31.2 C
Jakarta
Selasa, September 28, 2021

Presiden Jokowi Memakai Pakaian Baduy, Tepat untuk Pembelajaran Anak Bangsa

PAKAIAN ADAT SUNDA BADUI, DALAM PIDATO KENEGARAAN JOKOWI, ADALAH SANGAT TEPAT BAGI PEMBELAJARAN ANAK BANGSA

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) – Ketua Umum DPP Partai Sunda Nusantara (PSN)

Bandung – Sampurasun, Pada tanggal 16 Agustus 2021, adalah hari bersejarah bagi Sunda dan Nyunda, dimana Presiden Republik Indonesia, pertama kalinya sejak 76 tahun Indonesia Merdeka, menyampaikan pidato kenegaran di Gedung MPR/DPR memakai pakaian adat Sunda Badui.

Penghormatan bagi suku kedua terbanyak di Indonesia ini, dilakukan oleh presiden Jokowi, sungguh suatu hal yang sangat menggembirakan, dimana suku Sunda yang berjumlah sekira 25% dari jumlah total penduduk Indonesia. Walaupun belum pernah menempati posisi presiden RI, namun posisinya terhormat, dan di angkat marwahnya oleh Presiden Jokowi. Inilah sejatinya nasionalis yang mampu memahami Persatuan Indonesia, di mana ada rasa saling asih sesama anak bangsa.

Penghormatan ini, bisa menjadi makna simbolik akan pentingnya kemajuan bangsa Indonesia, dengan menghidupkan ideologis berbasis budaya, dengan pemahaman *Sunda Nusantara* bagi peradaban Indonesia yang lebih tangguh dan lebih tumbuh.

Secara akademik filosofis kata kunci *Sunda Nusantara*, pada tahun 2008, sudah dilahirkan oleh Prof.DR. H.R.E. Kosasih Taruna Sepanji, MS., dalam bukunya yang berjudul “Fitrah Manusia” *Sunda Nusantara*. Semasa hidupnya Prof. Kosasih adalah Guru Besar STPDN dan dosen Sespim POLRI. Jadi betapa pentingnya untuk kemajuan Indonesia yang beradab, bangsa Indonesia mempunyai spirit yang tegak lurus kokoh memperjuangkan mainstream ideologi budaya dengan basis pemikiran Sunda Nusantara.

Secara historis, kerajaan-kerajaan di nusantara berinisial *A*, di timur Brawijaya, di Barat Sriwijaya, di tengah Kutai Kertanagara, kemudian Padjadjaran di tanah Pasundan, dan Majapahit didirikan oleh pangeran Wijaya, putra kerajaan Sunda Galuh, yang menikah dengan salah seorang putri Kediri. Kepulauanpun bernama Sunda besar dan Sunda kecil (sekarang nusa tenggara), dan di hubungkan dengan selat Sunda. Jadi nama besar Sunda dengan inisial *A*, memang sangat mewarnai Indonesia baik dari sisi penamaan teritorial maupun dalam historis nama-nama kerajaan.

Budaya dan kesukuan sebagai penopang kekuatan Nasional adalah suatu keniscayaan, bahkan agama pun, kekuatannya di topang oleh budaya dan kesukuan, sebagai contoh Islam pun dalam historisnya bisa kuat karena ada kaum Anshor dan kaum Muhajirin.

Jadi sangat penting manakala menghidupkan kata kunci Sunda secara nasional, karena idealisme Sunda mempunyai kekuatan untuk melakukan perubahan-perubahan nasional secara lebih baik.

Untuk perubahan setiap pribadi dan prilakupun, kata Sunda syarat filosofis yang luar biasa baiknya, dilihat dari kirata bahasa Sunda, kata Sunda artinya adalah : anu nyusun dinu dada., dan kemudian Uga Sunda atau Sabda Raja dari Sribaduga Siliwangi yang sangat baik dan paling di kenal oleh masyarakat Sunda dan Nasional adalah : Silih Asih, Silih Asuh jeung Silih Asah, anu kudu ngajadi Silih Wawangi.

Keilmuan dengan kearifan lokal Sunda, secara otomatis akan mengokohkan rasa Nasionalisme, dan hal ini sangat penting untuk di perjuangkan mengingat sangat dahsyatnya serangan-serangan budaya luar yang merusak jati diri bangsa Indonesia.

