34.8 C
Jakarta
Minggu, Mei 10, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Politik Gelandangan

Sudah beberapa tahun ini, dalam sejumlah konten, muncul istilah gelandangan politik. Hal gelandangan tersebut dimaksudkan, dan dituduhkan, kepada mereka yang berpolitik secara liar, tidak dalam posisi punya jabatan di pemerintahan, berbagai sikap dan pernyataan politiknya bebas, bahkan memang seenaknya.

Itulah sebabnya, pengertian gelandangan politik itu dituduhkan kepada mereka yang biasanya kalah politik, tapi terus bernyanyi dan masih eksis. Tidak heran jika nama-nama dalam daftar gelandangan politik adalah nama-nama yang sangat dikenal dalam masyarakat Indonesia. Sebagian besar pemain lama, sebagian yang lain pemain baru, tapi bagian dari pemain yang kalah.

Tapi, percayalah, para gelandangan politik itu tidak berbahaya. Sebenarnya, tidak ada dari pernyataan para gelandangan politik ini cukup penting. Pernyataan gelandangan politik ini menjadi berbahaya jika kebetulan ada yang mau mendengar, ada yang percaya, dan kemudian mengambil sikap atau keputusan tertentu karena ulah gelandangan politik tersebut.

Sebenarnya, yang lebih berbahaya itu adalah politik gelandangan. Seperti halnya pengertian gelandangan, maka politik gelandangan adalah politik yang dilakukan secara liar, seenaknya, ngawur, melanggar norma dan konstitusi, dan tidak perlu bertanggung jawab. Inilah sekarang yang banyak terjadi.

Konsekuensi logisnya, pertama, pernyataan gelandangan politik hampir bisa dipastikan berasal dari situasi membesarnya politik gelandangan. Parahnya lagi, yang melakukan tuduhan kepada gelandangan politik, mereka belum tentu paham, atau pura-pura tidak tahu, bahwa mereka sedang terlibat dalam politik gelandangan.

Kedua, suatu negara yang diselenggarakan dalam dominasi politik gelandangan, maka jadilah sebuah negara yang “lucu-lucu keparat”. Lucu karena terjadi banyak kontradiksi yang membuat situasi menjadi konyol. Keparat karena banyak kejadian yang dikarenakan tidak sesuai dengan norma atau logika konstitusional.

Ketiga, para pelaku politik gelandangan tersebut adalah mereka yang memiliki “kekuasaan resmi”, maka negara berjalan secara berantakan, tumpang tindih,  tidak bisa dipertanggungjawabkan, dengan alur compang camping. Yang berkuasa akan lolos dan tambah kaya, yang tidak memiliki akses apapun untuk terlibat dalam politik gelandang tersebut tentu semakin terjungkal.

Keempat, sebagai akibatnya, kita menjadi tahu bahwa negara tersebut hanya layak menjadi tontonan dan hiburan yang pahit. Tidak akan ada perubahan-perubahan penting yang membawa rakyat menjadi lebih cerdas dan sejahtera. Rakyat habis energinya untuk hanya terkejut dan terheran-heran.

Dalam konteks tersebut, hadirnya para gelandangan politik menjadi sangat penting. Semakin banyak semakin bagus. Karena, dalam posisi menjadi gelandangan tersebut, mereka dalam posisi bebas, bebas ngawur, bebas melakukan berbagai sikap dan pernyataan politik dalam dunia politik gelandangan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah proses negosiasi dan ke mana alur dinamika politik akan berlangsung. Sangat banyak variabel yang perlu diperhitungkan. Akan tetapi, beberapa hal yang perlu diperhitungkan adalah; pertama, rakyat semakin hari semakin cerdas. Gelandangan politik yang ngawur akan sulit diterima. Namun, membesarnya politik gelandangan akan menyebabkan gelandangan politik lama-lama akan menjadi pilihan.

Kedua, media sosial akan membantu dan mengondisikan bentuk-bentuk konflik, pilihan, dan ruang/tempat-tempat perseteruan. Jadi, memang, akhirnya, media sosial menjadi ajang pemanasan, pematangan, dan perang itu sendiri. Sekacau apa pun perseteruan di media sosial, paling tidak, tidak ada yang perlu menjadi korban atau semacam kerusakan fisik lainnya.

Yang berbahaya adalah jika media sosial tidak lagi mampu menampung perseteruan dan konflik, maka perkelahian akan terjadi di luar media sosial. Maksud berbahaya di sini tentu saja jika perseteruan itu mengorbankan rakyat yang seharusnya aman dan nyaman dalam ruang bermasyarakat dan bernegara.

Memang tentu tetap berbahaya jika mendatangkan para korban, baik yang menjadi gelandangan politik untuk terlibat dalam politik gelandangan. Tapi, resiko itu tentu saja sudah diketahui oleh para pemain dalam dunia politik.

Muaranya nanti, jika benar-benar terjadi perseteruan yang serius dan berbahaya, akhirnya, rakyat juga yang akan terjun ke jalan-jalan untuk meredakan, atau bahkan meruntuhkan politik gelandangan tersebut.

Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.

Berita Terkait