Kadiman Pakpahan si Mr Dreamer : INDONESIA EMAS atau CEMAS ?

indonesia enas atau cenas

0
481

Samosir, Pertanyaan, apakah Indonesia akan   menjadi “emas” atau “cemas” pada tahun 2045 bergantung pada bagaimana Indonesia mengelola peluang bonus demografi yang sedang berlangsung.

Berikut adalah perbandingan antara visi ideal (Emas) dan tantangan nyata (Cemas):

1.Visi Indonesia Emas 2045, pemerintah melalui Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju yang sejajar dengan negara adidaya pada usia satu abad negeri ini.

a.Target ekonomi, PDB mencapai 9,1 triliun dolar AS dengan pendapatan per kapita sekitar Rp370 juta hingga Rp480 juta per tahun.

b.Bonus demografi, sebanyak 70% penduduk berada pada usia produktif yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi.

c.Pilar utama, penguatan sumber daya manusia (SDM), pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan wilayah, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

2.Realitas Indonesia Cemas, istilah “Indonesia Cemas” muncul dari kekhawatiran masyarakat dan para pemerhati mengenai tantangan yang dapat menggagalkan visi tersebut.

a.Kualitas SDM, isu stunting, rendahnya tingkat literasi, rendahnya kuaitas karakter, dan kualitas pendidikan  yang tidak merata menjadi hambatan besar dalam menciptakan tenaga kerja yang kompetitif.

b.Tantangan lapangan kerja, tingginya angka pengangguran, kurang kompetitifnya angkatan kerja (kecemasan utama jika sampai mutu angkatan kerja hanya siap menjadi tukang sapu) dan kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada riset serta beasiswa pendidikan memicu kekhawatiran akan terjadinya “bencana demografi”.

c.Kesehatan mental,  generasi muda, terutama Gen Z, sering dikaitkan dengan istilah “generasi cemas” karena tekanan ekonomi, tuntutan kenyamanan kerja, dan ketidakpastian masa depan.

  1. Isu tata kelola, korupsi yang masih terjadi, tantangan penegakan hukum, dan masalah keadilan sosial dianggap dapat menghambat kemajuan suatu bangsa dan negara.

Kesimpulannya, Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang melimpah (berpotensi menjadi kutukan sumberdaya) dan sumber daya manusia yang besar untuk mencapai status negara maju.

Namun, tanpa pembenahan serius pada kualitas pendidikan, kesehatan, pembangunan karakter dan penyediaan lapangan kerja, visi “emas” tersebut berisiko hanya menjadi wacana dan berubah menjadi “cemas” (red)