Dengan pakaian adat Sunda Badui yang di pakai Presiden Jokowi, maka otomatis mengingatkan akan *Kujang* lambang historis kerajaan Sunda Padjadjaran yang punya makna dua arti, melalui kirata bahasa Sunda, ada yang mengartikan : *Ku* du tukuh kanu *Jang* ji, dan ada pula yang mengartikan : *Ku* du *Jang* ngariksa diri. Arti dari keduanya sangat baik.

Apalah artinya baju adat, hanya sekedar baju, namun tentu saja menjadi sangat penting manakala di pakai oleh Presiden Jokowi dalam satu pidato kenegaraan, menjadi perlambang ideologis budaya yang mencerminkan sila kedua dari Pancasila, _Kemanusiaan yang Adil dan Beradab_. Kata kunci Beradab lahir dari Peradaban, dan tentu saja Peradaban lahir dari Budaya. Harus di sadari Budaya itu adalah ilmu, dan historinya ilmu Budaya Indonesia lahir dari ilmu budaya Nusantara, dan ilmu budaya Nusantara lahir dari budaya Sunda. Jadi Indonesia itu adalah anaknya Nusantara dan Nusantara adalah anaknya Sunda, dengan rangkaian inilah kekuatan Nasionalisme harus menyadari histori Sunda Nusantara, sebagai Nenek Moyangnya Indonesia. Sebagai patokan bahwa Sunda adalah Ibu kandungnya keberagaman budaya Nusantara, bisa di lihat dari kerajaan tertua di Indonesia adalah Kerajaan Sunda Tarumanagara dan Salakanagara, bahkan sekarang sedang di teliti terus oleh dunia, terkait artefak piramid di Gunung Padang Cianjur, yang diketahui lebih tua dari piramid di Mesir. Dari semua ini tidak terbantahkan bahwa ilmu budaya Sunda adalah Ibu Kandung asal muasal dari keberagaman ilmu budaya Nusantara.

Presiden Jokowi adalah suku Jawa, dengan memakai pakaian adat suku Sunda ini, mengisyaratkan akan pentingnya ilmu budaya Sunda agar di kuasai oleh suku-suku yang ada di Indonesia, sehingga walaupun bukan suku Sunda, karena mencintai ilmu budaya Sunda menjadi Nyunda, dan yang Nyunda ini sangat terhormat, dan kehormatannya bisa melebihi suku Sunda sendiri. Dengan memahami ilmu budaya Sunda, maka tidak akan terjadi lagi kebodohan akan ilmu budaya, sebagai contoh ada salah seorang tokoh ulama yang tidak pada tempatnya menghina kata Sampurasun dengan plesetan Campuracun, dan Rampes dengan plesetan kempes. Semua Sunda dan Nyunda tidak membalas apapun terhadap hinaan tersebut, karena melihat tokoh yang menghina tersebut tidak memahami ilmu budaya Sunda yang bersatu padu dengan Islam yang menjadi keyakinan 99% Sunda dan Nyunda, ucapan salam dengan ucapan sampurasun dan rampes, saling kuat menguatkan. Para tokoh Sunda dan Nyunda hanya tersenyum mereka menganggap kepada orang yang menghina tersebut sebagai *”Hampuraeun”*, maknanya adalah orang yang patut di ma’afkan dan dimaklumi, karena ketidaktahuan ilmu, dan kebodohannya.

Dalam perjalanan mengisi kemerdekaan, terjadi dinamika politik kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga detik ini tidak pernah berhenti rakyat Indonesia berjuang untuk menegakkan kedaulatannya melawan penjajahan gaya baru, yang lebih kompleks, dalam bentuk Neo Kolonialisme ( Nekolim ).

Untuk melawan hegemoni nekolim ini, perlu kesadaran menyeluruh terkait sejarah Pra Proklamasi, sebagai kekuatan jatidiri bangsa Indonesia untuk melawan penjajahan gaya baru, yang berekspansi setiap detik menyerang bangsa Indonesia melalui teknologi informasi elektronik dengan berbagai penetrasi Kebudayaan luar, penjajahan ekonomi serta pencengkraman sosial politik gaya baru.

