Goresan: Yusuf Tampani
Aktifis PMKRI Cabang Kupang _28 April 2026
Di papan tulis itu,
namamu ditulis dengan kapur.
Di hati kami,
namamu ditulis dengan luka.
Kau panggil kami _bodok_—
seolah otak kami papan kosong
yang boleh kau coret dengan makian,
lalu kau hapus dengan tepuk tangan.
Kau panggil kami _binatang_—
seolah ilmu hanya tumbuh
di ladang yang kau cangkul dengan hinaan.
Padahal kami datang
membawa bekal nasi kemarin
dan doa mama
yang tak tamat SD.
Bapak,
Togamu hitam,
tapi kata-katamu lebih gelap.
Kau ajarkan kami rumus,
tapi kau gagal menghitung
berapa harga diri yang pecah
tiap kali mulutmu berbunyi.
Kami disuruh kritis,
tapi saat kami salah,
kau jawab dengan palu,
bukan dengan pelita.
Bodok?
Bodok adalah
dosen yang digaji untuk menyalakan,
tapi memilih meniup sumbu.
Bodok adalah
orang yang lupa
bahwa dia pun pernah
tak tahu apa-apa.
Binatang?
Binatang tak pernah
memanggil kawanannya
dengan nama yang mematahkan.
Hanya manusia
yang bisa sekolah tinggi
tapi adabnya
tertinggal di kelas satu.
Bapak,
Kami tidak minta nilaimu murah.
Kami hanya minta:
jika kau harus marah,
marahlah pada salahnya,
bukan pada manusianya.
Sebab besok,
saat kapurmu habis
dan kelasmu sepi,
yang tinggal bukan gelarmu.
Yang tinggal adalah
gema suaramu
di kepala kami—
memilih jadi batu
atau jadi sayap.
Dan kami,
anak-anak yang kau sebut bodok,
sudah memutuskan:
Kami akan jadi guru.
Tapi lidahmu
tidak akan kami wariskan.




























