Jakarta, warta.in – Komunitas BEPers Indonesia (KBI) terus mengembangkan inovasi di bidang wellness dan kesehatan preventif melalui program “500 Rumah Sehat hingga akhir 2025” yang kini didukung 411 pelatih di berbagai daerah. Program tersebut menjadi bagian dari gerakan kesehatan berbasis komunitas yang dijalankan bersama Indonesia Health Tourism Society (IHTS) dan sejumlah rumah sakit.
Ketua Umum KBI, , menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengajak keluarga pasien di rumah sakit tetap aktif dan sehat selama mendampingi anggota keluarga yang menjalani perawatan.
“Penjaga pasien biasanya hanya menunggu dan kurang bergerak. Kami ingin mengajak mereka ikut senam agar tetap sehat dan tidak ikut sakit karena stres atau kelelahan,” ujar Adi Sasitiwarih.
Menurutnya, KBI tengah menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Premier Bintaro untuk menghadirkan aktivitas wellness bagi keluarga pasien maupun pasien yang sedang menjalani masa pemulihan.
Program tersebut menggunakan metode “Energy Power” atau BEP (Bio Energy Power), yakni yoga berbasis medis yang dapat mengoptimalkan kesehatan secara Holiistic.
Adi menjelaskan, metode tersebut telah diteliti secara medis sejak awal tahun 2000-an oleh para dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, khususnya untuk pasien gangguan jiwa dengan tingkat stres ringan hingga sedang.
“Hasil penelitian menunjukkan tingkat stres pasien dapat turun dari 20 persen menjadi 5 persen. Mereka menjadi lebih rileks, lebih tenang, dan kualitas tidurnya membaik,” katanya.
Selain fokus pada kesehatan mental, KBI kini juga memperluas penelitian terhadap manfaat BEP untuk kesehatan paru-paru. Penelitian tersebut dilakukan bersama group dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan melibatkan dokter spesialis paru, Doktor Telly Kamelia.
Adi menyebutkan bahwa penelitian mengenai pengaruh BEP terhadap kesehatan paru bahkan mendapat dukungan pendanaan dari FKUI.
Tidak hanya bergerak sebagai komunitas olahraga, KBI juga memiliki Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) serta Lembaga Keilmuan dan Riset (LKR) untuk mendukung pengembangan metode dan riset kesehatan berbasis gerakan napas.
Dalam implementasinya, gerakan dalam BEP dirancang fleksibel sehingga dapat dilakukan berbagai kelompok usia, termasuk lansia dan individu dengan keterbatasan fisik. Peserta dapat memilih posisi duduk, bersila, maupun berdiri sesuai kemampuan masing-masing.
“Yang paling penting adalah teknik pernapasannya benar. Dengan napas yang baik, tubuh akan mendapatkan asupan energi yang besar,” jelasnya.
Adi yang mengaku telah lama menjadi praktisi yoga sejak muda menilai metode BEP menjadi alternatif olahraga yang sederhana, murah, dan efisien.
“Kalau orang hanya punya waktu lima sampai sepuluh menit tetapi ingin tetap bugar, cobalah BEP. Ini lebih cepat, mudah, dan terjangkau,” ujarnya.
KBI sendiri merupakan organisasi nirlaba yang berdiri pada 17 Juli 2017 di Jakarta dengan fokus pada pengembangan senam napas dan olah gerak berbasis Bio Energy Power untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Selama hampir sembilan tahun berjalan, KBI telah aktif dalam berbagai kegiatan nasional, termasuk Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) V Samarinda 2018 hingga Sarasehan dan Rakernas 2024 di Masjid Agung Sunda Kelapa.
