Atas infiltrasi dari luar dengan senjata-senjata pemikiran para penjajah gaya baru inilah, melalui muatan IPOLEKSOSBUD HANKAM IPTEK para penjajah, gencar melakukan serangan sporadis dan radikal, masuk merusak melalui geografi, demografi dan infra struktur bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia mengalami kebimbangan, oleng, ragu, tertarik ke kiri maupun ke kanan. Oleh karena itu, bangsa Indonesia menjadi kontraproduktif bagi kemajuan bangsanya sendiri, karena setiap sa’at di sibukkan dengan pertengkaran, ancaman perpecahan, dis integrasi bangsa yang sangat rentan menghancurkan sendi-sendi Persatuan Indonesia.

Dalam menghadapi dan mengantisipasi situasi dan kondisi kritis ini, diperlukan kekuatan ideologis yang bisa membebaskan jiwa-jiwa bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan gaya baru ini, untuk itu tidak ada jalan akan pentingnya menghidupkan dan mengangkat Kebudayaan, sebagai kekuatan yang mampu menahan serangan-serangan dari luar, dan juga mampu mencairkan benturan dikotomi politik aliran di Indonesia antara Nasionalis dan Islam.

Kebudayaan mempunyai kekuatan kelenturan politis atas kiri dan kanan yang sangat baik untuk menahan segala rupa bentuk perpecahan yang terjadi, Kebudayaan menarik diametrikal kekuatan di tengah yang Moderat, bagi kuat kokohnya Persatuan Indonesia.

Kebudayaan adalah ilmu yang membangun Peradaban yang beradab dan harmonis bagi manusia. Sangat tepat untuk dihidupkan, di tumbuhkan, dan di kuat kokohkan di Indonesia.

Kebudayaan apakah yang perlu diperjuangkan, kalau bukan keberagaman ilmu Budaya Nusantara yang sangat kaya beragam beraneka warna dari Sabang sampai Merauke, dan semua keanekaragaman budaya Nusantara ini berawal dari bapak moyangnya, yaitu budaya Sunda, sebagaimana halnya para nabi dan rasul mempunyai bapak moyangnya Nabi Adam a.s.

Hingga sekarang Indonesia memiliki kekayaan berbagai ragam aneka ilmu Budaya, yang hingga sa’at ini hidup lestari sebagai warisan dari zaman kerajaan-kerajaan sebelum datangnya Kolonialisme.

Salah satu ilmu Budaya kebanggaan Indonesia adalah Sunda. Dalam historinya Sunda Land adalah kepulauan Sunda besar dan kepulauan Sunda kecil yang di hubungkan oleh selat Sunda. Sunda Land sa’at ini mencakup wilayah Asia Tenggara, bahkan pengaruhnya hingga benua Asia, terbukti India yang berkeyakinan Sindu disinyalir berasal dari kata Sunda, bahkan Sunda Land sangat di kenal oleh Tibet, Tiongkok, Arab dan Persia.

Jadi suku Sunda itu hanya menjaga ilmu budaya Sunda, dengan bahasa Sundanya, sedangkan Sunda sendiri adalah universal sebagai ilmu budaya, sama halnya seperti Agama Islam yang universal di jaga kemurniannya oleh Suku Arab, dan bahasa Arab.

Dengan histori inilah maka bangsa Indonesia harus bangga dengan jati dirinya mempunyai peradaban Sunda yang tinggi, nomor satu di dunia yang dibuktikan sa’at ini oleh para arkeolog dengan penemuan artefak Piramid Gunung Padang di tanah Pasundan Cianjur yang jauh lebih tua dari piramid di Mesir. Oleh karena itu secara akademik ilmu budaya nasional Indonesia, jika di satu padukan menjadi *Sunda Nusantara*, yang kemudian melahirkan bangsa Indonesia.

Demikianlah makna penting, dari goresan sejarah di 76 tahun Indonesia merdeka, ada seorang Presiden bernama Jokowi, yang gagah berani memakai pakaian adat Sunda Badui, berpidato kenegaraan di Gedung MPR/DPR.

Allahu Akbar.

Merdeka. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Cag. Rampes.

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img