28.1 C
Jakarta
Minggu, Februari 28, 2021

Ternyata Selama Ini Saya Berteman Dengan Seorang Komunis Sejati HB (WK)

Oleh : Setya Dharma (Senator Jaringan Aktifis ProDem)

OPINI – Sekitar tahun 2000-an, saya kenal dengan HB (WK) tapi dalam perjalanan waktu barulah saya menyadari saudara HB (WK) adalah seorang komunis tulen. Itulah saya yang selalu menganggap semua sahabat adalah baik tanpa pernah curiga atau berpikir yang macam macam.

Kalau saya melihat balik ke belakang, awal perkenalan saya dengan HB (WK) diperkenalkan oleh Bang Jus Soema Di Praja anak Menteng. Bahkan dalam perjalanan waktu, WK melakukan intrik terhadap bang Jus, tapi saya anggap angin lalu, saya tetap pendirian untuk menghormati bang Jus selaku senior dalam dunia aktivis.

Istilah angin lalu pada waktu itu karena WK dengan bang Jus hanya beda budaya, WK keturunan Cina yang masih totok kental dengan budaya Cinanya sedangkan bang Jus budaya Sunda menak anak Menteng. Tanpa kita menyadari kemudian saya kenalkan WK dengan AJ orang Sumur Batu yang sekarang tidak jelas keberadaannya. Dengan kesibukan, saya bekerja membantu Gus Dur dan melakukan aktivitas yang cukup padat, saya belum sadar juga dengan kelakuan HB (WK).

Setelah saya pensiun mengolah Tambang Batubara kemudian banyak melakukan kegiatan di wilayah Jonggol, tanpa sadar juga saya kenalkan WK dengan seorang janda beranak 4 (empat) bernama SWH (orang Cikarang tekel) dengan HB(WK).

Setelah beberapa bulan kemudian, barulah saya menyadari bahwa WK ini melakukan pola Intrik Kontradiksi dengan seperti cara–cara yang dilakukan orang PKI, begitulah cara permainnya dan sampai saya di intrik habis dengan ibu SWH. Awal persoalannya saya baru menyadari sampai-sampai ibu SWH membenci saya dengan alasan yang ngak jelas juntrungannya. Baru saya sadari selama ini, bahwa saudara HB (WK) melakukan konflik dengan adu domba cara-cara PKI.

Saya teringat dulu saya pernah dikenalkan dengan bapak Samsir Muhammad sebagai sobatnya WK salah seorang tokoh PKI yang baru keluar tahanan PKI dari Pulau Buru Ambon. Kemudian saya menyadari saudara HB (WK) adalah seorang komunis tulen. Setelah melihat ke belakang dari dialog saya dengan ibu SWH, rupanya sampai saat ini masih berhubungan dengan sahabat lama saya AJ.

Politik adu domba ala PKI yang dilakukan oleh HB (WK) telah berhasil mendapatkan 2 (dua) kader yang sebelumnya adalah teman saya, sekarang sudah menjadi kader komunis sejati. Hingga saat ini mereka masih sering mengadakan pertemuan rapat-rapat di desa Mengker Jonggol, sambil mengembang usaha penampungan kayu Jati yang status hukumnya tidak jelas atau dalam istilah Kayu jati Spanyol (separuh nyolong).

Secara politik saya dan WK sangat perbedaan, saya cenderung berpikiran Islami. Sebagai Alumni UNPAD saya pernah ditunjuk oleh kawan kawan Alumni lainnya menjadi Ketua Panitia Diskusi Publik Tolak Reklamasi di Universitas Padjadjaran Bandung. tahun 2017, WK terlihat sangat tidak suka dari wajahnya jelas menunjukan tidak sukaan karena dia merasa ternganggunya pengusaha – pengusaha yang menjadi panutan WK, tapi saya tetap menjalankan Diskusi tersebut untuk mencari solusi demi menegakan keadilan dan kebenaran.

Keberhasilan yang dilakukan oleh HB (WK) dalam melakukan pengkaderan terhadap AJ dan ibu SWH karena mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan keilmuan yang cukup memadai, miskin dan bodoh. Dimana ibu SWH hanya lulusan SD dan menyadari menyebutnya dirinya sendiri miskin sekali, sedang AJ hanya seorang Office Boy di SUBENTRA 21 Film. Sehingga begitu mudahnya WK mengkader mereka menjadi komunis sejati.

Perkembangan sahabat lama AJ sudah tidak tahu lagi keberadaannya, tapi kalau Ibu SWH di lihat dari perkembangannya WK sudah berhasil membuatnya menjadi komunis, kenapa saya bilang demikian, karena selama ini saya memberikan uang untuk dia abaikan dan ibu SWH bilang tidak pernah minta uang dengan ku. Padahal sering sekali minta uang dengan saya. Secara rutin saya selalu memberi uang jajan kalau bertemu dengan saya. Bahkan ibu SWH tegas pernah berkata bahwa ibu Sawiyah tidak pernah minta uang saya adalah sikap yang sangat tega komunis dan mengabaikan semua, ini adalah sifat komunis yang sangat kental. Itulah bentuk keberhasilan Sdr WK mengkader ibu SWH menjadi kader komunis sejati.

Tulisan ini saya buat berkat dukungan oleh tokoh senior intelijen, yang tidak perlu saya sebutkan namanya, tetapi untuk menjaga keamanan atau hukum saya bersedia menyebutkan namanya. Apa yang saya tulis adalah bentuk kepedulian kepada generasi muda untuk waspada terhadap paham komunis di sekitar kita.
Wass. Setya Dharma. Senator Jaringan Aktifis ProDem

Latest news

Related news