33.2 C
Jakarta
Kamis, Maret 19, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Inilah Warisan Tradisi Jawa “Colok – Colok Malem Songo” Simbul Tradisi Kearipan Lokal

Inilah Warisan Tradisi Jawa “Colok – Colok Malem Songo” Simbul Tradisi Kearipan Lokal

LAMONGAN//warta.in – Sebuah tradisi Jawa saat menjelang berakhirnya puasa bulan suci Ramadan, masyarakat di sejumlah wilayah Jawa khususnya Lamongan dan Sekitarnya masih menggelar tradisi “Colok-colok malam songo”, atau malam 29 Ramadan saat berakhirnya puasa Ramadhan, Kamis (18/03/2026)

Tradisi yang sudah turun-temurun bukan hanya malem songo saja tapi ada malem selikur, ini menjadi momen yang dinanti warga untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri (red Riyoyo) yang sudah lama di persiapkan dengan berbagai hidangan baik jajanan maupun makanan dengan penyabutan dengan penuh suka cita.

Setelah Sholat magrib warga berbondong – bondong membawa Berkat ( tumpeng) untuk di bawah secara bersamaan sambil membawa Colok – colok dan obor untuk di letakan di jalan menuju rumah Kepala Dusun atau Perempatan untuk di bacakan do’a oleh sesepuh Kampung.

Yang di rumah Anak Istri atau simbah menyalakan Colok – colok di luar rumah atau di dalam rumah, dalam perubahan jaman Masyarakat melenial sudah banyak yang tidak menggunakan colok- colok tapi menggunakan lilin dan lampu listrik sebagsi pengganti Obar

Pada dasarnya Colok – colok dulu terbuat dari bambu yang di beri sumbu dari kain terus di celupkan dengan minyak tanah, lalu dipasang di sepanjang jalan desa hingga depan rumah masing-masing.

Tidak hanya itu, sejumlah warga, terutama para pemuda dan Anak – anak juga terlihat mengarak obor keliling kampung sambil melantunkan takbir dan sholawat.

Suasana malam songo likuran pun tampak semarak dengan cahaya api yang berkelap – kerlip berjejer rapi, menciptakan pemandangan khas yang sangat  sakral sebagai simbul budaya jawa

Dari beberapa sumber pada masyarakat mengatakan tradisi ini sudah turun – temurun ada sejak dirinya belum lahir maupun masih kecil dan terus masih di laksanakan dan dilestarikan hingga sekarang biarpun cara pemakaian colok – colok berbeda dengan yang dulu

“Hal ini merupakan wujut syukur kepada Alloh yang selama 1 bulan penuh menjalankan puasa di bulan Ramadhan sekaligus untuk menyambut Lebaran. Hari raya Idul

Menurutnya, selain sebagai bentuk perayaan, tradisi ini juga mempererat kebersamaan dan silahturohmi antarwarga untuk menyambut Hari raya Idul Fitri

Pada saat tumpeng (berkat) selesai di bacakan do’ – do’a oleh sesepuh Kampung, tumpeng di bagikan oleh sesama warga sambil saling tukar jajanan dan lauk – pauk, inilah bukti tradisi jawa yang perlu di lestarikan, tradisi yang menjadi simbul bahwa kehidupan bermasyarakat itu saling berberbagi dan menjalin kekompakan

Tradisi colok-colok malam songo tidak hanya menjadi simbol kegembiraan menyambut Idul Fitri, tetapi juga menjadi warisan budaya yang memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan tradisi kearifan lokal masyarakat yang harus di lestarikan sampai akhir jaman, pungkasnya ( roy)

Berita Terkait