WARTA.IN

27.6 C
Jakarta
Jumat, Mei 14, 2021
BerandaArtikelKRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Ketiga)

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Ketiga)

Tulisan ini Terdiri dari Tujuh Bagian

4 (Empat) Pemahaman dan 10 (Sepuluh) Kesadaran SUFI; In Shaa Allah untuk Kebaikan Dunia yang Membuka Pintu Syurga Akherat

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia ( DMK ) – Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat (BIMA); dan Guru Besar Paguron Olahraga Pernafasan dan Beladiri Tenaga Dalam BIMA

Bismillahirrahmanirrahiim..

Setelah kita memahami manusia suci adalah manusia yang mampu mengendalikan jiwa, sudah barangtentu perlu ada Tarekat, atau upaya keras yang merupakan jalan sehingga mampu mengendalikan jiwa tersebut, jalan tersebut tidak lain dan tiada bukan adalah pekerjaan Ruh yang bernama Kesadaran.

Kesadaran inilah pijakan Tarekat seorang manusia, untuk mencapai tingkatan Hakikat mampu mengendalikan Jiwanya menjadi Nafsu Mutmainnah. (Jiwa yang tenang)

Kesadaran adalah tanda-tanda hidupnya Ruh seorang manusia, yang mulai berupaya mengendalikan Jiwanya yang terdiri dari tiga unsur : Nafsu, Pikiran, dan Perasaan atau Hati.

Kesadaran yang paling penting dari Kehidupan seorang manusia; yang paling utama dan pertama adalah kesadaran akan keberadaan Sang Maha Pencipta Allah Swt. Kesadaran inilah yang di sebut Iman, yang merupakan Kesaksian atau Syahadat yang di Syari’at-kan oleh Rasullullah Muhammad saw. untuk mengucapkan Laa ilaha illallah, Muhammadarrasullullah sehingga seseorang dinyatakan sah beragama Islam. Setelah adanya Iman atau Kesadaran akan keberadaan Allah Swt. sebagai Pencipta Alam Semesta, maka Ruh itu hidup di dalam diri manusia, dengan eksistensi sebagai Ruhiyah Ilahiyah atau “Nurun ala Nurin”, Cahaya di atas Cahaya, Allah ciptakan dan Allah berikan kepada siapapun yang di Kehendaki-Nya. Allahu Akbar.

Betapa malangnya manusia yang Ruh nya mati, tidak sadar akan keberadaan Sang Maha Pencipta Allah Swt., berarti hidupnya akan sangat buruk, dan pasti Allah Swt. murka kepadanya, sehingga bagi manusia yang Ruh nya mati seperti ini, yang tidak ada cahaya sama sekali, dia akan mendapatkan hukuman akherat, di neraka yang kekal abadi.

Untuk manusia-manusia seperti ini, walaupun bisa mendapatkan dunia dengan segala isinya, namun hal itu tidak ada artinya sama sekali, manusia-manusia atheis seperti ini, hidupnya lebih buruk dari binatang, karena di akherat dia akan mendapatkan siksa yang maha berat. Sementara binatang, tentunya tidak akan mendapatkan siksaan kekal pada kehidupan akherat kelak.

Na’udzubillah min dzalik

Sebetulnya sangat mudah menyadari keberadaan Sang Maha Pencipta Allah Swt., Bayangkan bagaimana bisa alam semesta ini terjadi dengan sendirinya ? sebagai permisalan, jika kita melihat lukisan saja, kemudian bagaimana bisa ? kita mengatakan kalau lukisan itu terjadi dengan sendirinya, jika kita mengatakan demikian, pasti kita di sebut orang gila. Itu baru sebuah lukisan, yang pasti ada pelukisnya, coba sekarang bayangkan bagaimana alam semesta yang Maha Luas, Maha Indah dan Maha Teratur ini terwujud ?, sudah barangtentu pasti ada Penciptanya, dan siapa lagi penciptanya kalau bukan Yang Maha Kuasa Allah Swt.

Demikian pentingnya *Kesadaran* sebagai titik awal perjalanan, sehingga manusia pada akhirnya mampu mengendalikan jiwanya, dan jadilah orang-orang suci yang mencapai *Makrifat* dalam *Tasawuf* sebagai kekasih Allah Swt. Jalannya mau tidak mau, dan suka tidak suka, cuma satu-satunya jalan, harus mempunyai *Kesadaran* terlebih dahulu.

