
Silang Pendapat Hasil Lab PU & Teknis Lapangan Proyek Rp2 Miliar Cisaat: Pegiat Konstruksi dan Warga Soroti Mutu Beton K-175
SUKABUMI — Hasil pengujian laboratorium Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi terkait proyek fasilitas publik senilai Rp2 Miliar di Kecamatan Cisaat menuai gelombang tanggapan kritis dari para praktisi teknis dan pegiat media sosial. Hasil pengujian yang disandingkan dengan kondisi riil di lapangan dinilai menyimpan risiko struktur serius, terutama pada pengecoran tiang utama dan penggunaan material bata hebel.
1. Analisis Kritis & Risiko Fatal Mutu Beton K-175 dengan Slump 15 cm
Komentar dan tanggapan dari Euis Lisnawati mengenai kombinasi mutu K-175 dan keenceran adukan 15 cm menyoroti beberapa poin kunci:
-
Adukan Terlalu Encer (Melanggar Standar Ideal SNI):
Berdasarkan Standar SNI A.4.1.1.5, adukan beton manual K-175 yang ideal memiliki nilai slump 12±2 cm (rentang 10 cm hingga 14 cm). Angka 15 cm membuktikan bahwa adukan tersebut kelebihan air. Pada mutu semen rendah seperti K-175, penambahan air yang berlebihan akan menurunkan kekuatan tekan (compressive strength) secara drastis saat mengering.
-
Bahaya Mutu K-175 pada Tiang / Kolom Utama:
Mutu K-175 masuk dalam klasifikasi Beton Kelas I (Non-Struktural) yang umumnya hanya dipergunakan untuk lantai kerja (lean concrete), jalan gang, atau dinding pagar. Menggunakan mutu K-175 pada tiang vertikal penahan beban utama—terlebih dengan adukan encer 15 cm—sangat berisiko membuat struktur bangunan menjadi rapuh. Untuk kolom struktur pembawa beban utama, standar teknis minimal yang aman adalah K-225 atau K-250.
-
Risiko Pemisahan Material (Segregasi) & Keropos Kaki Tiang:
Adukan K-175 cair yang dituangkan ke bekisting tiang vertikal akan mengalami segregasi (pemisahan agregat kasar dan air semen). Hal ini menjawab munculnya cacat honeycomb (sarang tawon) dan bekas tambalan semen manual di bagian dasar tiang setelah cetakan dibuka.
2. Catatan Evaluasi Visual di Field / Lapangan
-
Kaki Tiang Beton (Column Base) & Keropos Struktur:
Adanya tambalan adukan manual berwarna gelap menandakan bagian bawah tiang mengalami bocor air semen (bleeding) atau kurang padat. Menambal bagian luar saja tanpa metode grouting injection khusus tidak memulihkan kekuatan struktur dasar tiang.
-
Penyangga Bekisting Kurang Aman:
Kayu penyangga (strut) bertumpu langsung di atas tanah urukan tidak rata tanpa papan landasan (sole plate), berisiko ambles dan menyebabkan posisi tiang menjadi miring saat menahan beban beton basah.
-
Besi Stek Kolom Terbuka & Kebersihan Sambungan (Cold Joint):
Besi tulangan di bagian atas tiang yang dibiarkan terbuka tanpa penutup (rebar cap) rawan mengalami korosi/karat akibat hujan dan panas. Karat ini merusak daya rekat (bonding) beton baru serta meningkatkan risiko retak dalam. Kebersihan dasar tiang dari sisa kayu dan tanah juga mutlak diperlukan untuk mencegah terbentuknya cold joint (sekat lemah rawan patah gempa).
3. Suara Warga & Peran Pengawasan Inspektorat
Terkait penggunaan anggaran bernilai Rp2 Miliar dan penggunaan material dinding bata hebel di Kecamatan Cisaat, warga mengharapkan kualitas hasil pekerjaan benar-benar tahan lama dan sesuai dengan spesifikasi teknis (spek).
“Mun cek carita bohongna perjalanan hiji Proyek teh acan Dipotong MC terus biaya 10 persen ejeng sajabana. Mungkin ayeuna waktuna meren giliran para pelaksana memperlihatkan kemahirannya…”
— Warga Cisaat (Identitas Dilindungi)


