33.4 C
Jakarta
Jumat, Juli 30, 2021

P3E Sulawesi dan Maluku Gelar Jurnalis Peduli Lingkungan

Warta.in, Polman – Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku KLHK bersama Komunitas Media Jurnalistik Peduli Lingkungan di Bumi Tipalayo, Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat menggelar kegiatan Jurnalistik Lingkungan dan Konservasi dalam pusaran era digital di Kabupaten Polman, Jumat 9 Juli 2021.

Lokasi Pantai Mampie ini juga dikenal sebagai Areal Wisata Konsevasi Gesit Penyu. Kegiatan ini tetap menerapkan  protokol kesehatan Covid-19.

Hadir para Jurnalistik diantaranya SulbarPos, Polman TV, Diskominfo Polman, Radar Sulbar, SulbarNews, Radio Mario FM para pegiat media lainnya bersama Komunitas Pencinta Lingkungan.

Dalam sambutannya Kadis LH Kabupaten Polman , Ir. Hj. Rachmin , M.Si mengapresiasi kegiatan Pertemuan Komunitas Jurnalistik Lingkungan dan Konservasi di era digital.

“Terimakasih juga atas arahan dan dukungan dari Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi Maluku bersama jajarannya,” ungkap Kadis LH Kab. Polman.

Selanjutnya Kapus P3E Sulawesi dan Maluku KLHK DR. Ir. Darhamsyah, M.Si membuka sekaligus memaparkan materinya.

Dalam sambutannya yang menitik beratkan era perubahan yang kian cepat.

“Kita hidup di era dengan berbagai dinamika serta tentunya bertujuan pada capaian kinerja yang baik dan bermanfaat,” ujar Darhamsyah.

“KLHK tetap berupaya demi kepentingan Masyarakat,” singkatnya.

Darhamsyah juga mengucapkan selamat datang kepada teman teman sahabat jurnalis di Provinsi Sulawesi Barat umumnya, dan Kabupaten Polewali Mandar pada khususnya.

“Kami berharap untuk tetap intens mengangkat berita-berita di Bumi Tipalayo, Sulbar ini tentang lingkungan hidup dan kehutanan dan memberi ruang dalam memberitakan bersanding dengan berita-berita lainnya,” harapnya.

“Untuk pemberitaan konservasi digital bisa mengambil kekuatan gambar yang kuat,” ujarnya lagi.

Ia menambahkan, lewat gambar yang berbicara, pesan yang disampaikan akan kuat dan  pesannya akan tertanam ke publik.

“Bagaimana memprogramkan bahasa-bahasa untuk pikiran,” ungkap Kepala P3E Sulawesi dan Maluku-KLHK dihadapan peserta.

Dikatakannya, mari kelola emosi yang intensif.

“Tulisan menuju pikiran bawah sadar, subconsius mind. Bagiamana bermain pada pikiran bawah sadar,” imbuhnya lagi.

Menurutnya, Subconscious Mind adalah pemegang kendali dari memori yang tersimpan. Sedangkan Unconscious Mind adalah gudang memori semua memori yang ada atau yang sudah dilewati, walaupun memori tersebut mungkin sudah terkubur dan terlupakan.

“Ada metode (VAK) Visual (dengan cara melihat), Auditori (dengan cara mendengar), Kinestetik (dengan bergerak, bekerja dan menyentuh),” jelasnya.

Diantaranya, terlibat sebagai bagian dari kelompok, menarik audiens untuk mengambil bagian sesuatu dan orang akan terlibat.

Tetap memberitakan secara continue( berulang ulang) sesuatu yang berulang ulang akan memprogram pikiran bawah sadar kita.

“Melibatkan figure otoritas,  tidak harus pejabat resmi, bisa jadi kelompok masyarakat, ketua komunitas dll,” tandas Kapus P3E Suma, Darhamsyah.

Sementara itu Hikmah ST, M.Si, Sekertaris Dinas LH Polman mengatakan, kami berharap berita sorotan lingkungan makin intens.

Menjawab pertanyaan publik mengapa ada kampung iklim, mengapa kita tidak boleh membakar sampah , sampah laut, konservasi penyu dan lain-lain.

“Untuk itulah perlunya literasi dan kerja bersama dengan penggiat jurnalisme, agar makin intens terhadap lingkungan kita sendiri,” imbuh Sekertaris Dinas LH, Kab Polman.

Kedepannya, perlunya pertemuan jurnalis internal , adanya  media center di Kabupaten Polman ini  serta sinergitas  makin solid antara media dan pihak pemerintah.

“Bagaimana berdiskusi dan membangun opini agar informasi yang berkembang tidak keliru sehingga bisa menimbulkan berita Hoaks,” pungkasnya.

Dilanjutkan oleh Achmad Yusran, sosok aktivis lingkungan dari Forum Komunitas Hijau, juga seorang pegiat jurnalisme.

Menurutnya segala sesuatu yang dilihat, itu adalah fakta.

“Opini itu bukan karya jurnalistik tetapi bagian dari pendapat pribadi, literasi dan komunikasi itu berbeda,” ucap Achmad Yusran.

“Peran pentingnya komunikasi dan  informasi. Satu hal lagi, Karya jurnalistik tidak pernah lepas dari gambar,” ujarnya.

Bagaimana kita berprilaku ramah terhadap lingkungan, berlaku arif dan adil terhadap semesta. Peran jurnalistik tidak bisa terlepas dari kaidah, etika dan estetika.

Disinilah dituntut kreativitas para jurnalis , membidik  sudut berita atau angel.

“Mari kita mencari solusi, jangan cuma rencana,”pesan Bang Yus, Sapaan Akrabnya.

Ia juga  menambahkan, contohnya TPA berapa jumlah jiwa suatu kota atau kabupaten, berapa luasan dan beban yang bisa diterima di TPA dan melalui apa.

“Jurnalis juga mampu Berkarya bukan hanya lewat tulisan, tetapi bisa juga lewat hal-hal lainnya untuk lingkungan,” pesan Yusran diakhir sesi.

Dilanjutkan dengan paparan Yusri Mampie dari Komunitas Sahabat Penyu.

“Kisah awal mula, sejak dahulu tergabung di salah satu media, seiring berjalannya waktu menyisihkan pendapatan untuk konservasi penyu,” kenang Yusri.

“Seiring berjalannya waktu tentunya peranan media tak lepas dari perjalanan Komunitas Sahabat Penyu ini,” ungkapnya.

Disini juga  kami mencari pihak lain untuk menjadi bapak angkat konservasi pada tukik/ bayi penyu.

“Juga menggalakkan wisata edukasi penyu,” tambah Yusri Mampie.

Kita tidak menggunakan program tukik yang dibayar per ekor kemudian dilepas.

“Jangan sampai menjadi bisnis yang berkedok konservasi,” ujarnya.

“Kita harus merubah mindset, Jangan lagi begitu menjadi sorotan baru intens,”pesannya di akhir sesi pertemuan bersama komunitas jurnalistik Bumi Tipalayo, Kabupaten Polman Sulawesi Barat.

Disela sela kegiatan ini juga dilaksanakan pelepasliaran bayi penyu (tukik) ke lautan oleh sahabat penyu bersama panitia KLHK dan para  peserta

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img
error: Content is protected !!