27.6 C
Jakarta
Selasa, Maret 10, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

R br PAKPAHAN AMBIL PERTANDA LELUHUR MARTUA EX WABUP SAMOSIR DARI MUARA

Samosir, Rusmayan boru Pakpahan, istri kedua alm Camat Pensiunan, ambil tanah sebagai pertanda tulang belulang leluhur keluarga Martua Sitanggang, mantan Wabup Samosir, dari tepian Binanga Siparbue Huta Lumban Sada Desa Unte Mungkur Kecamatan Muara. Awalnya bere kami Rusmayan boru Pakpahan istri alm Camat Pensiunan memperkenalkan diri ke kami, keturunan tulangnya marga Sianturi dengan didampingi seorang marga Sitanggang Silo. Kemudian, kedatangannya kedua kali ke Muara ini, bersama beberapa orang, namun saya lupa nama namanya. Waktunya sekitar tahun 2005 an. Tujuannya ingin mencari tulang belulang leluhur suaminya alm Wismar Sitanggang yang pernah bertugas sebagai Camat di Harian Samosir. Rombongan itu mengikutsertakan Datu (Paranormal) marga Panjaitan dari kota Pematang Siantar. Pencarian dimulai dari Pekuburan Sibajanggut kampungnya marga Siregar.

Terus terang, kami yang ikut melakukan pencarian itu sangat terkejut karena Datu Panjaitan bisa melakukan percakapan dengan arwah untuk menanyakan dimana posisi tulang belulang leluhur suami Rusmayan boru Pakpahan itu, karena akan dibawa ke tempat yang baru di Pangururan Samosir. Arwah yang pertama diajak berkomunikasi mengaku bermarga Simbolon. Sudah terlalu lama kami disini, kami sudah dibawah ke Danau, Kami kedinginan disini, ungkap arwah Simbolon. Tidak ada kami disini. Pergilah kalian menelusuri sungai yang ada disini.

Mendapat jawaban dari arwah Simbolon, maka Datu Panjaitan pun melakukan pencarian ke tempat lain dengan panduan arwah melalui alat berupa tongkat yang ditancapkan ditanah dan diatasnya diletakkan botol kaca kecil. Pencarian berhenti di tepian Binanga Siparbue Huta Lumban Sada Desa Unte Mungkur Kecamatan Muara. Disitulah kami mengambil tanah yang menjadi pertanda tulang belulang leluhur Martua Sitanggang (mantan Wakil Bupati Samosir). Tanah tersebut dibungkus dengan kain putih dan dipegang oleh Rusmayan boru Pakpahan, istri kedua dari Wismar Sitanggang mantan Camat Harian Samosir ayah dari Martua Sitanggang

Kemudian saya menanyakan kepada bere kami, Rusmayan boru Pakpahan, kapan akan dilaksanakan acara adat Mangokal Holi Panakok Saring Saring leluhur mereka di di tambak / tugu yang baru di Pangururan. Berdasarkan silsilah keluarga / tarombo, kami marga Sianturi merupakan Parbonaan dari keluarga Wismar Sitanggang / Martua Sitanggang. Jawabnya akan kami kabari. Karena belum ada kepastian acara adat tersebut, saya pun memberikan ulos ragi hotang untuk membungkus tanah / pertanda tulang belulang marga Sitanggang Silo yang merupakan bere kami itu. Secara budaya Batak, walaupun dalam bentuk tanah, tapi itu merupakan pertanda tulang belulang leluhur keluarga suaminya, yang merupakan bere / keponakan kami, karena istri dari leluhurnya marga Sitanggang Silo itu adalah boru Sianturi, maka kami dari marga Sianturi, wajib memberikan pembungkusnya berupa ulos. Ternyata sampai sekarang kami tak pernah mendapat undangan acara adat memasukkan tanah sebagai pertanda leluhurnya di tambak / tugu yang baru tersebut. Kami pun tak tahu alasannya karena kami tak pernah lagi bertemu.

Menurut Rusmayan boru Pakpahan itu, tanah sebagai pertanda itu akan diletakkan di bagian paling atas tambak / tugu keluarganya. Saya lupa siapa nama leluhur mereka, karena sudah sangat lama. Sepertinya namanya unik, kalau tidak salah Tuan Rupang, ungkap Opung Dian Sianturi boru Simamora yang ditemui oleh Darwin Sitanggang, Sudung Sitanggang, Jonny Sitanggang dirumahnya di Desa Simatupang Kecamatan Muara pada Minggu / 8.3.2026

Informasi yang kami dapatkan dari Opung Dian Sianturi boru Simamora ini semakin memperkuat keyakinan kami bahwa Sipukka Huta Lumban Silo Pangururan adalah Opung kami Opung Tongam Sitanggang Silo & Opung boru Sihotang Sorganimusu. Leluhur Martua Sitanggang berasal dari Muara, hanya pendatang dan menumpang di Huta Lumban Silo, Sudung Sitanggang menutup percakapan ini (red)

Berita Terkait