Samosir, Sekalipun kami para keturunan Opung Tongam Sitanggang Silo, merantau ke berbagai daerah tetapi rumah batak peninggalan opung kami opung Tongam Sitanggang Silo yang ada di Huta Lumban Silo Pangururan Samosir tetap ada sampai sekarang. Rumah Batak itulah yang merupakan bukti utama yang menunjukan jati diri kami semua, bahwa kami berasal dari Huta Lumban Silo. Dari bentuk dan posisi rumah batak peninggalan opung kami itu, sudah memenuhi kriteria yang dituliskan para ahli sebagaimana yang saya cantumkan ini, papar Sudung Sitanggang yang tinggal di Bontang, yang merupakan cicit dari Opung Tongam Sitanggang Silo. Rumah Batak inilah yang membuktilan bahwa Opung kamilah Sipukka Huta di Huta Lumban Silo ini
- Kedudukan Ruma Bolon Sipukka Huta dalam Huta Batak
Dalam tata ruang huta Batak Toba, rumah milik sipukka huta (pendiri kampung) menempati posisi yang paling penting secara sosial dan simbolik. Sipukka huta adalah pihak yang pertama membuka wilayah dan memiliki hak ulayat atas tanah tersebut, sehingga rumahnya menjadi pusat genealogis dan otoritas adat dalam kampung. Oleh karena itu, Ruma Bolon miliknya biasanya terletak pada posisi strategis di deretan rumah yang menghadap ke halaman tengah (alaman), yaitu ruang komunal tempat berlangsungnya musyawarah, pesta adat, dan aktivitas bersama.1 Posisi ini menegaskan bahwa seluruh struktur sosial huta berorientasi pada garis keturunan pendiri kampung.
Secara umum, deretan Ruma Bolon berada saling berhadapan dengan sopo (lumbung padi) di sisi seberangnya, dan rumah milik sipukka huta berada di titik yang paling dihormati dalam barisan tersebut. Letak ini bukan hanya menunjukkan status sosial, tetapi juga berfungsi sebagai pusat kontrol sosial, karena dari posisi itu pendiri huta dapat mengawasi aktivitas di alaman.2
- Bentuk Pintu Ruma Bolon Sipukka Huta
Bentuk pintu Ruma Bolon tradisional, termasuk milik sipukka huta, relatif kecil dan lebih rendah dari tinggi tubuh manusia dewasa. Pintu ini biasanya berada di bagian depan rumah dan dibuat sedemikian rupa sehingga setiap orang yang masuk harus menundukkan kepala.3 Tindakan menunduk tersebut merupakan simbol penghormatan kepada pemilik rumah sekaligus kepada otoritas adat yang melekat pada garis keturunan sipukka huta.
Pada bentuk yang lebih tua, akses masuk tidak langsung melalui pintu depan, tetapi melalui kolong rumah dan naik ke ruang utama. Namun pada beberapa Ruma Bolon milik pendiri huta yang kemudian berkembang, pintu depan tetap kecil dan sempit untuk menegaskan wibawa dan kontrol sosial.4 Pintu yang kecil juga memiliki fungsi pertahanan, karena mempersulit musuh masuk secara cepat.
- Makna Simbolik Pintu bagi Sipukka Huta
Bagi sipukka huta, pintu rumah bukan sekadar elemen arsitektural, tetapi simbol legitimasi. Setiap orang yang masuk ke dalam rumah pendiri huta harus menunjukkan sikap hormat melalui posisi tubuh yang menunduk. Hal ini menegaskan struktur hierarkis dalam
1 J. C. Vergouwen, *The Social Organisation and Customary Law of the Toba-Batak* (The Hague: Martinus Nijhoff, 1964), hlm. 82–84.
2 H. Th. Fischer, *Batak Village and Its Social Structure* (The Hague: Martinus Nijhoff, 1933), hlm. 24–26.
3 James M. T. Hasibuan, *Arsitektur Tradisional Batak Toba* (Medan: Bina Media, 1985), hlm. 48.
4 Richard Schefold, *Indonesian Houses: Tradition and Transformation in Vernacular Architecture* (Leiden: KITLV Press, 2004), hlm. 70.
masyarakat Batak yang berbasis genealogis.5 Selain itu, pintu yang rendah melambangkan bahwa rumah tersebut adalah ruang adat yang memiliki wibawa, tempat keputusan penting bagi seluruh keturunan diambil.
- Orientasi dan Hubungan dengan Alaman
Letak Ruma Bolon sipukka huta selalu berorientasi ke alaman sebagai pusat kehidupan komunal. Dari posisi ini, ia:
- menjadi titik rujukan dalam pembagian ruang
- menjadi tempat awal dalam pelaksanaan upacara adat
- menjadi simbol kesatuan 6
Dengan demikian, rumah pendiri huta tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat ritus dan legitimasi sosial.
- Sintesis Antropologis
Bentuk pintu yang rendah dan letak yang strategis menunjukkan bahwa Ruma Bolon sipukka huta adalah representasi dari:
- otoritas genealogis
- kontrol social
- pusat kosmologis
Rumah tersebut menjadi “poros sosial” yang menghubungkan struktur kekerabatan, tata ruang, dan sistem nilai adat. Perbedaan ukuran pintu dan posisi rumah menegaskan bahwa dalam masyarakat Batak tradisional, arsitektur adalah ekspresi langsung dari hierarki dan identitas komunal.7

5 Koentjaraningrat, *Pengantar Ilmu Antropologi* (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 215.
6 Vergouwen, *The Social Organisation*, hlm. 85.
7 Reimar Schefold, *Traditional Architecture in Indonesia* (Leiden: KITLV Press, 2008), hlm. 119.




















