27.4 C
Jakarta
Senin, April 6, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Klarifikasi Insiden Siswa di SDN Jayamukti: Bukan Perundungan, Korban Alami Peradangan Leher

Klarifikasi Insiden Siswa di SDN Jayamukti: Bukan Perundungan, Korban Alami Peradangan Leher

SUBANG | Warta In Jabar — Insiden yang melibatkan dua siswa di SDN Jayamukti, Desa Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang pada Rabu pagi (1/4/2026) mendapat klarifikasi setelah muncul pemberitaan yang dinilai sepihak.

Peristiwa tersebut terjadi usai kegiatan olahraga, tepatnya saat jam istirahat di dalam ruang kelas. Saat itu, sejumlah siswa seperti Amir, Abimanyu, Diki, Jeanal Hibibi, Moch Haikal, dan Idrus tengah berkumpul dan bercanda, termasuk saling memijat antar teman.

Dalam suasana tersebut, siswa berinisial Malik secara spontan mencoba menarik dan memelintir leher rekannya, Ade Hermawan, dari arah belakang hingga menimbulkan bunyi “kretek”. Aksi tersebut diduga dilakukan karena meniru kebiasaan yang pernah dilihat, tanpa memahami risiko medis jika dilakukan bukan oleh tenaga ahli.

Akibat kejadian itu, Ade mengeluhkan nyeri pada bagian leher disertai rasa pusing. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan adanya gangguan saraf. Dokter menyatakan kondisi korban hanya mengalami peradangan dan telah diberikan penanganan berupa obat.

Kepala SDN Jayamukti, Kasim, S.Pd., bergerak cepat merespons kejadian tersebut. Ia bahkan telah bersiap mengantar orang tua korban bersama keluarga Malik untuk mendapatkan penanganan medis di rumah sakit di wilayah Kabupaten Karawang. Dalam kesempatan itu, pihak sekolah juga mengajak awak media Warta In Jabar untuk melihat langsung kondisi korban, sebagai bentuk transparansi.

Dari hasil penelusuran dan kunjungan langsung ke rumah korban, dapat dipastikan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan tindakan perundungan (bullying), melainkan murni tindakan spontan tanpa unsur kesengajaan untuk menyakiti.

Pihak sekolah mengimbau agar seluruh siswa lebih berhati-hati dalam bercanda, terutama terkait tindakan fisik yang berpotensi membahayakan. Edukasi kepada siswa terkait keselamatan dan batasan dalam berinteraksi juga akan terus ditingkatkan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Berita Terkait