Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Pemilik PT Simarmata Wendeilyna Ulos Kagumi Ulos Sibolang Yang Dipakai Keturunan alm Rugun Naibaho

Samosir, warta.in – Sekitar pukul setengah lima sore Minggu/12-7-2026, jenasah Rugun Naibaho Opung Aditya Sitanggang boru tiba di kediaman keluarga di Huta Tiga Urat Desa Pardugul Kecamatan Pangururan Kab Samosir. Anak cucu mantu juga ikut. Acara adat Batak sudah dilaksanakan di Rumah Duka di Jakarta. Ibadah tutup peti diadakan di Gereja GKPI Buhit yang dipimpin oleh Sekjen GKPI. Para pelayat yang hadir berasal dari berbagai daerah yang tidak bisa mengikuti acara adat di Jakarta, antara lain tulang rorobot Simbolon dari Tebing Tinggi, simatua boru dari Medan dan tentu saja keluarga besar Naibaho dan Sitanggang yang ada di Samosir. Setelah selesai ibadah tutup peti, jenasah Rugun Naibaho, istri dari alm Jan Peter Sitanggang dimasukkan ke tambak/tugu keluarga. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari Jakarta menuju Samosir, juga rangkaian acara adat di Jakarta, kemudian acara pemakaman Rugun Naibaho Opung Aditya Sitanggang boru ini tetap diikuti dengan tenang, kompak, tabah, tegar oleh anak anak, mantu mantu, cucu cucu nya. Tampil sederhana sengan atasan putih yang diselempangkan Ulos Sibolang memberi makna indahnya ulos Batak itu yang dipakai pada saat acara yang tepat.                                                                                   Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW) pemilik PT Simarmata Wendeilyna Ulos di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Dusun 3 Alngit Kec Pangururan Kab Samosir, mengapresiasi pemakaian Ulos Sibolang tersebut, serasi, indah.                              Walau dalam suasana duka tetap terlihat modis.                                  Ulos Sibolang sihalis halis, mangkokohi adat dohot uhum. Na lurus dipalurus, na bengkok dipatikkos.                                                          *Sejarah & makna Ulos Sibolang*

Ulos Sibolang adalah salah satu jenis ulos Batak Toba yang paling tua dan paling sering dipakai karena fungsinya fleksibel. Ini ringkasnya:

1. *Asal-usul nama & ciri khas*
– Nama “Sibolang” berarti _berwarna-warni_ atau _belang_.
– Ciri utamanya: warna dasar biru tua atau hitam dengan motif mata panah. Motif panah melambangkan ketegasan dan perlindungan.
– Dibuat secara tradisional oleh perajin di kawasan Tapanuli dan Samosir pakai alat tenun bukan mesin/ gedogan. Butuh ketelitian tinggi untuk hasilkan pola geometris rapi.

2. *Fungsi dulu vs sekarang*
– *Zaman dulu*: Ulos Sibolang dipakai untuk acara duka maupun suka cita. Bisa jadi selendang, sarung, atau tanda penghormatan.
– *Zaman sekarang*: Lebih dikenal sebagai simbol dukacita. Dipakai sebagai:
1. *Ulos Saput* – untuk menutupi jenazah orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu.
2. *Ulos Tujung* – untuk janda/duda yang ditinggal mati pasangannya.
Kalau dipakai saat berduka, artinya pemakainya adalah keluarga dekat yang meninggal.
– Meski begitu, versi warna putihnya masih dipakai di upacara pernikahan. Orang tua pengantin perempuan _mangulosi_ ayah pengantin pria untuk _mabolang-bolangi_ = menghormatinya. Filosofi*
– Secara umum, ulos berarti “selimut”. Nenek moyang Batak di dataran tinggi pakai ulos untuk menghangatkan tubuh dari dingin. Jadi ulos = kehangatan, baik fisik maupun kehangatan keluarga.
– Warna pada ulos punya makna ritual. Hitam pada Ulos Sibolang melambangkan keterbatasan manusia memahami kebijaksanaan Tuhan.
– Motif mata panah = simbol ketegasan, perlindungan, dan penghargaan atas jasa seseorang dalam adat.

4. *Sejarah singkat ulos secara umum*
– Ulos sudah ada sejak ±4.000 tahun lalu, jauh sebelum bangsa Eropa kenal tekstil.
– Awalnya pakaian sehari-hari, lalu jadi benda sakral dalam upacara adat: lahir, nikah, hingga meninggal.
– Setiap motif, warna, dan cara pemberian punya aturan lewat ritual _Mangulosi_

Bisa lihat langsung proses tenun Ulos Sibolang di desa-desa pengrajin seki7tar Toba Samosir seperti Desa Papande di Pulau Sibolang, Desa Meat, atau Lumban Suhi Suhi Toruan (red)

Berita Terkait