Wartain Banten | Pemerintahan | 12 Maret 2026 — Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah memaparkan berbagai strategi penguatan ketahanan pangan daerah saat menyambut peserta Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXIX tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin (9/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Wagub menegaskan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kebijakan pangan nasional.
Dimyati menjelaskan bahwa wilayah Provinsi Banten terbagi menjadi dua karakter utama, yakni wilayah utara dan selatan. Wilayah utara meliputi kawasan Tangerang Raya yang didominasi sektor industri, sementara wilayah selatan yang mencakup Kabupaten Pandeglang, Lebak, dan Serang lebih berkembang pada sektor pertanian dan perkebunan.

Menurutnya, perkembangan kawasan industri di wilayah utara berlangsung cukup pesat. Sementara itu, wilayah selatan memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional, bahkan menempati posisi kedelapan dalam kontribusi produksi pangan nasional.
Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 Provinsi Banten mengalami lonjakan signifikan dalam produksi padi. Produksi meningkat sebesar 14,41 persen, dari 1,55 juta ton menjadi 1,77 juta ton. Peningkatan tersebut juga didukung oleh perluasan lahan pertanian dari 299.000 hektare menjadi 349.288 hektare.
“Hal itu sesuai dengan tema SSDN P4N LXIX tahun 2026 ini yakni kebijakan pangan nasional, menuju ketahanan pangan dan kesejahteraan Indonesia,” katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan swasembada padi, Pemprov Banten telah menerapkan sejumlah kebijakan strategis. Di antaranya optimalisasi jaringan irigasi, pemberian bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani, serta percepatan masa tanam.
Selain itu, Dimyati juga menyoroti kekuatan fiskal daerah yang dinilai menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
“Kemudian secara kekuatan finansial APBD, Banten menjadi peringkat pertama secara nasional dengan kemandirian fiskalnya mencapai 80 persen. Artinya, untuk menunjang berbagai pembangunan yang dilakukan, sebagian besar tertumpu pada PAD,” katanya.
Pemprov Banten juga mengembangkan komoditas pangan selain padi, salah satunya jagung. Untuk mendorong swasembada jagung, Pemprov Banten berkolaborasi dengan Polda Banten. Pada 2025, realisasi luas tanam jagung mencapai 2.498,5 hektare atau 99,94 persen dari target 2.500 hektare yang ditetapkan Mabes Polri, dengan total produksi mencapai 2.997,1 ton.
“Di tahun 2026 ini, Polda Banten menargetkan perluasan lahan tanam jagung seluas 3.775,42 hektare dengan total yang sudah ditanam pada kuartal I mencapai 406,27 hektare,” kata Kapolda Banten Irjen Hengki menambahkan.

Wakil Gubernur Lemhanas Laksamana Madya TNI Edwin menyampaikan bahwa P4N merupakan program pemantapan calon pemimpin tingkat nasional yang menjunjung moralitas, etika, serta memiliki pola pikir strategis dalam menghadapi persoalan nasional, regional, dan global.
Program ini diikuti 54 peserta yang terdiri dari 25 TNI, 14 Polri, 12 ASN, serta 3 peserta non-ASN dan negara sahabat. Banten dipilih sebagai wilayah kunjungan strategis bagi Kelompok A untuk meningkatkan kemampuan analisis terhadap berbagai permasalahan daerah.(WartainBanten)































