*Terapi dan Sunnatullah yang Diturunkan Tuhan dari Langit untuk Menjawab Jalan Buntu Negeri Kita*
Warta.in — Menurut pemikiran yang disampaikan oleh pengamat sosial dan filsuf, Rocky Gerung, diskusi sejatinya dapat disamakan dengan sebuah pertengkaran yang tetap menjunjung tinggi dan mematuhi kaidah akal sehat. Artinya, setiap percakapan atau pertukaran pendapat yang tidak dilandasi oleh akal sehat hanyalah sekadar pertengkaran biasa yang bertujuan semata-mata untuk memenangkan argumen yang tidak memiliki dasar yang kuat dan sehat. Oleh karena itu, baik dalam diskusi maupun dalam perbedaan pendapat yang tampak seperti pertengkaran, landasan akal sehat harus senantiasa dijadikan pegangan utama.
Makna akal sehat dalam konteks ini mencakup kesediaan yang tulus untuk mendengarkan, memahami, dan menerima pendapat serta argumen yang disampaikan oleh orang lain. Namun demikian, kenyataan yang kerap kita jumpai dalam berbagai forum dan ruang pertemuan, baik yang bersifat resmi maupun tidak, memperlihatkan kecenderungan yang sebaliknya. Seringkali, kegiatan yang seharusnya menjadi sarana bertukar pikiran itu justru dijadikan ajang untuk membuktikan kebenaran diri sendiri atau sekadar berusaha memenangkan pembicaraan, tanpa berusaha mempertimbangkan pandangan yang berbeda.
Pertengkaran atau perbedaan pendapat yang berlandaskan akal sehat tidak hanya ditandai dengan kemampuan menyampaikan pendapat yang masuk akal dan logis, tetapi juga ditunjukkan dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk menerima pandangan orang lain. Hal ini baru dapat terwujud apabila setiap pihak yang terlibat memiliki kesadaran dan pemahaman yang mendalam akan pentingnya mendengarkan terlebih dahulu sebelum menyampaikan tanggapan atau pendapat sendiri.
Sayangnya, kondisi yang terjadi di lapangan justru memperlihatkan sifat yang berkebalikan. Hampir di setiap forum diskusi, masih banyak pihak yang sulit untuk mendengarkan pendapat atau argumen yang disampaikan oleh orang lain. Akibatnya, ketika lawan bicaranya sedang menyampaikan gagasan, mereka tetap asyik dengan pemikiran sendiri, bahkan ada pula yang bersikap tidak sopan dengan meninggalkan tempat pertemuan begitu saja. Sikap semacam ini muncul karena mereka merasa sudah cukup puas setelah melontarkan seluruh pendapat yang selama ini terpendam dalam benak mereka, yang kerap kali menjadi beban pikiran dan tekanan psikologis yang hanya dapat dilepaskan dengan cara menyampaikannya di hadapan khalayak luas.
Yang lebih disayangkan lagi, banyak di antara mereka yang bersikap demikian justru mengira bahwa mereka telah berperan aktif dalam membangun suasana diskusi yang sehat. Anggapan ini muncul hanya karena mereka merasa telah berhasil menyampaikan segala pendapat yang menurut diri mereka adalah hal yang paling benar.
Padahal, suasana diskusi atau perbedaan pendapat yang sehat dan beradab itulah yang sesungguhnya ingin dibangun dan diperjuangkan oleh Rocky Gerung melalui berbagai ruang publik yang ia ikuti dan bangun. Kita menyadari bahwa ruang publik saat ini semakin kacau dan kehilangan arah, salah satunya disebabkan oleh adanya sikap yang berusaha memonopoli kebenaran hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok. Sikap ini muncul sebagai dampak dari kegagalan dan kekalahan sistem birokrasi yang kerap kali bersikap menutup diri, tidak mau menerima kritik, serta enggan melakukan perbaikan yang diperlukan.
Semangat yang ditunjukkan oleh Rocky Gerung dalam menyebarkan pemikiran dan wawasan berlandaskan filsafat ke berbagai daerah di Tanah Air sesungguhnya merupakan perwujudan dari panggilan hati nurani seorang pemikir yang memiliki tanggung jawab moral yang tinggi. Ia merasa memiliki tugas untuk membangkitkan dan memprovokasi cara berpikir masyarakat agar menjadi lebih logis, masuk akal, serta menyegarkan kembali pola pikir yang telah terbatas dan tertekan akibat berbagai tantangan dan tekanan perkembangan zaman yang tidak sanggup diimbangi dengan pemikiran yang sehat dan jernih.
Kerusakan yang melanda berbagai bidang kehidupan dan sistem tata kelola negara serta bangsa yang kita cintai ini, yang kini telah terjerumus jauh ke dalam arus paham materialisme, kapitalisme, dan liberalisme yang tidak memiliki arah dan dasar yang jelas, ternyata tidak hanya menimbulkan perilaku korupsi di mana-mana. Lebih dari itu, kondisi ini juga menjadi wujud pengkhianatan, bukan hanya terhadap amanat konstitusi yang telah disepakati bersama dan diikrarkan sejak hari kemerdekaan kita diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi juga merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap Pancasila yang telah disepakati sebagai dasar filsafat kehidupan berbangsa dan bernegara, serta sebagai pedoman utama dalam berkehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks keadaan yang demikianlah, kehadiran Forum Negarawan yang digagas dan dipelopori oleh sejumlah tokoh bangsa yang dihormati dan diakui kredibilitasnya, menjadi sangat relevan dan memiliki makna yang mendalam. Forum ini hadir untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh banyak pihak yang saat ini lebih sibuk memperebutkan pengaruh, berebut jabatan dan kekuasaan, serta mengejar kekayaan yang telah dijadikan tujuan utama bahkan seolah-olah dipuja-puja layaknya sesembahan. Oleh karena itu, kehadiran sosok pemikir seperti Rocky Gerung terasa begitu istimewa dan menarik perhatian banyak kalangan.
Jika kita renungkan lebih dalam, kemunculan dan perjuangan yang ia lakukan sesungguhnya merupakan bagian dari sunnatullah, yakni ketetapan dan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa yang hadir untuk menjawab segala bentuk ketimpangan, ketidakadilan, dan kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, termasuk kerusakan yang terjadi pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang kini sudah berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Boleh jadi, kehadiran sosok yang tampak berani menyampaikan kebenaran dan menyuarakan hal yang tertutupi, seolah-olah berusaha membangunkan kesadaran yang telah lama terlelap, merupakan sebuah bentuk terapi yang diberikan Tuhan kepada bangsa ini. Bahkan, dapat dikatakan bahwa hal ini adalah bagian dari sunnatullah yang diturunkan dari langit, yang hadir untuk membuka tabir kesesatan, menguak segala permasalahan yang tersembunyi, serta membersihkan jalan yang selama ini buntu dan tidak memiliki arah yang jelas. Langkah-langkah perbaikan seperti ini sangatlah diperlukan, sebab jika tidak segera dilakukan secara nyata dan bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, maka kekhawatiran akan semakin memburuknya keadaan negeri ini akan terus menghantui kita semua. (TIM/Redaksi)
(Banten,Jacob Ereste)































