Refleksi Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah: Langkah Hijrah Menuju Perbaikan Sejati
Oleh. Muhammad Wahid,S.Pd.I.,Gr.,M.Pd
Ketua Umum DPP LSM ASLI
LAMONGAN// Warta. In – Tanggal 1 Muharram 1448 Hijriyah bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan, melainkan lembaran baru yang sarat makna, pelajaran sejarah, dan panggilan suci untuk berubah. Momen ini mengingatkan kita kembali pada peristiwa agung Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah — sebuah perjalanan yang bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari keadaan yang lemah, tertekan, dan terbelah menuju keadaan yang kuat, berdaulat, dan beradab. Bagi umat Islam di seluruh dunia, hari ini adalah titik tolak untuk merenung, mengevaluasi diri, dan menyusun tekad baru agar menjadi pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang lebih baik, lebih bermartabat, dan lebih diberkahi Allah SWT.
Hijrah: Inti Makna Tahun Baru Islam
Hijrah adalah jiwa dari kalender Hijriyah. Jika kita menengok ke belakang, Hijrah Nabi dan para sahabat dilakukan bukan karena keinginan semata, melainkan sebagai langkah strategis penyelamatan iman, penyebaran ajaran kebenaran, dan pembangunan peradaban yang berlandaskan wahyu Ilahi. Di tengah tekanan, ancaman, dan kesulitan, mereka berani bergerak, berubah, dan meninggalkan segala sesuatu demi ridha Allah.
Makna ini tetap relevan dan hidup hingga tahun 1448 H ini. Hijrah tidak lagi berarti berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi berpindah dari sifat buruk ke sifat baik, dari ketidaktahuan ke ilmu pengetahuan, dari perpecahan ke persatuan, dan dari kemunduran ke kemajuan. Tahun Baru Islam adalah peringatan bahwa seorang muslim tidak boleh diam di tempat, tidak boleh puas dengan keadaan yang kurang baik, dan wajib terus berbenah sepanjang hayatnya. Kalender Hijriyah mengajarkan kita: perubahan adalah sunnatullah, dan perbaikan adalah kewajiban orang beriman.ujar Ketua DPP LSM Asli pada Senin (16/06/2026)
Merenungi Kaledioskop Dunia Islam
Saat kita melihat peta dunia Islam di awal tahun 1448 H ini, kita melihat gambaran yang indah namun sekaligus penuh tantangan — persis seperti kaledioskop yang menampilkan warna dan bentuk yang beragam. Lebih dari 1,9 miliar umat Islam tersebar di berbagai penjuru bumi, dengan beragam suku, budaya, bahasa, dan tradisi, namun bersatu dalam syahadat yang sama. Keberagaman ini adalah rahmat Allah, bukti kebesaran-Nya, dan kekayaan peradaban yang luar biasa.
Namun, di balik keindahan itu, kita juga menyaksikan realitas yang memanggil kepedulian kita:
– Di satu sisi, kita melihat kemajuan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan seni; semangat kebangkitan kembali tumbuh di banyak tempat.
– Di sisi lain, kita masih melihat saudara-saudara kita yang berjuang di tengah konflik, ketimpangan ekonomi, kebodohan, serta kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama yang kadang memicu perpecahan. Ada juga tantangan globalisasi yang menggerus nilai-nilai moral dan akhlak, serta lunturnya rasa persaudaraan antar sesama manusia.
Refleksi kita hari ini adalah: Dunia Islam adalah satu tubuh besar. Jika satu bagiannya merasa sakit atau kesusahan, maka seluruh tubuh akan merasakannya pula. Di tahun 1448 H ini, mari kita jadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan alasan perdebatan. Mari kita perkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Kita sadar bahwa kemajuan dunia Islam tidak bisa diraih sendiri-sendiri, melainkan harus melalui kerja sama, saling menguatkan, dan saling melengkapi dalam bingkai nilai keislaman.
