29.8 C
Jakarta
Jumat, Januari 16, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Perencanaan Dinilai Kurang Tepat, Program Upland Nanas di Subang Dikhawatirkan Gagal Panen

Perencanaan Dinilai Kurang Tepat, Program Upland Nanas di Subang Dikhawatirkan Gagal Panen

Subang, Warta In Jabar – Program Upland yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendorong pengembangan sektor pertanian di wilayah dataran tinggi, kini menuai sorotan di Kabupaten Subang. Perencanaan yang dinilai kurang tepat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya gagal panen pada komoditas nanas.

Pada tahun anggaran 2025, Kabupaten Subang melalui Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) menjadi salah satu penerima Program Upland dengan nilai anggaran sebesar Rp10,2 miliar. Namun, dana yang akan dicairkan disebut hanya sebesar Rp7,6 miliar. Program tersebut difokuskan pada budi daya nanas dengan total luasan 170 hektare, terdiri dari 70 hektare lahan existing dan 98 hektare lahan new planting.

Kegiatan Upland ini melibatkan 11 kelompok tani yang tersebar di empat kecamatan, yakni Sagalaherang, Jalancagak, Ciater, dan Kasomalang. Adapun bantuan yang diberikan meliputi bibit nanas dengan alokasi 16 ribu batang per hektare, pupuk nitrogen, pupuk NPK, hand sprayer, mesin pemotong rumput, serta bantuan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) senilai Rp350 juta dengan spesifikasi panjang 1.000 meter dan lebar 2 meter.

Namun demikian, seorang warga sekaligus petani nanas yang ditemui Warta In saat meninjau salah satu lokasi kebun nanas menyampaikan kekhawatirannya. Ia mengaku bersyukur dan bangga atas adanya bantuan Program Upland, namun menilai waktu tanam yang dipilih kurang tepat.

“Secara teori nanas memang bisa ditanam kapan saja, tapi idealnya penanaman dilakukan pada bulan Agustus saat musim kemarau. Kalau ditanam November atau Desember yang notabene musim hujan, dikhawatirkan akar akan membusuk akibat kelembapan tanah yang terlalu tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, jika penanaman dilakukan pada bulan Agustus, maka ketika memasuki musim hujan pada November, akar tanaman sudah cukup kuat karena telah berumur sekitar tiga bulan. “Coba lihat nanti di bulan Februari hasilnya seperti apa. Saya menduga banyak bibit yang mati dan hasilnya tidak maksimal,” tambahnya.

Ia juga menyoroti jumlah bibit bantuan yang dinilai jauh dari ideal. “Untuk lahan datar, idealnya 40 ribu batang per hektare dengan jarak tanam 40 x 50 cm. Sedangkan untuk lahan miring antara 30 sampai 35 ribu batang per hektare. Bantuan yang hanya 16 ribu batang per hektare itu jelas sangat kurang,” tegasnya.

Selain itu, bantuan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) juga dinilai tidak mempertimbangkan kondisi lapangan. Pasalnya, setiap kelompok tani menerima nilai anggaran yang sama, padahal medan jalan berbeda-beda.

“Ada jalan yang datar, ada yang naik turun, bahkan ada yang melewati solokan kecil sehingga harus dibuat gorong-gorong. Apakah konsultan sebelumnya tidak melakukan survei lapangan?” katanya dengan nada mempertanyakan.

Ia berharap Program Upland benar-benar dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat bagi petani. Namun, sebagai petani nanas yang telah puluhan tahun berkecimpung, ia menilai perencanaan awal sangat menentukan hasil akhir.

“Kalau dari awal perencanaannya sudah kurang baik, bagaimana mau menentukan hasil yang maksimal. Saya berharap program ini bukan sekadar untuk menyerap anggaran akhir tahun saja,” pungkasnya lirih.

Sementara itu, saat Warta In berupaya mengonfirmasi hal tersebut kepada Manajer Kegiatan Upland Nanas, Supriatana, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperta Subang, melalui sambungan telepon seluler pada Jumat (19/12/2025), ia menyampaikan kesediaannya untuk memberikan klarifikasi secara langsung.

“Silakan bertemu hari Senin, 22 Desember 2025, pukul 08.00 WIB di kantor, karena saat ini banyak kegiatan,” ujarnya singkat.

**TIM**

Berita Terkait