INDONESIAN JOURNALIST WRITE THE TRUTH

31.2 C
Jakarta
Selasa, Februari 27, 2024

Rektorat dan Perluni Unika Atma Jaya: Pilihan Generasi Muda Krusial pada Pemilu 2024

Array

Warta.in | Jakarta – Pilihan generasi muda pada pemilu 2024 krusial menentukan kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia ke depan. Terinspirasi dari buku “Life Begins At Forty” karangan Walter Boughton Pitkin (6 Februari 1878 – 25 Januari 1953), anggap saja di atas usia 40 tahun disebut Generasi Dewasa Menengah, sementara rentang usia 17 – 40 disebut generasi muda.

Pemilu 2024 mencatat rentang usia 17 – 40 tahun sebanyak 106.351.750 masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT), atau 63.953.031 usia 17-30 tahun ditambah 42.398.719 usia 31-40 tahun. Pengumuman KPU menetapkan 204.807.222 merupakan jumlah keseluruhan pemilih. Dengan total pemilih yang masuk kategori Generasi Muda pada Pemilu 2024 hampir 52% dari keseluruhan.

Rektorat dan Perluni Unika Atma Jaya menilai generasi muda perlu mendapat edukasi politik yang dapat dipertanggungjawabkan secara data, akademis dan sesuai fakta di Masyarakat.

Kolaborasi penyelenggara universitas dan alumni Unika Atma Jaya menghasilkan Seminar Nasional Edukasi Politik hibrida yang dihadiri oleh lebih dari 1000 orang muda.

Generasi muda yang hadir adalah pelajar pemilih pemula dan mahasiswa, yang artinya dalam rentang usia 17 sampai di bawah 30 tahun.

Seminar Nasional edukasi politik bertajuk “Orang Muda dan Masyarakat Mencermati Pemilu Bersih dan Mengawal Hasil Pemilu secara Bertanggung jawab untuk Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik” (Jakarta, 26/1).

“Pemilu 2024 pada 14 Februari nanti sangat menarik karena juga bertepatan dengan hari raya kasih sayang, yaitu Hari Valentine yang identik dengan orang muda” ujar Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana Sp.S (K).

Rektor Yuda mendeskripsikan perilaku orang muda yang dilanda asmara sesuai latar belakangnya sebagai neorolog dan pendidik, lalu mengaitkan dengan para pemilih Pemilu yang jatuh cinta pada calon pilihannya.

“Orang muda perlu memilih secara bijak, dan bersama kita membangun suatu masyarakat yang menghargai setiap pilihan, mari sukseskan pemilu dengan rasa dan logika.” Prof. Yuda mengakhiri sambutannya.

Sementara Ketua Umum Perluni Unika Atma Jaya, Michell Suharli mengapresiasi ajakan pimpinan almamater untuk mengedukasi pemilih pemula dan generasi muda dalam rangka menyukseskan Pemilu Damai.

“Peranan generasi muda dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia sangat krusial. Mulai dari perjuangan kemerdekaan, perjuangan lahirnya order baru, hingga perjuangan era reformasi.

Berdasarkan paparan seminar tadi, sangat mungkin generasi muda menjadi game changer pilihan rakyat tentang kepemimpinan nasional.”, komentar Michell sesuai seminar.

Komisioner KPU August Mellaz selaku pembicara kunci memberi tips memilih cerdas bagi generasi muda.

Pemilih muda diharapkan memberikan atensi pada proses Pemilu, menyuarakan aspirasi atau ide gagasan pribadi, mencermati edukasi politik dari tokoh yang baik, memahami program kerjanya.

Peneliti Senior Institute for Advance Research UAJ Muhammad Fajar, Ph.D. selaku pembicara memaparkan pemikirannya tentang aspirasi, kampanye, dan pilihan politik dikaitkan dengan respon orang muda.

Menurut Fajar, generasi muda perlu menemukan strategi-strategi kreatif dalam membangun komitmen yang kredibel dengan para politisi.

Pembicara dari aktivis kawal pemilu, Elisabeth Husrini memaparkan pentingnya generasi muda terlibat mengawal hasil Pemilu untuk kebaikan Indonesia.

Partisipasi generasi muda dalam Pemilu juga sangat penting karena merupakan salah satu indikator kesehatan demokrasi, bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, dan akhirnya berdampak sosial bagi dirinya sendiri

Praktisi hukum kawakan Cornel B. Juniarto, pembicara seminar juga memberikan perspektif hukum praktik kampanye dan demonstrasi kekuasaan, terkait upaya terwujudnya pemilu bersih dan damai.

Ancaman Pemilu menjadi tidak bersih yang terbesar adalah politik uang, yang berakibat mendistorsi demokrasi, menciptakan ketidaksetaraan politik, dan meningkatkan apatisme publik terhadap politik.

Lagi-lagi peran orang muda dikatakan sangat krusial dalam perspektif hukum pelaksanaan pemilu.

Pembicara dari Litbang Kompas Vincentius Gitiyarko Priyatno mengajak generasi muda untuk bersikap kritis membaca hasil survei dan bijak memanfaatkan media sosial tentang proses Pemilu.

“Lebih dari separuh pemilih adalah anak muda. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda ikut memegang peran krusial dalam Pemilu 2024,” ujar Vincentius.

Peneliti Senior PKBM Unika Atma Jaya, Prof. Dr. Clara R.P. Ajisuksmo menampilkan hasil survei yang menunjukkan bahwa orang muda memiliki kepedulian dan antusiasme terhadap isu politik dan Agenda Pemilu tahun 2024.

Lebih banyak orang muda berpartisipasi secara pasif dengan mengikuti pemberitaan terkait tokoh dan situasi politik terkini. Secara umum orang muda memiliki sikap realistis, namun tetap optimis.

Dalam Seminar Nasional Edukasi Politik bagi pelajar, mahasiswa dan generasi muda yang dimoderatori oleh Salvatore Simarmata, S.Sos., M.A., juga diadakan penandatanganan Pernyataan Bersama Pimpinan Dan Alumni, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Pernyataan bersama itu ditandatangani oleh Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. Yuda Turana, Sp.S (K) dan Ketua Perluni-UAJ Michell Suharli, CPA, CA., yang menggambarkan sinergitas dan jiwa korsa yang menyatu antara alumni dan pimpinan almamaternya.

Pimpinan dan Alumni Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bersepakat menyatakan:

1. Mengambil bagian dalam Pemilu, sebagai hak dan tugas kami sebagai warga negara Republik Indonesia.

2. Mengutamakan pendekatan damai tanpa kekerasan, sebagai salah satu cara menjunjung hak asasi setiap warga mengambil bagian dalam Pemilu.

3. Melibatkan orang muda dan mahasiswa dalam aksi-aksi nyata meningkatkan kemandiran dan kebebasan dalam Pemilu berdasarkan suara hati dan akal sehat.

4. Mengutamakan kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan untuk memperkuat pendidikan demokratis.

5. Mengecam dan menolak keras sikap memperalat anak muda dan mahasiswa dan segala bentuk kekerasan mengatasnamakan kesuksesan Pemilu.(*)

Latest news
Related news