

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) – Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat (BIMA ); dan Guru Besar Paguron Olahraga Pernafasan dan Beladiri Tenaga Dalam BIMA

keterangan : Tulisan ini Terdiri dari Tujuh Bagian

Bismillahirrahmanirrahiim

JALAN KE-EMPAT, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; _”Kesadaran akan Keberadaan Jiwa”

Setelah mencapai kekhusuan, maka pasti secara Alamiah Ruhiyah Ilahiyah, seorang manusia beriman, bisa menyadari akan keberadaan jiwanya, yang terdiri dari tiga unsur yaitu Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati.

Pada awalnya pintu masuk kekhusuan melalui titik konsentrasi terhadap keluar masuknya nafas yang disertai kesadaran adanya Yang Menciptakan Nafas Allah Swt. Setelah mencapai kekhusuan maka akan masuk kepada kesadaran akan keberadaan Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati. Setelah menyadari akan keberadaan Jiwa tersebut, masuk lagi kepada kesadaran terkait gerak gerik tiga unsur jiwa tersebut.

Dengan kekhusuan, maka akan mengetahui adanya Nafsu di dalam diri yang dzatnya dari api di atas api (api gho’ib). Dzat nafsu ini akan disadari keberadaannya, bahkan gerak geriknyapun akan di sadari, sedang tenangkah ? ibarat api sebuah lilin, atau sedang membara menggebu-gebu ? seperti api di dalam sebuah kebakaran, menghabiskan apapun yang ada. Dzat Api hawa nafsu manusia ini tidak akan pernah bisa dimatikan, tapi bisa di atur dengan kesadaran seorang manusia beriman yang mencapai kekuatan tingkat kekhusuan, sehingga api bisa di kendalikan dan menjadi bermanfa’at bagi kehidupannya, ibarat api sebuah kompor yang bermanfa’at untuk membuat berbagai masakan. Hawa nafsu itu beragam bentuk dan berubah-rubah ke dalam berbagai wujud bermacam keinginan dan kemauan, yang pada intinya ingin dipuji, tidak mau di cela, ingin untung tidak mau rugi, ingin menang tidak mau kalah, dan ingin senang tidak mau susah, dan keinginan serta kemauan tersebut sudah barangtentu menyangkut pemenuhan hasrat jasmani seperti makanan, minuman, seks, uang, jabatan dan harta.

Dengan kesadaran keimanan terhadap pencipta dirinya, yaitu Allah Swt., maka diri manusia beriman itu berjuang sekuat tenaga dengan kekhusuannya untuk mengendalikan hawa nafsunya, sebagai penghambaan dan ibadah kepada Allah Swt., agar hawa nafsunya sesuai syari’at aturan yang digariskan oleh Allah Swt., yang di beritakan oleh Rasullullah Muhammad saw., dan aturan-aturan hidup itu sudah tersusun rapih dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim.

Dari kesadaran akan keberadaan dzat hawa nafsu di dalam diri, maka manusia beriman dengan kekhusuannya menjadi sangat hati-hati terhadap godaan di luar dirinya, godaan syeitan serta iblis makhluk ghaib yang sama terbuat dari api, sudah barangtentu, terus menerus memancing agar hawa nafsu setiap manusia tidak terkendali dan membakar dirinya. Untuk perlindungan setiap diri orang yang beriman dari goda’an Syeitan dan Iblis ini, syari’atnya harus memperbanyak Ta’udz dan membaca surat Al-Falak dan surat An-nas.