Memperbaiki Diri Sendiri: Awal Segala Perubahan
Perubahan besar dimulai dari perubahan kecil, dan perubahan paling hakiki adalah perubahan dalam diri sendiri. Tidak mungkin kita mengubah dunia, keluarga, atau negara, jika kita belum mampu mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik. Inilah refleksi paling mendasar di 1 Muharram 1448 H: “Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya sendiri? Dan apa yang akan saya ubah di tahun yang baru ini?”
Memperbaiki diri mencakup seluruh aspek kehidupan kita:
1. Perbaikan Hubungan dengan Allah SWT: Apakah ibadah kita selama ini hanya sekadar gerakan fisik, atau sudah diiringi kehadiran hati dan kesadaran penuh? Di tahun baru ini, mari kita tingkatkan kualitas shalat, perbanyak zikir, bacaan Al-Qur’an, dan menjadikan seluruh hidup kita patuh pada syariat-Nya. Kita berhijrah dari ibadah yang asal jadi menjadi ibadah yang penuh keikhlasan dan ketakwaan.
2. Perbaikan Akhlak dan Perilaku: Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Di 1448 H ini, mari kita tinggalkan sifat sombong, dengki, iri hati, berbohong, kasar, dan suka menyakiti orang lain. Mari kita tanamkan sifat jujur, sabar, pemaaf, rendah hati, dan saling menyayangi. Ingatlah, sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.
3. Perbaikan Ilmu dan Potensi Diri: Islam sangat memuliakan ilmu. Mari kita bertekad untuk terus belajar, menambah wawasan, dan mengembangkan bakat yang Allah berikan. Umat Islam yang maju adalah umat yang cerdas, berilmu, dan produktif. Jangan biarkan diri kita tertinggal oleh zaman, namun tetaplah berpegang teguh pada nilai agama di tengah kemajuan dunia.
Setiap kesalahan dan kekurangan di tahun-tahun yang lalu adalah pelajaran, bukan alasan untuk berhenti. Di lembaran putih tahun 1448 H ini, tulislah kisah diri yang lebih indah, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah.
Memperbaiki Keluarga: Pondasi Peradaban yang Kuat
Setelah diri sendiri, lingkungan terdekat dan paling penting yang menjadi tanggung jawab kita adalah keluarga. Keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi setiap manusia. Keluarga yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik; keluarga yang rusak akan melahirkan kerusakan di masyarakat luas.
Di zaman sekarang, keluarga menghadapi tantangan berat: kesibukan orang tua yang melupakan peran mendidik, pengaruh teknologi yang menjauhkan anggota keluarga, masuknya budaya asing yang bertentangan dengan nilai agama, hingga lunturnya rasa hormat dan kasih sayang antar anggota keluarga.
Refleksi kita di awal tahun baru ini adalah: Bagaimana keadaan keluarga saya? Apakah rumah saya menjadi tempat yang damai, penuh kasih sayang, dan didasari nilai agama?
Memperbaiki keluarga berarti mengembalikan peran dan tanggung jawab masing-masing:
– Bagi suami/ayah: menjadi pemimpin yang bijaksana, pelindung, penafkah, dan pendidik yang teladan.
– Bagi istri/ibu: menjadi pendamping setia, pengelola rumah tangga yang baik, serta pendidik utama karakter anak-anak.
– Bagi anak-anak: berbakti, menghormati orang tua, belajar dengan rajin, dan menjadi anak yang membanggakan.
Mari kita wujudkan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah — keluarga yang tenang, penuh kasih sayang, dan rahmat Allah senantiasa turun di dalamnya. Mulailah dengan hal sederhana: perbanyak komunikasi, kurangi pertengkaran, jadikan rumah tempat beribadah dan belajar, serta tanamkan nilai agama sejak dini pada anak-anak. Ingatlah, masa depan peradaban Islam ada di tangan anak-anak yang kita didik hari ini.
Memperbaiki Masyarakat: Menjalin Persaudaraan dan Keadilan
Dari keluarga yang kokoh, kita membangun masyarakat yang kokoh pula. Masyarakat dalam pandangan Islam adalah wadah di mana manusia hidup berdampingan, saling membutuhkan, saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Nabi Muhammad SAW di Madinah telah memberikan teladan nyata bagaimana membangun masyarakat madani yang damai, adil, dan beradab.
