26.9 C
Jakarta
Selasa, Februari 3, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

“Lupa”, “Tidak Sempat”, “Ketinggalan”: Tiga Pilar Penyangga Budaya Menunda Siswa

“Lupa”, “Tidak Sempat”, “Ketinggalan”: Tiga Pilar Penyangga Budaya Menunda Siswa

Oleh: Sarah Sihombing, S.Pd.

Pendidik di SMP Muhammadiyah 7 Medan

Warta.In ( Medan ) –  Ada sebuah pola yang berulang dan meresahkan di lingkungan sekolah, sebuah fenomena yang saya sebut sebagai Tiga Pilar Alasan. Pola ini muncul setiap kali tugas mencapai tenggat waktu, ditandai dengan pengakuan siswa: Tidak sempat, Lupa, atau Ketinggalan.

Pola ini bukan sekadar insiden tunggal; ia adalah gambaran nyata bahwa mayoritas siswa kita sedang berjuang melawan satu musuh utama dalam pendidikan: ketidakmampuan mengelola waktu secara mandiri.

Ketika ketiga alasan ini diucapkan secara rutin, itu bukan hanya masalah administrasi tugas, melainkan masalah disiplin diri dan kompetensi hidup yang gagal terbentuk.

Tiga Pilar yang Merapuhkan Disiplin
Alasan-alasan ini secara kolektif merapuhkan fondasi disiplin akademik dan mental siswa:

“Tidak Sempat” sebagai Devaluasi Prioritas: Di dunia yang didominasi oleh gawai dan media sosial, alasan “tidak sempat” sebetulnya berarti “Saya tidak memprioritaskan tugas ini.” Siswa gagal menghargai waktu belajar mereka, menganggapnya bisa diselipkan di sela-sela kegiatan non-akademik. Ini mengarah pada kebiasaan fatal: prokrastinasi atau menunda-nunda hingga stres menyerang di menit terakhir.

“Lupa” sebagai Gagalnya Sistem Organisasi: Memori manusia memiliki keterbatasan. Alasan “lupa” muncul karena siswa menolak membangun sistem organisasi yang sederhana. Mereka enggan membuat to-do list, menggunakan kalender digital, atau sekadar mencatat di buku agenda. Lupa dalam konteks ini adalah hasil dari kemalasan mental untuk merencanakan dan mendokumentasikan kewajiban.

“Ketinggalan” sebagai Abainya Tanggung Jawab Diri: Jika buku tugas tertinggal, itu mengindikasikan ketiadaan ritual persiapan. Siswa tidak mengambil tanggung jawab penuh atas barang-barang penting mereka sendiri. Mereka belum terbiasa dengan kebiasaan sederhana namun vital: menyiapkan segala sesuatu di malam hari. Pilar ini mengajarkan bahwa kegagalan selalu bisa dilimpahkan pada faktor eksternal (“tertukar”, “tertinggal”), bukan pada diri sendiri.

Dari Mengeluh Menjadi Mengelola
Dampak buruk dari budaya menunda yang disokong oleh tiga pilar ini sangat nyata: kualitas pekerjaan yang buruk, jam tidur yang terganggu, dan tingkat stres yang tinggi.

Lalu, apa peran kita?

Pendidik harus menjadi Pelatih Waktu: Kurikulum harus memasukkan pelatihan keterampilan manajemen waktu, bukan sekadar imbauan. Guru dapat mengajari teknik memecah tugas besar menjadi bagian kecil (chunking) dan pengenalan Matriks Prioritas sejak dini.

Orang Tua harus menjadi Teladan Konsistensi: Orang tua perlu berhenti menerima tiga alasan ini sebagai pembenaran. Sebaliknya, mereka harus menyediakan lingkungan yang mendukung (misalnya, menetapkan “Waktu Bebas Gawai” untuk belajar) dan memantau bukan hasil, melainkan proses perencanaan harian anak.

Siswa harus Didorong untuk Self-Reflection: Kita perlu menantang siswa untuk berefleksi: “Apa yang Anda lakukan kemarin sehingga waktu 24 jam tidak cukup?” Pertanyaan ini menggeser fokus dari mencari alasan menjadi mencari solusi dan akuntabilitas diri.

Tiga pilar alasan klasik ini harus kita robohkan bersama. Hanya dengan menanamkan kesadaran bahwa waktu adalah aset tak ternilai dan harus dikelola dengan disiplin, kita dapat menghasilkan generasi pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kompeten, teratur, dan siap menghadapi tuntutan dunia nyata.(su16)

Berita Terkait