Kemudian dengan kekhusuan seorang yang beriman, setelah menyadari keberadaan dzat hawa nafsu, maka pasti berlanjut akan menyadari keberadaan dzat Akal Fikirannya. Pikiran yang terdiri dari energi positif dan negatif jelas dzatnya adalah gelombang elektromagnetik yang di dalam jasmani sangat terlihat berwujud biolistrik yang bergerak di setiap jaringan syaraf manusia yang berpusat di otak. Dzat akal pikiran ini bahasa tasawufnya sambarani (magnet) bumi. Setelah manusia beriman menyadari keberadaan Dzat Pikiran, maka dengan kekhusuannya akan menyadari gerak-gerik pikirannya yang selalu mengiringi dzat Nafsu, yang pada intinya pikiran selalu memberikan penilaian-penilaian terhadap setiap keinginan dan kemauan manusia untuk mencapainya, antara relatifitas; Benar dan Salah, Baik dan Jahat, Indah dan Buruk, Besar dan Kecil serta Lama dan Sebentar.

Penilaian-penilaian ini bahasa ilmu psikologisnya adalah Persepsi, dan seluruh persepsi ini akan di ikuti oleh bayangan-bayangan atau gambaran-gambaran pikiran, sama halnya seperti televisi yang di hasilkan oleh formulasi energi listrik dari gelombang elektromagnetik .
Semakin kuat konsentrasi dan kekhusuan seorang manusia, maka akan semakin kuat kehadiran dzat pikiran di dalam dirinya.

Kemudian setelah menyadari keberadaan dzat Nafsu dan dzat Akal Pikiran, yang terakhir dengan kekhusuan seorang beriman, otomatis akan menyadari keberadaan Perasaan atau Hatinya. Perasaan atau Hati ini dzatnya dari air di atas air ( air gho’ib ). Sama halnya seperti air yang jernih, otomatis bisa menjadi cermin, dengan Hatilah seorang beriman bisa bercermin, kondisi apapun akan terasa dengan cermin hati ini, dan gerak gerik Perasaan atau Hati ini terlihat dari; Enak dan Tidak Enak, Lapang dan Sempit serta Cinta dan Benci, yang pintu masuknya dari indera-indera manusia itu sendiri ; penciuman, peraba, penglihatan, pendengaran dan pengecap rasa, yang sudah barangtentu indera-indera ini satu kesatuan dengan Nafsu dan Pikiran. Betapa kompleksya tiga unsur dari Jiwa seorang manusia, antara nafsu, pikiran dan hati ini. Dengan kekhusuan seorang beriman maka akan bisa selalu bercermin dengan hatinya yang jernih dan sangat luas, ibarat sebuah danau, walaupun ada gangguan, karena luas dan lapangnya danau tersebut, tidak mempengaruhi kejernihannya, sehingga tetap bisa di pakai untuk bercermin. Lain halnya jika hati sempit ibarat air dalam sebuah mangkok, kena gangguan sedikitpun menjadi keruh dan tidak bisa dipakai untuk bercermin.

Mengapa umat Islam di syari’atkan untuk berwudlu sebelum melaksanakan ibadah shalat, hakikatnya selain untuk kebersihan, secara batiniah dengan wudlu memakai air, umat Islam di ingatkan untuk selalu bercermin dari setiap langkah perbuatannya, bercermin kepada cermin hatinya masing-masing. Hati ini akan memberikan cerminan baik buruknya apapun perbuatan seorang manusia.

*Allahu Akbar*

JALAN KE LIMA, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; “Kesadaran akan Keberadaan Ruh (Kesadaran itu sendiri) yang mampu Mengendalikan Jiwa”

Seorang beriman yang mampu mencapai kekhusuan, secara otomatis mampu menyadari keberadaan jiwanya masing-masing yang terdiri dari tiga unsur Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati. Bahkan gerak-gerik ketiga unsur jiwa tersebut dapat disadarinya, kemudian dari kesadaran terhadap keberadaan dan gerak-gerik jiwa itu, sudah barangtentu akan timbul kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran untuk memiliki daya dan kekuatan untuk mengendalikan Jiwa tersebut. Daya kekuatan itu hakikatnya adalah kesadaran di atas kesadaran yaitu keberadaan Ruh seorang manusia. Jadi Ruh itu adalah Kesadaran itu sendiri, dan Kekuatan untuk mengendalikan Jiwa, adalah kekuatan Kesadaran di atas Kesadaran, atau Kesadaran pangkat dua yang dinamakan Ruh.

