Wartain Banten | Pemerintahan | 13 Februari 2026 — Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Teguh Aris Munandar, mengapresiasi kinerja Gubernur Banten Andra Soni dalam setahun masa kepemimpinannya. Ia menilai sejumlah program yang dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten tepat sasaran dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Menurut Teguh, terdapat pergeseran paradigma pembangunan di Banten pada 2025. Jika sebelumnya pembangunan dinilai lebih berbasis anggaran, kini Pemprov Banten dinilai lebih fokus pada pembangunan berbasis kebutuhan.
“Kami melihat ada pergeseran paradigma. Pemprov Banten tahun ini lebih fokus pada pembangunan berbasis kebutuhan, bukan sekadar pembangunan berbasis anggaran. Contohnya adalah program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra) dan Sekolah Gratis yang mulai menunjukkan hasil pada kenaikan angka pertumbuhan pembangunan di Provinsi Banten,” kata akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tersebut pada Jumat (13/2/2026).
Ia mencontohkan Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra) dan Sekolah Gratis sebagai kebijakan yang mulai menunjukkan hasil nyata. Program tersebut dinilai berdampak pada meningkatnya indikator pembangunan daerah.
Berdasarkan data yang disampaikan, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Provinsi Banten sepanjang 2025 mencapai 5,37 persen. Selain itu, angka kemiskinan dan tingkat pengangguran juga disebut mengalami penurunan.
Program Bang Andra, lanjutnya, menjadi salah satu kebijakan strategis yang berdampak langsung pada sektor krusial masyarakat, terutama infrastruktur desa. Program ini tidak hanya membangun jalan, tetapi juga membuka akses ekonomi dan pelayanan dasar.
“Dengan jalan yang layak, hasil bumi seperti kelapa, pisang, padi, sayur-sayuran dan ikan dari Banten selatan dapat sampai ke pasar dalam kondisi segar dengan harga kompetitif, yang secara otomatis meningkatkan ekonomi desa,” ujarnya.
Gubernur Andra Soni dinilai berhasil berinovasi lewat kebijakan sekolah gratis yang juga menyasar 801 SMA, SMK, dan SKh swasta, tidak hanya sekolah negeri.
Program ini menjangkau sekitar 60.705 siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri dan membantu meringankan beban biaya pendidikan keluarga kurang mampu.
“Dampaknya adalah mengurangi beban finansial keluarga kurang mampu yang terpaksa masuk swasta karena kuota negeri yang terbatas,” kata Teguh menjelaskan
Meski demikian, keberhasilan tersebut diingatkan harus diiringi pengawasan ketat dan transparansi agar berkelanjutan.
Tahun pertama menjadi bukti komitmen, sementara tahun kedua menjadi ujian konsistensi agar manfaat program terus dirasakan masyarakat.(WartainBanten)































