31.2 C
Jakarta
Senin, September 27, 2021

WALHI SulSel, Econusa dan Green Youth Movement Gelar Sail to Campus II

Warta.in, Makassar – WALHI SulSel, Econusa dan Green Youth Movement kembali menggelar kegiatan Sail to Campus ke II di Universitas Bosowa.

Kali ini, Sail to Campus mengangkat tema Bahaya Plastik dan Perubahan Iklim. Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu, 30 Juni 2021 di Auditorium Aksa Mahmud Universitas Bosowa menggandeng Himpunan Mahasiswa Perancanaan Wilayah Kota Unibos.

Dekan Fakultas Teknik Unibos Dr. Ridwan, ST., M.Si mengapresiasi kegiatan Sail to Campus ini. “Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi yang cukup besar, terutama dari segi kelautan dan perikanan. Namun, ekosistem laut saat ini terancam dari limbah sampah yang ada dimana – mana,” ungkapnya.

“Kegiatan Sail to Campus yang merupakan bagian dari pra ekspedisi spermonde memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami, bagaimana untuk menjaga laut dari sampah,” tutup Dekan Fakultas Teknik Unibos.

Selain itu, Wiro WIrandi yang merupakan Ocean Program Manager Econusa Fondation menyampaikan, Spermonde merupakan kepulauan yang sangat storis dan memiliki fungsi yang sangat penting.

Adanya ancaman krisis iklim seperti naiknya permukaan air laut dan terjadinya kerusakan biota laut semakin memperparah kondisi masyarakat pesisir. Krisis iklim diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Saat ini, Indonesia adalah negara ke 2 terbesar sebegai penyumbang sampah plastik setelah China.

“Plastik dan puntung rokok merupakan sampah yang paling banyak di produksi oleh manusia di setiap tahunnya,” ungkapnya.

Saat ini, isu pencemaran sampah di laut menjadi perhatian serius. Bahwa permasalahan laut bukan hanya masalah bagi biota laut saja. Tapi, juga sudah sampai ke manusia karena ikan yang dikonsumsi mengandung mikro plastik. Kita mesti khawatir apakah laut, khususnya di Indonesia timur masih bisa menjadi andalan di masa depan.

Melalui kegiatan ini, kita mendorong anak muda agar menjadikan dan menyadari bahwa kenapa laut begitu sangat penting. Wiro menambahkan ekspedisi spermonde yang akan dilaksanakan kedepan akan memberikan informasi baru terkait permasalahan yang terjadi saat ini.

Adapun yang menjadi narsaumber pada kegiatan Sail to Campus kali ini. Yakni, Muliadi yang merupakan nelayan Sarappo, Dina M. Luungkang S.IP., MA. akademisi Unibos dan Sahril Akbar dari Baruna Ocean.

Muliadi menyampaikan bahwa saat ini ketika musim barat tiba, nelayan tidak bisa melaut di pulau sarappo karena lautnya tercemar. Makanya terpaksa kami harus ke kendari untuk melaut. biasanya kami disana selama 20 hari baru bisa kembali ke Sarappo.

Pencemaran laut sebenarnya diakibatkan karena perilaku pengeboman dan cantrang. Ditambah dengan sampah yang mencemari pulau. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pengelolaan sampah di daerah pulau. Muliadi menambahkan bahwa kami berharap kepada pemerintah untuk meyiapkan fasilitas TPA di sekitar pulau dan segera mengatasi persoalan pengeboman ikan dan perilaku cantrang yang dilakukan selama ini oleh sebagian nelayan.

Sementara itu, akademisi Unibos Dina M. Lungkang. S.IP., MA. menyampaikan bahwa saat ini terjadi kenaikan suhu bumi yang cukup drastis. ada 4 faktor yang menekan terjadinya hal tersebut, pertumbuhan penduduk, krisis iklim, krisis ekosistem dan pengaruh manusia.

Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan menyababkan karbon dioksida diatmosfer meningkat dengan kecepatan paling drastis selama 66 juta tahun, limbah plastik memenuhi jalur air dan lautan, jumlah nitrogen dan fosfor ditanah berlipat ganda dalam seabad terakhir, dan polutan berupa lapisan jelaga permanen pada glester dan udara pada bahan bakar fosil.

Selain itu, ditambah ulah pemerintah yang melakukan pembangunan yang tidak berkelanjutan sehingga menyebabkan perubahan iklim sehingga kita mengalami krisis lingkungan.

Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di darat. Namun juga terjadi di laut, seperti naiknya suhu lautan yang diperkirakan bisa mencapai 2-4 derajat celcius pada tahun 2100. Naiknya permukaan laut juga cenderung menyebabkan genangan dan erosi di pulau – pulau dataran rendah dan terjadinya pola badai di laut yang mengalami perubahan.

Masyarakat pesisir di pulau – pulau kecil menjadi pihak terdampak secara langsung, dampak yang dirasakan beragam dan berkaitan erat dengan hajat hidup masyarakat pesisir mulai dari dampak sosial, ekonomi dan budaya. dampak krisis iklim dirasakan oleh semuanya, tapi yang paling berdampak ialah nelayan tradisional karena mereka menggantungkan hidupnya pada laut. Tutupnya.

Selanjutnya, Sahril Akbar dari Baruna Ocean. Berpesan agar pemerintah lebih memperhatikan masyarakat pulau, perilaku abai terhadap sampah karena fasilitas sampah di wilayah kepualauan tidak ada, mayoritas masyarakat pesisir masih minim inovasi terkait pengelolaan sampah. salah satu kunci mitigasi sampah yakni dengan melakukan daur ulang. ungkapnya.

Saril menambahkan bahwa saat ini bank sampah bisa dimanfaatkan untuk mengelola sampah plastik. kemudian meminta kepada pemerintah untuk membuatkan regulasi untuk membatasi produk plastik, Sahril juga menambahkan bahwa saat ini waktunya untuk memberika edukasi melalui media sosial agar mengkampanyekan isu lingkungan dan sebagai anak muda jga tentunya harus melakukan aksi nyata.

Kemudian, Muhammad Chaerul sebegai penaggung jawab kegiatan Sail to Campus mengungkapkan melalui seminar pra ekspedisi spermonde ini diharapkan anak muda dapat lebih peduli terhadap lingkungan. Terkhusus pada penggunaan plastik yang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Chaerul juga mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk bergabung menjadi volunter dan berlayar selama 14 hari bersama WALHI SulSel, Econusa dan Green Youth Movement untuk melakukan koral monitoring, pemeriksaan kesehatan dan meningkatkan kesadaran lingkungan bagi masyarakat di kepualauan spermonde.

Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img