Tanpa kendali dari Ruh, maka setiap jiwa manusia bisa bergerak tanpa kendali, inilah yang di sebut manusia yang kehilangan kontrol. Jika nafsu tanpa kendali, maka disebut amarah, jika pikiran tanpa kendali maka di sebut pikiran liar bahkan gila, dan jika perasaan tanpa kendali di sebut sakit hati bahkan sakit jiwa. Ketiga unsur jiwa manusia itu perlu di kendalikan sehingga selaras harmonis sesuai fitrah penciptaannya untuk menjadi Nafsu Mutmainnah ( Jiwa yang tenang ), manakala manusia mencapai ketenangan jiwa, maka otomatis amanah hidupnya bisa dijalankan sebagai khalifah fil ardh dan menjadi rahmatan lil aalamiin.

Kesadaran di atas kesadaran, atau Ruh pengendali Jiwa, dzatnya adalah Cahaya. Dan cahayanya bukan cahaya biasa tapi Cahaya di atas cahaya (Cahaya Gho’ib), atau cahaya pangkat dua, dan bahasa Al-Qur’annya *Nurun ala Nurin*

Cahaya Ruh inilah yang mampu menerangi tiga unsur Jiwa; Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati. Dengan cahayanya Ruh, maka Jiwa bisa di kendalikan menjadi jiwa yang tenang (mutmainnah). Untuk kesadaran ini, kita bisa mengetahui dari api yang bisa dihasilkan dari cahaya, misalnya cahaya matahari dengan kaca pembesar (suryakanta) bisa di fokuskan cahayanya kepada selembar kertas menjadi panas dan timbullah api yang membakar kertas tersebut. Jadi api itu hakikatnya dihasilkan dari cahaya, oleh karena itu ada ataupun tidak ada api bisa dikendalikan oleh cahaya, dan cahaya itulah sumber dari api. Kemudian Cahaya tersebut merupakan Gelombang Elektromagnetik, yang tentunya ada energi positif dan negatifnya. Sehingga Besar Kecilnya Cahaya, sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya gelombang elektromagnetik, oleh karena itulah hakikatnya dzat Cahaya Ruh, bisa mengendalikan dzat magnet (positif dan negatif) Pikiran. Dan yang terakhir apalah artinya cermin tanpa cahaya, maka cermin itu sama sekali tidak bisa dipakai sebagai cermin. Demikian pula cermin hati, hanya bisa berfungsi sebagai cermin, manakala ada Cahaya Ruh yang menerangi Cermin hati tersebut.

Betapa pentingnya Ruh untuk hidup disetiap diri manusia, sehingga manusia tersebut bercahaya. Dan cahaya inilah yang di sebut Ruhiyah, dan Ruhiyah hanya bisa hidup dengan kesadaran Ilahiyah, yaitu kesadaran terhadap keberadaan Allah Swt. Sang Maha Pencipta Alam Semesta. Jadi manusia beriman itu otomatis mempunyai Cahaya Ruhiyah Ilahiyah, dan setiap sa’at di perkuat dan diperkuat dengan ibadah kepada Allah Swt. Dengan ibadah itulah sehingga Cahayanya semakin terang benderang dan otomatis secara Alamiyah bisa mengendalikan tiga unsur Jiwa, yaitu Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati.

Setiap orang suci, mempunyai Kesadaran akan Keberadaan Ruh (Kesadaran itu sendiri) yang mampu mengendalikan Jiwa, inilah yang di sebut Ruhiyah Ilahiyah Alamiyah seorang Beriman. Dan orang beriman tersebut manakala Ruhiyah Ilahiyah Alamiyahnya semakin kuat dan semakin kuat, maka dialah yang di sebut orang-orang suci kekasih Allah Swt.

*Allahu Akbar*

RELATED ARTICLES

Most Popular

Komentar Terbaru