Dan *Kesadaran Ruhiyah Ilahiyah* ini, secara *Alamiyah* dibagi menjadi *SEPULUH JALAN, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman*, adalah sebagai berikut :

JALAN PERTAMA, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; “Kesadaran akan Nafas dan Yang Menciptakan Nafas”

Setelah menyadari akan keberadaan Sang Maha Pencipta Alam Semesta Allah Swt., sudah barangtentu secara otomatis manusia akan menyadari keberadaan kehidupan dirinya, sebagai salah satu dari yang di ciptakan Allah Swt., di alam semesta ini. Alam semesta sebagai Makrokosmos, dan dirinya merupakan Mikrokosmis, atau setitik debu, bagian yang sangat kecil dari alam semesta.

Manusia sebagai makhluk yang teramat kecil, lemah dan hina dina, di tengah alam semesta ini, perlu menyadari dan mengenal dirinya sendiri, sebagai pintu masuk mengenal atau Makrifat terhadap Allah Swt. Yang Maha Besar, yang menciptakan dirinya.

Sesuai kata hikmah Ali bin Abi Thalib r.a : Kenalilah dirimu niscaya kamu akan mengenal Tuhanmu

Kunci, dan pintu masuk untuk mengenali diri sendiri itu, tentunya dari nafasnya sendiri, dari keluar masuknya udara melalui pernafasan. Ini adalah ilmunya orang-orang suci, para rasul, para nabi dan para waliyullah. Nabi Muhammad saw., sendiri manakala thahanuts mensucikan diri di Gua Hiro, selama empat puluh hari empat puluh malam, sebelum turun wahyu pertama, dan di angkat Rasul terakhir oleh Allah Swt., di pastikan sangat mengenal hakikat dirinya sebagai manusia, melalui kesadaran terhadap keberadaan nafasnya sendiri. Hal ini ditandai dengan duduk Rasul di antara dua sujud dalam shalat, pola duduk seperti itu adalah duduk yang paling tepat untuk mengatur dan mengolah nafas bagi seorang ahli ilmu pernafasan.

Kemudian dari salah satu hadist, Rasullullah saw., bersabda : “Jika di antara kalian minum, janganlah bernafas di dalam bejana” (H.R Bukhari dan Muslim). Dalam hadist shahih ini, jelas sekali Rasullullah saw., memerintahkan menahan nafas ketika minum, dan menunjukkan bahwa Rasullullah saw., adalah seorang ahli ilmu pernafasan. Jadi ilmu pernafasan itu adalah termasuk ilmanillah ( ilmu Allah ), walaupun tidak termasuk yang di syari-atkan sebagai Dienullah ( agama Allah ). Para Sufi ahli Tasawuf, memahami *ilmu pernafasan* adalah salah satu *Tarekat*, untuk mencapai *Hakikat* kebenaran dan *Ma’rifat* kepada Allah Swt.

Setelah menyadari akan nafas dan Yang Menciptakan nafas, barulah kesadaran ini di ikat dengan dzikir, dan perlu di ketahui dzikir itu ada dua jenis, ada yang bebas, dan ada yang di ikat dengan keluar masuknya nafas seiring dan sejalan dengan ilmu pernafasan. Disinilah perbedaan ilmu pernafasan Islam, dengan Samadhi Hindu, dan Meditasi Budha. Ilmu pernafasan Islam konsentrasinya mengingat Allah Swt., sementara Samadhi Hindu terhadap Kundalini, yang pada akhirnya mempertuhankan diri sendiri, dan meditasi Budha konsentrasinya adalah kosong. Jadi berbeda mekanisme dan sistemnya, sedangkan ilmu pernafasan Islam yang saya pelajari berasal dari leluhur saya Sunan Rahmat r.a atau Kian Santang, yang diberi nama ilmu *Kahanan dan Payung Nabi*, yang di ajarkan secara turun temurun di lingkungan keluarga saya sendiri.

Kembali kepada Kesadaran akan nafas dan Yang Menciptakan Nafas, yang di ikat dengan dzikir, inilah merupakan Kesadaran Agung yang merupakan *Kahanan* atau pondasi, dan ilmu ini bisa di sebut *ilmu Tauhid* atau *ilmu Syahadat*, karena dzikir dan konsentrasi utamanya adalah Laa ilaaha illallah atau di sebut kalimah Thayibah (kalimah terbaik), di ajarkan oleh hampir semua *Mursyid* atau Guru Tasawuf, sedang kalimah-kalimah lainnya adalah tambahan, pengembangan dari kalimah thayibah atau kalimah *Syahadat*.

Shalat yang merupakan Rukun Islam kedua, ada ilmunya, terlebih Syahadat sebagai rukun Islam pertama. Ilmu Syahadat sangat penting bagi seorang muslim, karena Shahadat adalah pondasinya agama, selanjutnya baru ilmu Sholat sebagai rukun Islam kedua yang merupakan tiang agama, sudah barang tentu tiang harus di topang dengan pondasi yang kuat, agar berdiri kokoh. Selain di sebut ilmu Syahadat, ilmu pernafasan di sebut juga ilmu Maut Qabla Maut, karena antara hidup dan mati sedikit sekali perbedaannya, antara nafas dan tidak nafas, dan ilmu pernafasan pasti mengajarkan menahan nafas, ibaratnya merasakan Qabla (sebelum) Maut (mati), tatkala di tutup nafas, oleh Yang Menciptakan Nafas Allah Swt.

