Bukan karena KUHAP dan KUHP baru yang semakin menyulitkan para pesuara-kritis yang mulai berlaku 2 Januari 2026. Tapi, memang sudah beberapa waktu belakangan ini, saya memikirkan cara baru bagaimana bersikap dan berhadapan dengan kekuasaan yang mabuk dan yang mabuk kekuasaan.
Dulu, saya berpikir, mana tahu, kalau sekali-sekali dikritik, tentu kritik yang bertanggung jawab, kekuasaan bisa belajar dari kritikan tersebut. Ternyata tidak. Justru sebaliknya, kekuasaan semakin pintar memanipulasi kekuasaannya. Saya menyimpulkan dua hal. Kekuasaan tidak mau dikritik, dan kritik memang tidak dibutuhkan kekuasaan.
Sebenarnya, tidak ada kebanggaan apapun untuk menjadi seorang kritikus selain hanya sedikit mendapat teman yang sehaluan, dan selebihnya, seorang kritikus hanya dianggap rewel dan cerewet. Alih-alih, tidak jarang dianggap semacam caper alias cari perhatian.
Kemudian, saya mengubah gaya dari mengkritisi untuk menjadi pemuji. Dalam beberapa tulisan, saya memuji keberhasilan kekuasaan atau lembaga pemerintahan tertentu dalam mengelola negara dan masyarakat.
Ternyata hasilnya tidak seindah yang saya harapkan. Pertama, saya dicurigai seperti sedang “mengambil hati” dan berhasrat dengan kekuasaan. Asumsinya, mana tahu dengan memuji keberhasilan pihak-pihak penguasa tertentu, nanti saya dipanggil sebagai staf ahli. Sebaliknya, sebagian yang lain melihat saya sebagai penjilat. Repot memang.
Belajar dari itu, saya mengubah lagi gaya pernyataan tulisan saya, yakni dengan merayu kekuasaan. Hasilnya sama, merayu kadang dianggap cukup dekat dengan memuji. Mengkritik, memuji, merayu, tidak mempan dan malah merepotkan diri sendiri.
Karena kehabisan cara, pernah saya mempertimbangkan untuk memaki-maki saja. Yang penting saya puas melampiaskan rasa kecewa pada kekuasaan yang mabuk tersebut. Sayangnya, itu bukan moral saya. Jadi, urung saya lakukan.
Pernah pula saya ingin bermain dengan sindiran, pantun, metafor-metafor, dan berbagai strategi pernyataan lainnya. Namun, rasanya pasti tidak lebih berguna dari cara-cara sebelumnya. Malah jangan-jangan jadi salah paham seperti memberi hiburan etis yang gratis.
Akhirnya, mucul strategi lain, yakni logikanya di balik, tidak lagi mengkritik kekuasaan, tapi justru mengkritik dan menghina diri sendiri kok mau dizalimi kekuasaan. Kalau mengkritik dan menghina diri sendiri, sekasar atau sebrutral apapun, tidak akan dikenai pasa-pasal yang menghina atau merendahkan pihak lain.
Tentu, gaya menghina diri sendiri itu sangat tidak efektif. Jangan-jangan kekuasaan malah seperti mendapat pembenaran, dan semakin berfoya-foya dengan kekuasaan. Namun, sebagai percobaan, akan coba saya lakukan.
Soal korupsi, saya tidak akan mengkritik lagi. Saya akan merendahkan diri sendiri kenapa saya tidak bisa dan tidak mampu korupsi. Saya akan mengatakan saya bodoh, karena korupsi itu membutuhkan kecerdasan dan keberanian.
Soal perlakuan tidak adil, saya akan mengkritik dan menghina diri sendiri kenapa saya mau dan bisa diperlakukan tidak adil. Saya akan mengkritik diri sendiri karena saya terlalu lemah, tidak berani, dan memang penakut.
Soal para pejabat bisa pergi-pergi ke mana-mana, bisa pesta-pesta, bisa membeli apa saja, saya akan pura-pura tidak tahu. Tapi, sambil berjalan dalam kesepian, saya akan merendahkan diri sendiri, kenapa kerja keras banting tulang, uang tidak pernah cukup untuk hidup sedikit bersenang-senang.
Soal ada aturan-aturan yang sewenang-wenang dan terlalu membela yang berkuasa, saya akan diam saja. Sembari diam-diam saya mengutuk diri sendiri kenapa saya tidak bisa terlibat dalam membuat aturan. Kenapa saya hanya menjadi warga biasa yang tidak penting.
Demikianlah, gaya ini akan coba saya terapkan beberapa waktu ke depan. Paling tidak, saya sedang berusaha menghibur diri sendiri, kenapa hidup menjadi manusia yang tidak bisa berbuat hal-hal penting. Mana tahu dengan cara menghina dan mengkritik diri sendiri, diri ini akan semakin kuat menghadapi kenyataan.
Namun, ada hal lain yang tidak kalah membuat saya gemetar. Saya ingin membuat puisi. Puisi yang menghina diri sendiri, bukan puisi kritik-kritik.
Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM.





