Namun, realitas di sekitar kita masih banyak yang perlu diperbaiki: masih ada ketidakadilan, kesenjangan sosial, sikap acuh tak acuh terhadap tetangga, penyebaran berita bohong, permusuhan antar kelompok, hingga kerusakan lingkungan.
Di tahun 1448 H ini, mari kita bertekad memperbaiki masyarakat dengan langkah nyata:
– Hilangkan prasangka buruk, fitnah, dan permusuhan.
– Perkuat rasa persaudaraan: sapa tetangga, bantu mereka yang miskin, sakit, atau kesusahan.
– Tegakkan kebenaran dan keadilan, serta cegah kemungkaran dengan cara yang bijaksana.
– Jaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan lingkungan tempat kita tinggal.
Ingatlah sabda Nabi SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Jangan menunggu orang lain berubah, mulailah dari diri sendiri dan ajak orang di sekitar kita untuk berbuat kebaikan. Masyarakat yang maju dan sejahtera tercipta ketika setiap anggotanya sadar akan tanggung jawabnya terhadap sesama.
Memperbaiki Negara: Wujud Cinta Tanah Air
Lingkaran terluas dari tanggung jawab kita adalah bangsa dan negara. Bagi kita warga Indonesia, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Negara adalah rumah besar tempat kita dan keluarga kita tinggal, tumbuh, dan berkembang. Maka, memajukan, menjaga, dan memperbaiki negara adalah kewajiban setiap warga negara yang beriman.
Indonesia adalah negara yang indah, kaya sumber daya alam, dan diberkahi dengan keberagaman yang luar biasa. Namun, negara kita juga menghadapi tantangan: kemiskinan, pengangguran, korupsi, ketimpangan pembangunan, ancaman perpecahan, dan persaingan global yang ketat.
Refleksi kita di awal tahun 1448 H ini: Apa sumbangsih saya untuk negara ini?
Memperbaiki negara bukan hanya tugas pemerintah atau pemimpin, melainkan tugas kita semua:
– Kita berhijrah dari budaya malas, korup, dan menjadi budaya kerja keras, jujur, bersih, dan taat hukum.
– Kita menjaga persatuan dan kesatuan, tidak menyebarkan isu yang memecah belah, dan menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika.
– Kita berkontribusi melalui profesi masing-masing: petani yang bekerja baik memberi makan bangsa, guru yang mendidik melahirkan generasi cerdas, pengusaha yang jujur membangun ekonomi, dan pemuda yang berprestasi membawa nama harum negara.
– Kita selalu mendoakan agar negara ini senantiasa damai, aman, makmur, dan diberkahi Allah SWT.
Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas memiliki tanggung jawab besar menjadi kekuatan moral dan penggerak kemajuan bangsa. Mari kita jadikan Indonesia negara yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga maju secara akhlak, beradab, dan penuh keadilan.
Penutup: Semangat Hijrah Abadi
1 Muharram 1448 Hijriyah telah kita sambut dengan hati yang bersih dan tekad yang baru. Sejarah Hijrah mengajarkan kita bahwa tidak ada perubahan besar tanpa keberanian bergerak, tidak ada kemajuan tanpa perbaikan diri, dan tidak ada kejayaan tanpa persatuan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui refleksi ini, mari kita kunci tekad kita:
Di tahun 1448 H, saya akan menjadi pribadi yang lebih baik, membangun keluarga yang lebih bahagia, berkontribusi lebih besar bagi masyarakat, dan berjuang memajukan negara tercinta demi ridha Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, petunjuk, dan keberkahan dalam setiap langkah hijrah kita. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berubah menjadi lebih baik, bermanfaat bagi sesama, dan selamat di dunia maupun di akhirat.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah. Mari Berhijrah, Memperbaiki, dan Membangun!(**)































