Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Tubuh Grotesk Adalah Makian Itu Sendiri

Banyak aktivis, terutama mahasiswa, dituduh bisanya cuma memaki-maki kasar dan dinilai sudah kelewatan batas. Bahkan beberapa orang penting di negeri ini sampai mengkritik tokoh muda yang lagi naik daun. Secara prinsip orang penting itu mengatakan silakan mengkritik, tapi yang sopan, tetap memegang etika ketimuran, dan jangan menghina.

Memang, penyandangan aktivis itu perlu diklarifikasi karena tidak semua bisa disebut sebagai aktivis murni. Yang dimaksud sebagai aktivis murni adalah mereka yang berdimensi kerakyatan. Secara umum mereka adalah para pembelajar seperti siswa atau mahasiwa, para orang miskin yang hanya bisa bekerja dan bertahan bisa makan, para orang yang tersingkir dan lemah secara sosial dan ekonomi.

Mereka tidak terikat dengan kepentingan politik, ekonomi, bahkan sosial. Merekalah yang disebut rakyat. Sebagian besar rakyat bahkan akhirnya hanya memiliki tubuhnya yang menjadi grotesk (meminjam istilah Mikhail Bakhtin). Bukan tubuh fisik yang tidak normal, tetapi lebih-lebih sebagai tubuh sosial yang dilemahkan dan menderita.

Dengan demikian, tubuh grotesk yang dimaksud adalah mereka yang bersikap, bertindak, berpikir, atau menyatakan sesuatu atas nama dirinya sendiri. Kondisi mereka secara umum lemah, menderita, tidak memiliki kuasa apa pun, bahkan tidak memiliki senjata apapun jika harus berhadapan dengan kekerasan negara.

Dalam posisi itu, tubuh grotesk harus hidup dalam negara yang dikelola oleh segelintir penguasa yang tidak menegakkan keadilan ekonomi, sosial, dan politik. Tubuh grotesk semakin menderita hidupnya, semakin melarat. Ketika mereka bersuara, mungkin sebagian dalam bentuk demonstraksi atau berbagai dialog publik lainnya, mereka berhadapan dengan aparat kekerasan pemerintah, seperti militer atau polisi.

Sebagai aparat kekerasan negara, para prajurit militer dan polisis dibekali berbagai latihan fisik, bahkan juga dibekali senjata. Mereka dibekali tubuh yang kuat, dengan senjata di tangan, dengan berbagai perlengkapan teknologi lainnya yang bisa mendukung kemudahan dan kelengkapan dalam menggunakan perangkat kekerasan.

Sebaliknya, tubuh grotesk tidak memiliki perangkat senjata apapun, bahkan dilarang oleh hukum. Ketika, dan seperti kita saksikan bersama, tubuh grotesk tersebut harus berhadapan langsung ataupun tidak langsung, tubuh grotesk hanya memiliki tubuhnya dan kata-kata. Artinya, senjata tubuh grotesk adalah tubuhnya sendiri dan kata-kata untuk mewakili tubuhnya.

Padahal, keberadaan grotesk adalah suatu pengondisian sosial, politik, dan ekonomi yang menyangga beban-beban kesialan, kebodohan, kesalahan, dan hal-hal tidak pantas lainnya. Justru karena ada tubuh grotesk maka ada kehidupan yang dinggap normal dan pantas.

Kebijakan ekonomi, politik, dan sosial yang dikondisikan beberapa tahun belakangan ini menyebabkan tubuh grotesk membengkak. Sebagian mereka bertransformasi menjadi penjilat-penjilat kekuasaan. Ketika mereka menjadi penjilat kekuasaan, mereka tidak lagi bisa disebut sebagai bertubuh grotesk.

Sebagian yang lain tetap berusaha bertahan berhadapan dengan egoisme penguasa atas nama negara. Dalam situasi itulah, tubuh grotesk berkomunikasi dengan mengeluarkan kata-kata yang berasal dari tubuhnya. Tubuh yang memang tidak memiliki apa-apa selain kata-kata yang dinilai sebagai makian, sumpah serapah, penghinaan, kata-kata yang tidak sopan atau kotor, dan sebagainya.

Perlu dicari akar masalahnya untuk menentukan apakah kata-kata  yang dianggap sebagai makian, sumpah serapah, dan penghinaan tersebut sebagai suatu kejahatan berbahasa. Pertama, apakah membesarnya tubuh grotesk sebagai hal yang tidak melanggar hukum. Jelas, yang bisa disalahkan adalah para pengelola yang tidak becus sehingga tubuh grotesk membesar. Tubuh grotesk adalah caci-maki itu sediri.

Kedua, tubuh grotesk tidak memiliki apapun selain tubuhnya dan sejumlah kosa kata yang inheren di dalam dirinya. Kita bisa membayangkan jika para aktivis dan demonstran tersebut menggunakan kata-kata yang sopan, justru mereka terkesan menjadi munafik karena kata-kata atau pernyataan mereka tidak sesuai dengan tubuh mereka penyangga kesialan, kebodohan, dan penderitaan berbangsa.

Dengan demikian, pernyataan dari tubuh grotesk tidak bisa dianggap sebagai makian atau sumpah serapah. Yang masih perlu dibuktikan adalah apakah mereka rakyat yang mewakili dirinya sendiri atau hanya menjadi tubuh bayaran. Menjadi penyangga kesialan dan kebodohan itu berat. Bangsa Indoensia perlu berterima kasih terhadap tubuh-tubuh grotesk.

Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.

Berita Terkait