Kalau mau tahu salah satu revolusi rakyat, bacalah Wasripin dan Satinah novel Kuntowijoyo (2003). Wasripin contoh sejati seorang rakyat melawan kemungkaran di masyarakatnya, dan sekaligus menegakkan kebaikan secara otentik. Apakah dia makar?
Wasripin anak orang miskin. Pada usia 9-10 tahun, dia dibawa seorang emak (yang kemudian menjadi orang tua angkat) ke Jakarta. Mereka hidup pada sebuah kampung kumuh yang padat. Pada usia remaja, tenaga Wasripin dikomersialkan emaknya untuk melayani perempuan dewasa di lingkungannya.
Pada suatu hari, Wasripin melihat ayam, atau kambing, atau anjing kawin secara bebas. Wasripin merenung, hidupnya lebih kurang sama dengan binatang-binatang itu. Walaupun selama tenaganya dipakai oleh emak-emak, dia dijamin hidupnya dengan makan yang enak-enak dan bergizi, Wasripin memutuskan bertobat dan kembali ke kampung.
Dia mendarat pada sebuah kampung di utara Jawa Tengah, katakanlah masyarakat pantai. Hari pertama sesampai Wasripin di kampung itu, ia tertidur lama pada suatu masjid kecil, mungkin hampir tiga hari. Dalam tidur berpuluh jam itulah, tubuh, jiwa, ruh Wasripin mengalami revolusi radikal. Ia bahkan sempat bermimpi (yang tidak pernah diceritakannya) bahwa ia bertemu Nabi Khidir.
Setelah bangun, ia merasa tubuh dan jiwanya nyaman sekaligus tenang. Wasripin heran, banyak yang bisa diketahuinya tentang apa dan siapa orang-orang yang ditemuinya. Ada seorang yang menurut Wasripin sakit, dia pijit-pijit dan sembuh. Wasripin seperti bisa melihat kejadian di masa depan yang tidak bisa dia ceritakan.
Pelan-pelan, Wasripin dikenal sebagai “orang pandai”, semacam dukun. Dia juga bisa bernegosiasi dengan makhluk-makhluk yang tidak tampak. Wasripin sangat sedikit bicara, tapi omongannya manjur dan benar. Setiap dia menolong orang, dia tidak minta upah, tidak menerima upah.
Pernah suatu hari, Satinah memaksanya menerima uang karena Satinah tahu Wasripin tidak punya uang, dan Satinah tahu Wasripin membutuhkan, tapi uang itu dikembalikan dengan cara yang Satinah tidak tahu. Wasripin merasa hidupnya tidak membutuhkan uang. Entah bagaimana, hidupnya seperti sudah ada yang menjamin.
Karena Wasripin mulai dikenal, beberapa partai politik mulai mendekatinya untuk dijadikan agen partai politik meraup suara. Wasripin tidak mau. Karena Wasripin tidak mau, dia mulai difitnah sebagai pembangkang. Aparat pemerintah daerah, militer, dan kepolisian dikompori untuk menempatkan Wasripin sebagai makar.
Wasripin mulai diintimidasi secara verbal dan fisik oleh aparat. Ia ditangkap dan diinterogasi. Masyarakat demonstrasi membela Wasripin karena mereka tahu Wasripin orang yang bersih. Hal menarik adalah bagaimana persepsi dan sikap Wasripin berhadapan dengan kekuasaan. Dalam posisi inilah, kita bisa menyimpulkan bahwa Wasripin adalah representasi rakyat dalam definisinya yang asli.
Tidak ada informasi apakah Wasripin punya KTP atau tidak. Tapi, hidup seorang Wasripin tidak membutuhkan KTP karena dia adalah manusia yang tidak menempatkan dirinya secara administrasi untuk hanya bisa bekerja. Dia memang pernah menjadi satpam pada sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di lingkungannya. Tapi, dia menjadi satpam karena diminta, bukan melalui prosuder formal.
Ketika Wasripin harus berhadapan dengan aparat kekuasaan (untuk ukuran setingkat kecamatan dan kabupaten), tidak ada yang ditakutinya. Dia tidak takut bahwa dia bisa saja mendapat kekerasan, dia tidak takut bahwa dia bisa saja dihilangkan atau dimatikan. Tidak ada yang ditakuti Wasripin karena memang sebagai manusia, tidak ada yang dipunyainya sehingga dia tidak akan kehilangan apapun.
Dan lagi, ketika Wasripin berhadapan dengan aparat yang berkuasa, bukan dia ingin mengambil posisi kekuasaan. Tapi, lebih-lebih karena Wasripin ingin menjelaskan bahwa semua hal yang dituduhkan kepada dirinya sebagai makar itu tidak benar. Karena Wasripin memang tidak tahu bagaimana ekonomi bekerja, tidak tahu bagaimana politik menjadi penting untuk mencari nafkah.
Wasripin hanya mengalir dalam hidupnya. Dia tidak pernah berpikir tentang hidup harus bekerja dan menerima upah. Dia tidak pernah berpikir ingin menjadi apa. Wasripin tidak punya motif. Dalam posisi itu, dia menjadi penting karena sebagai “orang sakti” semua orang membutuhkan energi positifnya.
Tapi, Wasripin ingin tetap menjadi rakyat apa adanya. Karena dia memang tidak tahu apa-apa, kekerasan politik akhirnya berlaku jahat padanya. Dia dihilangkan.
Tidak penting apakah kemudian Wasripin memang kalah. Kalau toh Wasripin akhirnya mati (dalam novel tidak diinformasikan), tapi yang jelas orang seperti Wasripin akan mati masuk sorga. Tindakan radikalnya adalah, pertobatan. Mari kita bandingkan dengan orang-orang yang belakangan ini dituduh berbuat makar. (Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM).






















