Sibolangit dan Tanggung Jawab Kita Menyelamatkan Pendidikan Karakter Generasi Muda
Oleh: Ade Azmil Azhary Nasution Pelatih Pembina Pramuka
Medan ( Warta.In ) – Rencana pelaksanaan Jambore Daerah Sumatera Utara Tahun 2026 di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit tidak boleh dipandang sekadar sebagai agenda rutin organisasi kepemudaan. Momentum ini harus dimaknai sebagai panggilan bersama untuk mengembalikan peran strategis Sibolangit sebagai pusat pembinaan karakter generasi muda di Sumatera Utara—sebuah peran yang pernah begitu kuat, namun dalam beberapa tahun terakhir cenderung meredup.
Kita hidup di era perubahan yang bergerak cepat. Kemajuan teknologi digital membawa kemudahan luar biasa, tetapi juga menghadirkan tantangan serius bagi pembentukan karakter generasi muda. Interaksi sosial semakin berkurang, ketahanan mental diuji oleh berbagai tekanan, dan nilai-nilai kedisiplinan serta tanggung jawab menghadapi tantangan baru. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas. Generasi muda membutuhkan ruang pembinaan yang mampu membentuk kepribadian secara utuh.
Di sinilah Gerakan Pramuka memiliki relevansi yang tidak tergantikan. Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi sebuah sistem pendidikan nonformal yang telah terbukti efektif dalam membentuk karakter. Melalui pengalaman langsung, kehidupan bersama, dan pembelajaran di alam terbuka, anggota Pramuka belajar tentang kemandirian, kepemimpinan, tanggung jawab, serta semangat kebersamaan.
Jambore Daerah merupakan salah satu bentuk nyata dari proses pendidikan tersebut. Ribuan anggota Pramuka dari berbagai kabupaten dan kota akan berkumpul, hidup bersama dalam kesederhanaan, belajar bekerja sama, dan menghadapi tantangan secara kolektif. Pengalaman ini tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga membangun karakter yang kuat—sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi masa depan.
Pemilihan Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit sebagai lokasi kegiatan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertimbangan teknis. Kawasan ini merupakan bagian penting dari sejarah pendidikan kepramukaan di Sumatera Utara. Sejak dekade 1970-an, Sibolangit telah menjadi pusat berbagai kegiatan kepramukaan, tempat ribuan generasi muda ditempa menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.
Lingkungan alam Sibolangit yang berada di kawasan pegunungan memberikan ruang pembelajaran yang autentik. Alam mengajarkan kesederhanaan, ketahanan, serta kemampuan beradaptasi. Nilai-nilai tersebut tidak dapat diajarkan secara efektif melalui teori semata, tetapi harus dialami secara langsung.
Namun, realitas menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kepramukaan berskala besar di Sibolangit mengalami penurunan. Fungsi kawasan ini sebagai pusat pembinaan generasi muda tidak lagi sekuat sebelumnya. Jika kondisi ini dibiarkan, kita berisiko kehilangan salah satu aset pendidikan karakter yang sangat berharga.
Oleh karena itu, pelaksanaan Jambore Daerah Sumatera Utara Tahun 2026 harus dipandang sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali peran strategis Sibolangit. Revitalisasi ini bukan sekadar perbaikan fasilitas fisik, tetapi pemulihan fungsi dan makna Sibolangit sebagai ruang pembinaan generasi muda.
Komitmen Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Dr. Dikky Anugerah, S.Sos., M.SP untuk menghidupkan kembali aktivitas kepramukaan di Sibolangit merupakan langkah yang patut didukung. Ini adalah bentuk investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Pembangunan suatu daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas karakter generasinya. Generasi muda yang memiliki integritas, disiplin, dan jiwa kepemimpinan akan menjadi fondasi utama kemajuan masyarakat.
Sebaliknya, tanpa pembinaan karakter yang kuat, pembangunan fisik akan kehilangan makna jangka panjang.
Dalam konteks ini, Sibolangit bukan sekadar lokasi perkemahan. Ia adalah simbol pendidikan karakter. Menghidupkan kembali Sibolangit berarti menjaga kesinambungan proses pembinaan generasi muda Sumatera Utara.
Tanggung jawab ini tidak dapat dipikul oleh Gerakan Pramuka semata. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, masyarakat, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan harus memberikan dukungan nyata.
Revitalisasi Sibolangit harus menjadi gerakan bersama, karena masa depan daerah ini sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.
Jambore Daerah Sumatera Utara Tahun 2026 harus menjadi titik balik. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengembalikan Sibolangit sebagai pusat pembinaan karakter yang hidup, aktif, dan berkelanjutan.
Kita tidak hanya sedang menghidupkan kembali sebuah kawasan perkemahan. Kita sedang menjaga masa depan generasi muda.
Karena pada akhirnya, menyelamatkan Sibolangit berarti menyelamatkan masa depan Sumatera Utara.(pm16)






























