Warta.in, Purwakarta – Kunjungan silaturahmi untuk membangun sinergitas antara FJP (Forum Jurnalis Purwakarta) dengan PLN UP3 Purwakarta batal terjadi. Manager PLN Purwakarta terkesan menghindar dan tidak mau menemui, Senin (09/01/2026).
Surat untuk kegiatan tersebut sudah dilayangkan secara resmi oleh FJP namun sampai waktu yang ditentukan pihak PLN Purwakarta tidak memberikan kepastian.
Hal tersebut sontak menuai sorotan tajam dan kekecewaan dari para jurnalis yang tergabung dalam FJP. Alih-alih menemui justru para jurnalis diarahkan ke bagian pelayanan dan diterima di tempat yang menunjukkan rendahnya profesionalitas pimpinan PLN Purwakarta.
“Kami diterima di ruang pelayanan oleh salah satu pegawai bagian pelayanan PLN Purwakarta. Apakah PLN Purwakarta tidak memiliki ruangan untuk menerima kegiatan kami atau memang begini cara PLN Purwakarta menerima kedatangan jurnalis,” kata salah satu jurnalis FJP.
Dan yang lebih mengherankan ketika datang seorang pegawai yang mengaku didelegasikan pimpinan PLN Purwakarta malah bertanya, “Apakah sudah berkirm surat sebelumnya,” katanya yang mengindikasikan sistem administrasi di PLN Purwakarta.
Kedatangan insan pers yang tergabung dalam Forum Jurnalis Purwakarta (FJP) tidak lain adalah untuk menyampaikan serta mengkonfirmasi informasi penting yang berkaitan dengan PLN, demi kepentingan publik.
Menurut informasi yang disampaikan pegawai yang mengaku dirinya mewakili pimpinan PLN UP3 Purwakarta, bahwa pimpinannya sedang mengikuti kegiatan Diklat. Namun semua yang diterima oleh jurnalis FJP menunjukkan buruknya profesionalitas pimpinan PLN Purwakarta.
“Seharusnya seorang pimpinan bisa menjadi panutan dengan memberikan respons atau tanggapan yang baik. Tidak seperti sekarang menerima kami seperti ini dan terkesan tidak menghormati surat resmi yang sudah kami layangkan,” kata salah satu jurnalis FJP mempertegas.
Sikap ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan awak media. Atas kejadian tersebut, para jurnalis yang tergabung dalam beberapa media menyatakan akan mengajukan audiensi lanjutan sebagai bentuk tindak lanjut dan penegasan sikap.
Kekecewaan pun semakin bertambah karena perlakuan yang diterima dinilai tidak mencerminkan pelayanan yang layak, bahkan terkesan “alergi” terhadap media.
Perlu diketahui, pimpinan PLN Purwakarta saat ini baru menjabat sekitar satu bulan. Namun, sikap yang ditunjukkannya dinilai tidak patut dijadikan contoh bagi seorang pemimpin di institusi negara yang mengedepankan pelayanan publik dan keterbukaan informasi. Profesionalitas seorang pimpinan yang patut dipertanyakan.































