*KETIMPANGAN YANG MEMILUKAN: BEBAN PENUH WAKTU, NILAI PARUH WAKTU*
Warta.in – Sebuah ironi yang sangat menyedihkan dan menjadi cermin kelam dari dunia pendidikan di tanah air kembali terkuak ke permukaan. Di tengah gemuruh pembangunan dan janji-janji kemajuan, terdapat sekelompok pahlawan tanpa tanda jasa yang justru diperlakukan layaknya sosok yang terlupakan. Mereka adalah para pendidik yang setiap hari mengabdikan seluruh pikiran, tenaga, dan waktu demi mencerdaskan generasi penerus bangsa, namun penghargaan yang mereka terima sungguh jauh dari kata layak.
“Potret Buram Dunia Pendidikan!!: Guru Paruh Waktu di Garut Bernilai Lebih Rendah dari Anggaran Perjalanan Dinas.” Demikian tajamnya sorotan yang dikutip dari media Garut 60 Detik.
Bayangkanlah, dengan segala tanggung jawab profesi yang membebani pundak mereka, bekerja dari pagi hingga petang, bahkan seringkali harus membawa pekerjaan ke rumah, seorang guru hanya dinilai dan dihargai dengan nominal yang sangat minim, tak lebih dari satu juta rupiah per bulan. Angka yang sungguh tidak sebanding dengan dedikasi dan pengorbanan yang diberikan, serta tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar di tengah tingginya biaya kehidupan saat ini.
Kontras sekali dengan kenyataan pahit yang dirasakan oleh para guru tersebut, di sisi lain masih terlihat begitu jelas bagaimana anggaran negara untuk kepentingan birokrasi, khususnya pada pos perjalanan dinas para pejabat, masih tercatat dengan angka yang sangat fantastis dan melangit. Ketimpangan yang sangat mencolok ini menimbulkan pertanyaan besar di benak publik: Di manakah letak keadilan? Dan seberapa besar sebenarnya prioritas negara terhadap dunia pendidikan serta nasib para pendidiknya?
Suara kepedihan itu kini tak lagi bisa dibendung. Ibu Een, salah satu perwakilan dari ribuan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Garut, akhirnya angkat bicara dan menyuarakan isi hati yang terdalam. Dengan nada suara yang bergetar menahan haru dan kekecewaan, ia melontarkan pertanyaan yang menyayat hati.
“Sakit sekali hati kami… harus berteriak apa lagi agar kami dimanusiakan?”
Ungkapan tersebut bukan sekadar keluhan biasa, melainkan teriakan jiwa dari sekumpulan insan pengabdi yang merasa hak-hak mereka terabaikan. Mereka menuntut penghargaan yang pantas, kesejahteraan yang pasti, dan pengakuan yang layak sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka bekerja dengan sistem waktu penuh, namun menerima penghasilan layaknya pekerja paruh waktu. Ini adalah ketidakadilan yang harus segera diakhiri.
Masyarakat luas dan seluruh insan pendidikan kini menatap dengan penuh harap agar perubahan nyata benar-benar terwujud. Jangan sampai kesabaran yang sudah setipis kulit bawang ini akhirnya habis terkikis, sebelum keadilan benar-benar hadir di hadapan mereka. Harapan besar tertuju pada tahun 2026, agar menjadi titik balik di mana nasib para guru diperhatikan, kesejahteraan mereka ditingkatkan, dan profesi mulia ini kembali dihargai sebagaimana mestinya.
Pendidikan adalah tulang punggung bangsa, namun bagaimana mungkin tulang punggung itu bisa berdiri tegak jika yang memeliharanya sendiri hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian? Sudah saatnya anggaran diprioritaskan untuk memakmurkan para pendidik, bukan sekadar untuk membiayai kesenangan dan gaya hidup birokrasi semata.
#GuruGarutMenggugat
#PPPKParuhWaktu
#KeadilanUntukGuru
#Garut60Detik
#PendidikanBukanPlesiran
(TIM/Red)





























