Perbedaan 1 Syawal: Ujian Kedewasaan Umat dalam Merawat Persatuan
Medan ( Warta. In) – Perbedaan penetapan 1 Syawal kembali terjadi di Indonesia. Sebagian umat Islam merayakan Idul Fitri lebih dahulu, sementara sebagian lainnya menyempurnakan Ramadan menjadi 30 hari. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan teknis kalender, melainkan cerminan dinamika ijtihad yang telah lama hidup dalam tradisi keilmuan Islam.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Syawal melalui sidang isbat dengan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyat. Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan kriteria wujudul hilal, sedangkan Nahdlatul Ulama menekankan rukyat dengan standar imkan rukyat.
Perbedaan ini seringkali muncul ketika posisi hilal berada di batas kriteria astronomis. Secara ilmiah, hilal mungkin sudah “ada” menurut perhitungan, tetapi belum memenuhi standar visibilitas menurut pengamatan. Di sinilah ruang ijtihad bekerja. Perbedaan bukan terjadi karena perbedaan dalil, melainkan perbedaan cara memahami dan mengaplikasikan dalil tersebut dalam konteks sains modern.
Bukan Soal Siapa yang Benar
Para ulama menegaskan bahwa penetapan awal bulan hijriah termasuk wilayah ijtihadiyah ranah yang membuka ruang perbedaan. Dalam sejarah Islam, perbedaan semacam ini sudah ada sejak generasi sahabat. Namun perbedaan kala itu tidak menjelma menjadi polarisasi sosial, apalagi saling merendahkan.
Yang menjadi persoalan hari ini bukanlah perbedaan metode, melainkan respons emosional yang terkadang menyertainya. Media sosial mempercepat penyebaran opini, tetapi tidak selalu menghadirkan kedewasaan dalam berdiskusi. Akibatnya, perbedaan ijtihad berpotensi dipersepsikan sebagai perpecahan umat.
Padahal, secara substansi, semua pihak berangkat dari niat yang sama: menjalankan syariat dengan penuh tanggung jawab.
Idul Fitri dan Makna Kemenangan
Idul Fitri bukan sekadar momentum seremonial. Ia adalah simbol kemenangan spiritual setelah Ramadan. Namun kemenangan sejati tidak berhenti pada selesainya puasa, melainkan pada kemampuan menjaga akhlak, persaudaraan, dan kelapangan hati.
Ironis jika hari yang seharusnya menjadi ruang saling memaafkan justru menjadi panggung saling menyalahkan. Ketika perbedaan tanggal lebih dominan daripada semangat ukhuwah, maka ada nilai Ramadan yang belum sepenuhnya meresap.
Negara, Ormas, dan Tanggung Jawab Sosial
Dalam konteks kebangsaan, keputusan pemerintah memiliki fungsi menjaga ketertiban sosial. Mengikuti ketetapan resmi adalah bagian dari menjaga kemaslahatan bersama. Namun pada saat yang sama, tradisi ijtihad ormas Islam juga merupakan bagian dari kekayaan intelektual bangsa.
Karena itu, sikap yang lebih konstruktif adalah saling menghormati. Umat dapat mengikuti keyakinan masing-masing tanpa mencederai persaudaraan. Perbedaan tidak harus diseragamkan, tetapi harus dikelola dengan bijak.
Ujian Kedewasaan Beragama
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kedewasaan umatnya menjadi contoh bagi dunia Islam. Perbedaan 1 Syawal sejatinya adalah ujian: apakah umat mampu memprioritaskan persatuan di atas ego kelompok?
Jika Ramadan mendidik tentang kesabaran dan pengendalian diri, maka Syawal menguji hasil pendidikan itu. Apakah kita mampu menahan diri dari menyalahkan? Apakah kita mampu tetap bersilaturahmi walau berbeda hari raya?
Lebih dari Sekadar Tanggal
Perbedaan 1 Syawal mungkin akan terus terjadi selama metode penetapan masih beragam. Namun persatuan hati tidak boleh ikut berbeda. Idul Fitri seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, bukan memperlebar jarak psikologis.
Pada akhirnya, umat tidak diukur dari keseragaman tanggal, tetapi dari kematangan sikap. Karena kemenangan yang paling hakiki bukanlah siapa yang lebih dulu berhari raya, melainkan siapa yang lebih mampu menjaga ukhuwah dalam perbedaan.(**)





