Dengan Kesadaran terhadap Nafas dan Yang Menciptakan Nafas Allah Swt., mulailah seorang manusia/muslim menanam dengan benar, awal untuk menghidupkan Ruhiyah Ilahiyah di dalam dirinya secara Alamiyah. Menanam Ruhiyah Ilahiyah agar hidup tujuannya menuai kebaikan kelak di akherat, dan bisa di ibaratkan yang mengejar akherat ini, seperti menanam padi (akherat), maka pasti secara otomatis akan ada nilai tambah, belut dan rumput (dunia) di ladang padi yang dia tanam. Tapi kalau memelihara belut dan rumput (dunia), mustahil ada padi (akherat).

Allah Swt. memberikan perumpamaan bagi seorang manusia/muslim yang menanam Ruhiyah Ilahiyah di dalam dirinya, pada Q.S Ibrahim ayat 24 : Alam taro kaifa dharabballahu, matsalan kalimatan thayibatan, katsajarotin thayibatin, atsluha tsabitun wa far’uhaa fissamaa. Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan ? Bagaimana Allah telah membuat perumpamaan, Kalimah Thayibah (sangat baik), seperti pohon yang (sangat) baik, akarnya menghujam ke Bumi, dan rantingnya menggapai ke Langit”.

Allahu Akbar

Bayangkan betapa dahsyatnya perumpaan Allah Swt., bagi siapa saja yang menanam Ruhiyah Ilahiyah di dalam dirinya dengan Khalimah Thayibah, maka tanaman itu akan tumbuh, dengan akar yang sangat kokoh menghujam ke Bumi, dan menumbuhkan seribu cabang dan sejuta ranting, satu milyar buah, satu trilyun daun, hingga besar dan tingginya tidak terbatas, hingga menggapai Langit. Jadi semua kebaikan itu awal mulanya dari menanam Ruhiyah Ilahiyah yang terus menerus secara istiqamah di pelihara dengan sebaik-baiknya, agar tumbuh, dan tumbuh semakit kuat semakin besar, serta cahayanya (nurun ala nurin) semakin terang benderang sesuai yang di perumpamakan oleh Allah Swt.

Dalam memelihara tanaman dengan baik sudah barangtentu perlu pupuk yang baik pula, dan untuk menanam Ruhiyah Ilahiyah dengan Kalimah Thayibahnya perlu pupuk dengan memperdalam ilmu-ilmu Tauhid, antara lain ; ilmu 4 (empat) makna yang tersirat di dalam Kalimah Thayibah; yaitu Laa ilaaha laa Maojuda illallah; Laa ilaaha laa Ma’buda illallah; Laa ilaaha laa Matluba illallah; dan Laa ilaaha laa Maksuda illallah. Kemudian pemahaman ilmu Tauhid; Rububiyah, Uluhiyah dan Mulkiyah. Dan Terakhir pemahaman terhadap ilmu 99 (sembilan puluh sembilan) makna dari Asmaul Husna Allah Swt. Demikianlah ilmu Tauhid dan ilmu Syahadat yang mendalam, sudah menunggu bagi setiap muslim yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat. Membaca dua kalimah syahadat hanya *Syari’at* kunci pembuka dari ilmu-ilmu yang sudah menunggu untuk dipelajari, sebagai *Tarekat*, untuk mencapai *Hakikat* dan *Ma’rifat*. In Shaa Allah setelah menulis Kristalisasi Tasawuf Akhirul Zaman ini, kalau ada waktu dan kesempatan penulis akan menulis lagi dari ilmu-ilmu Tauhid dan Syahadat tersebut, sebagai tambahan dan penguatan dari tulisan Kristalisasi Tasawuf Akhirul Zaman.

Kembali kepada kesadaran akan Nafas dan Yang Menciptakan Nafas, detail teknis ilmunya, dari ilmu pernafasan ini sudah penulis buatkan Video Youtubenya dan tinggal di lihat dan dipelajari oleh para pembaca semua, yang terdiri dari dua bagian Video Youtube yang di buka secara umum ( Part-1 dan Part-2 ), tinggal di track di youtube dengan judul :

1. Teknik ilmu Pernafasan dari DMK Part-1

2. Teknik ilmu Pernafasan dari DMK Part-2

(Redaksi.Abdul Salam Nur Ahmad)**

RELATED ARTICLES

Most Popular

Komentar Terbaru