Rembang// Warta.in// Tren kecantikan terus berkembang di kalangan perempuan, salah satunya melalui seni menghias kuku atau yang dikenal dengan nail art. Kuku yang bersih, cantik, dan dihiasi berbagai motif kini menjadi bagian dari gaya penampilan yang semakin diminati, khususnya oleh perempuan di Kabupaten Rembang.
Peluang ini berhasil ditangkap oleh Yunda Rahma Auliya, seorang perempuan muda asal Rembang yang menjadikan hobinya sebagai ladang usaha yang menjanjikan.
Perempuan kelahiran Rembang, 6 April 2005 tersebut sejak masih duduk di bangku sekolah sudah gemar menghias kukunya sendiri. Baginya, nail art bukan sekadar mempercantik kuku, tetapi juga menjadi bentuk seni yang bisa mengekspresikan kreativitas.
Seiring berkembangnya tren kecantikan, nail art kini tidak hanya digemari kalangan tertentu. Mulai dari remaja, pekerja muda, hingga selebgram dan beauty blogger juga menjadikannya bagian dari penampilan sehari-hari.
Melihat peluang tersebut, Rahma memberanikan diri membuka usaha nail art pada tahun 2024. Ia membuka studio kecil di rumahnya yang berlokasi di Desa Sumberjo RT 02 RW 02, Kecamatan Rembang. Hingga kini, usahanya masih berfokus di satu tempat tanpa membuka cabang.

“Nail art adalah seni menghias kuku. Di sini kami bisa melukis kuku sesuai dengan permintaan pelanggan. Selain nail art, kami juga melayani extension kuku, yaitu menambah panjang kuku bagi pelanggan yang memiliki kuku pendek,” ujar Rahma, Selasa (10/3/2026).
Rahma menceritakan, awalnya ia hanya gemar menggunakan kuteks. Namun ketika ingin mencoba nail art dengan desain yang lebih menarik, ia harus pergi ke Kabupaten Pati karena saat itu layanan tersebut belum banyak tersedia di Rembang.
Jarak yang cukup jauh membuat Rahma akhirnya memutuskan untuk belajar nail art secara serius. Ia mengikuti pelatihan dengan menggunakan uang tabungannya sendiri.
Setelah merasa cukup menguasai tekniknya, Rahma mulai membuka jasa nail art secara sederhana dengan sistem home service, yaitu melayani pelanggan dari rumah ke rumah.
Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah hingga akhirnya ia membuka layanan tetap di rumahnya.
Untuk tarif, Rahma sengaja memasang harga yang masih terjangkau agar bisa dinikmati berbagai kalangan. Harga layanan berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000 per paket, tergantung tingkat kerumitan desain.
Ia menjelaskan, jika dikerjakan oleh timnya, nail art polos dipatok Rp50.000 per paket, sedangkan nail art bermotif Rp75.000 per paket. Sementara jika dikerjakan langsung oleh Rahma sebagai owner, tarifnya Rp75.000 untuk desain polos dan Rp100.000 untuk desain bermotif.

Dalam sehari, pelanggan yang datang rata-rata antara lima hingga sepuluh orang. Bahkan saat ramai, jumlahnya bisa mencapai lebih dari dua puluh pelanggan.
Dari usaha tersebut, Rahma mengaku mampu meraih omzet kotor hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
“Dalam kondisi ramai, pelanggan bisa sampai 21 orang dalam sehari. Kalau dihitung-hitung, omzet kotor per bulan bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah,” ungkapnya.
Rahma juga menjelaskan bahwa pilihan desain nail art sangat beragam dan terus mengikuti tren. Beberapa model yang paling diminati pelanggan, terutama kalangan anak muda, antara lain motif marble, 3D, leopard, gradasi, hingga monokrom.
Untuk desain tertentu seperti nail art 3D, proses pengerjaannya bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam karena membutuhkan ketelitian dan detail yang lebih tinggi.
Dalam memasarkan jasanya, Rahma memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram. Melalui platform tersebut, ia dapat menampilkan hasil karyanya sekaligus menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Saat ini, pelanggannya tidak hanya berasal dari Rembang, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Pati hingga Blora.
Berawal dari hobi sederhana, kini Rahma berhasil membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian memulai usaha bisa membuka peluang besar di dunia bisnis kecantikan.
( wik )































