24.7 C
Jakarta
Selasa, Maret 3, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Total kurang lebih 1000 siswa diduga keracunan di jawabarat

Sejumlah korban keracunan usai mengonsumsi MBG masih berdatangan ke Posko KLB Keracunan MBG, Kecamatan Cipongkor, Kamis siang (25/09). Otoritas kesehatan setempat melaporkan jumlah korban keracunan terbaru, lebih dari 1.000 orang.

Setidaknya lima siswa dari sekolah yang berbeda datang dengan keluhan sesak nafas, sakit perut, pusing, dan mual.

Mereka adalah siswa yang sempat menjalani perawatan Rabu kemarin (24/09).

“Namun karena kondisi kesehatannya tidak cukup baik, mereka datang kembali untuk menjalani pengobatan,” kata wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dari Posko KLB Keracunan MBG di Bandung Barat.

Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotima menyebut jumlah korban pada kasus keracunan yang dirangkum sejak Senin dan Rabu kemarin lebih dari 1.000 korban.

Angka ini masih dinamis karena sejumlah korban masih mendatangi posko. Angka ini meningkat dari laporan sebelumnya.

Mereka ditangani di Posko KLB keracunan MBG Cipongkor.

Yuyun menjelaskan, korban mengalami gejala keracunan, tapi ada gejala sesak nafas yang tidak lazim terjadi pada kasus keracunan. Selain itu, korban juga tidak mengalami diare yang merupakan gejala umum keracunan.

Beberapa orang tua korban, awalnya mengaku senang dengan program MBG. Tapi setelah anak mereka terkapar usai menyantap MBG, mereka minta program ini distop.

Mereka menyerukan skemanya lain yaitu dengan memberikan uang tunai ke orang tua, agar bisa mengolah makanannya sendiri untuk anak-anaknya

Kejang-kejang, tangan terkunci semua’

Neng Nesa Agustin, 18 tahun, masih belum pulih sepenuhnya setelah mengalami kejang-kejang usai mengonsumsi MBG di sekolahnya, Senin (22/09).

“Ya [sudah] baik sedikit, tapi masih agak sesak. Mual juga kadang sih, tiba-tiba sakit perut juga,” katanya.

Di hari nahas, ia mengaku tak curiga dengan menu MBG. Tapi “ada bau sedikit dari ayamnya” dan merasakan potongan buah melon dengan rasa tak wajar.

“Manis banget beda sama buah-buahan yang pernah aku makan sebelumnya,” tambahnya.

Agus, ayah Nesa, bercerita putrinya itu sempat dirawat dua hari..Kejang-kejang, terus sama sesak napas. Kejang, jadi ini tangan semuanya terkunci,” katanya.

Pada Selasa malam (23/09), Nesa pulang setelah menghabiskan tiga botol infus dan bantuan oksigen. Rabunya ia kembali ke posko karena masih ada sesak.

“Setelah itu adanya MBG, Alhamdulillah emang merasa kebantu beban orang tua. Tapi kalau seandainya makanannya seperti ini, mengakibatkan parah seperti ini, saya tidak mengharapkan lagi,” kata Agus.

Di ranjang lainnya, Siti Aisyah mendampingi anaknya yang berusia 10 tahun. Ia kembali lagi karena kondisi kesehatan anaknya memburuk.

“Pas dzuhur langsung sakit, terasanya sakit banget. Sampai nangis-nangis anaknya. Melilit sakitnya, lemes, nggak bisa berdiri,” kata Aisyah

Rabu kemarin (24/09), Plt. Kepala Dinas Kabupaten Bandung Barat, Lia N Sukandar melaporkan lebih dari 800 siswa sekolah di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, mengalami keracunan MBG.

“Total [korban diduga MBG] 842 orang,” kata Lia N Sukandar kepada wartawan di Cipongkor.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan, penyebab keracunan MBG di Cipongkor adalah kesalahan teknis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

SPPG disebut memasak terlalu awal, sehingga makanan tersimpan terlalu lama sebelum didistribusikan.

“Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama,” kata Dadan, usai meninjau Posko Penanganan kasus dugaan keracunan makanan Program MBG di Cipongkor, Rabu kemarin.

Dadan berkata, BGN menghentikan sementara SPPG di Cipongkor..

Berita Terkait